
Rizal menutup rapat pintu ruang kerjanya. Dengan cepat langkahnya bergerak ke sebuah lemari besar yang menempel di dinding, menarik beberapa buku yang ada di sana. Jika dilihat sekilas, tidak akan ada yang janggal dari lemari tersebut, tapi jika melihat dengan seksama maka akan terlihat garisan terpisah di lemari kayu tersebut.
Rizal menggeser pelan pembatas tersebut hingga terbukalah dan terlihat sebuah kotak kecil rahasia yang sudah sangat lama Rizal sembunyikan dari semua orang.
"Aku sangat merindukanmu." Tiga kata terucap setelah tangan itu menggenggam beberapa lembar foto pernikahan yang merupakan dirinya dengan wanita yang berasal dari masa lalunya.
Wanita itu adalah Irene. Wanita yang menjadi cinta pertamanya, wanita yang paling sabar menghadapinya, wanita terbaik dan wanita yang telah dia sakiti hatinya.
Teringat jelas dibenak Rizal saat pertama kali Irene memberikan kode jika dia sudah tahu tentang pengkhianatan Rizal, tetapi masih memberi kesempatan pada Rizal, namun sayangnya Rizal sama sekali tidak peka pada isyarat yang telah Irene berikan.
"Mas, menurutmu kenapa seseorang bisa berselingkuh?" tanya Irene yang tengah bersandar di dekapan Rizal.
"Kenapa bertanya seperti itu?" ucap Rizal balik bertanya.
"Menurutku semua itu bisa terjadi karena banyak penyebab. Misalnya, kurangnya komunikasi, kurangnya intensitas hubungan intim, bisa jadi karena ekonomi dan ketidakpuasan pasangan. Namun, dari semua itu menurutku yang paling sering terjadi karena tidak bisa menjaga mata, hati, terutama kepercayaan. Jika bisa menjaga hati hanya untuk satu cinta, maka tidak akan ada cinta lainnya. Jika bisa menjaga kepercayaan dari pasangan maka tidak akan pernah ada yang namanya pengkhianatan." Tubuh Rizal menjadi kaku, jantungnya seakan ditusuk jarum saat mendengar ucapan Irene.
"Mas, kamu dengar apa yang aku katakan?" Irene mengusap lembut wajah Rizal.
__ADS_1
"Ya, aku dengar. Kenapa kamu berbicara sepeti itu?" tanya Rizal berusaha tenang.
"Tidak apa-apa. Aku hanya takut semua itu terjadi pada kita. Aku merasa tidak ada kekurangan pada diriku, jika ada yang kurang dariku, tolong katakan padaku agar aku bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Tolong jangan pernah mengkhianatiku," ucap Irene lagi kembali bersandar dalam dekapan Rizal yang hanya diam menganggukkan kepalanya.
Rizal meneteskan air matanya saat kenangan itu terlintas dibenaknya. Perlahan tubuh itu merosot jatuh ke lantai dan bersandar pada lemari besar tersebut.
"Aku sangat merindukanmu, sayang. Aku menyesal, aku sangat menyesal. Maafkan aku," ucapnya menangis memeluk foto yang ada di tangannya.
Sudah sangat lama peristiwa itu terjadi, tapi tak sedikitpun Rizal dapat melupakan kesalahan yang telah dia perbuat meski terkadang Rizal berusaha bersikap seolah tak bersalah, tapi tetap saja rasa bersalah itu semakin menyakitinya terlebih setelah Vani hadir dalam hidup putranya.
Jika saja peristiwa itu tidak pernah terjadi, maka putranya tidak akan merasakan sakit seperti yang sekarang dirasakannya. Semua yang terjadi membuat Rizal benar-benar semakin menyalahkan dirinya atas semua kesalahannya di masa lalu.
***
Senyum yang cerah dari Aura dan kedua orang tuanya terlihat saat menyambut kedatangan pasangan pengantin baru yang baru pulang dari bulan madu.
"Aku kira kalian tidak akan pulang lagi saking nyamannya menghabiskan waktu berdua," sindir Aura saat mereka semua sudah berada di ruang keluarga di kediaman Juna dan Vani.
__ADS_1
Wajah Vani merona mendengar ucapan adik iparnya tersebut, tapi tidak dengan Juna.
"Kalian benar-benar kejar target sepertinya," ucap Aura lagi cekikikan.
"Ha? Target? Maksudnya?" tanya Vani bingung.
Aura menahan tawa mendengar pertanyaan Vani, membuat Vani seketika mengerti arti perkataannya. "Ya ampun, tidak seperti itu," ucapnya malu.
"Lebih bagus jika seperti itu, itu artinya mama akan segera menimang cucu," sahut Ajeng membuat wajah Vani semakin merona karenanya.
"Kalian tenang saja, kami akan berusaha keras agar keinginan kalian segera terwujud," ucap Juna menggenggam tangan Vani sembari tersenyum padanya.
Vani merasa bahagia mendengar harapan keluarga barunya itu, tetapi tak Vani pungkiri jika perasaan takut juga hadir. Vani takut jika dia akan mengecewakan semua orang. Bagaimana jika dia mandul? Bagaimana jika dia sulit mendapat keturunan?
Pertanyaan-pertanyaan itu hadir di benaknya setiap kali melihat harapan suami dan keluarga suaminya yang begitu menggebu mengharapkan kehamilannya.
"Ma, bagaimana jika aku–"
__ADS_1
"Tidak baik berkat seperti itu. Mama yakin semuanya baik-baik saja dan kalian akan segera mendapat keturunan," ucap Ajeng memotong kalimat yang tidak ingin didengarnya dari Vani.
Semoga saja, Ma. Aku takut mengecewakan kalian semua. Batin Vani.