Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Kita Lihat Besok


__ADS_3

Tiba di apartemen Vani yang baru saja akan membuka pintu apartemennya, mengurungkan sejenak niatnya dan kembali memutar tubuhnya menatap Juna yang berdiri di belakangnya.


"Aku ingin tanya," ucapnya.


Juna mengangguk, sebagai tanggapan jika dia menginzinkan Vani bertanya.


"Kenapa kamu tinggal di sini?" tanya Vani mempertanyakan sesuatu yang harusnya tidak perlu Vani tanyakan sebab siapa pun pasti sudah bisa menebak alasan Juna tinggal di sana.


Pria itu tersenyum sambil mengangkat tanganya menuju kepala Vani, lalu mengusap lembut di sana. "Karena wanita ini," jawabnya.


Wajah cantik Vani seketika merona mendapat jawaban Arjuna. "Pergilah! Selamat malam!" Vani yang malu, ingin bergegas masuk ke dalam apartemennya, tapi Arjuna menahannya. Arjuna menarik pelan lengan Vani lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku akan merindukanmu," ucap pria itu membuat Vani bingung.


Masih dalam pelukan Arjuna, Vani menyangkat kepalanya menatap Arjuna yang juga menatapnya, wajah pria itu bergerak mendekat, lalu mendaratkan satu kecupan di dahinya. "Istirahatlah!" Arjuna melepaskan pelukannya, lalu membukakan pintu apartemen Vani, sesaat kemudian, Vani masuk ke dalam apartemennya.


Vani menyentuh kepalanya yang baru saja dikucup oleh Arjuna. Perasaan hangat yang didapatkan Vani dari Arjuna entah mengapa terasa lebih tulus dibanding perlakuan hangat yang didapatkannya dari Johan dulu.


Setelah Vani memberikan lampu hijau untuk Arjuna, Vani merasa ada sesuatu yang beda. Bukan karena Vani sudah satu langkah lebih dekat menjadi milik Arjuna, tapi bersyukur karena telah melewati satu tahap untuk menjadi wanita seutuhnya.


Rasa syukur tak henti-hentinya Vani ucapkan dalam hati, rasanya Vani begitu lega dan menjadi wanita paling bahagia hari ini. Meskipun Arjuna sudah membuatnya terkejut, salah tingkah, dan kebingungan dengan lamarannya yang tiba-tiba. Namun semua perkakuan Arjuna benar-benar mampu membuat Vani merasa bahagia.

__ADS_1


Aku berharap aku tidak melakukan kesalahan. Aku juga berharap jika Arjuna adalah jodoh yang memang Tuhan kirimkan untukku. Dan juga, aku berharap apa yang aku rasakan padanya juga tulus, bukan semata karena ingin memanfaatkannya. Vani membatin dalam hati.


.


***


Vani yang merasa bahagia, tak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada kedua sahabatnya. Vani bergegas membuka ponselnya dan mengetik pesan di grub chat yang hanya berisikam mereka bertiga.


"Aku punya kabar gembira. Mau dengar?" ucap Vani dalam pesan yang di tulisnya.


Lima menit tak mendapat balasan dari kedua temannya, Vani memutuskan untuk mengganti pakaian, mencuci muka dan hal lainnya sebelum tidur.


"Astaga!" Sepuluh menit kemudian, Vani yang beru keluar dari kamar mandi, terkejut saat melihat kedua sahabatnya sudah berada di dalam kamarnya "Kapan kalian datang?" tanyanya


Vani tersenyum. "Dia melamarku!" jawab Vani cepat yang sontak membuat Karisma dan Esi sedikit terkejut.


"Dia melamarmu?" Ulang Esi memastikan pendengarannya, mendapat anggukan kepala dari Vani. Esi dengan cepat memeluk Vani dengan perasaan bahagia.


"Aku turut bahagia, aku sungguh bahagia mendengrnya. Dan aku semakin menyukai tuan tampan itu, aku mendukung penuh tuan Arjunamu. Benar-benar Pria idaman, Gentleman, sempurna!" Puji Esi bahagia.

__ADS_1


"Van, apa jawabanmu?" Karina bertanya.


"Aku katakan padanya, jika dia serius maka temuilah keluargaku," jawab Vani.


"Lalu apa katanya?" tanya Esi berdiri dengan mata berbinar menatap Vani. "Dia hanya mengangguk dan bilang secepatnya akan menemui keluargaku. Oh ya, dia juga cerita jika dia pernah bertemu keluargaku," jawab Vani menjelaskan sedikit apa yang dia dengan dari Arjuna.


"Aku benar-benar senang mendengarnya, Van. Selamat!" Karina yang sudah yakin jika semua yang Juna lakukan tulua pada Vani ikut merasa bahagia. Temannya itu akhirnya dapat menemukan pria yang jauh lebih baik dari Johan.


Vani dan kedua sahabatnya terus saja saling bercerita, kedua sahabatnya itu memutuskan bermalam di sana. Ketiganya saat ini sudah berbaring di atas ranjang Vani yang berukuran cukup besar.


"Jika tante dan om menerima lamarannya. Apa kalian akan segera menikah?" tanya Karina.


"Aku berharap kalian segera menikah!" sahut Esi.


"Entahlah. Kita lihat saja nanti. Aku juga tidak tahu apakah dia akan benar-benar melamarku atau tidak, jujur saja tadi aku mengatakan itu juga ingin melihat keseriusannya. Jika dia serius padaku, dia benar-benar melamarku dan mungkin kami akan segera menikah," jawab Vani.


"Aku yakin dia akan melamarmu!" Esi berpendapat.


"Aku juga. Dia pasti melamarmu!" Karina setuju dengan Esi.

__ADS_1


"Kita lihat besok," jawab Vani menutup pembicaraan mereka.


***


__ADS_2