
Vani sudah tiba di kantor Juna dengan menenteng kotak bekal ditangan kanannya serta tas jinjing di tangan kirinya.
Semua karyawan yang tentu saja sudah mengenal sosok Vani, sebab sebelumnya Vani pernah ke sana. Semua karyawan selalu menunduk hormat dan menyapa Vani saat mereka berpapasan, yang dibalas Vani dengan senyuman.
"Siang Nyonya," sapa Dika menyambut kedatangan Vani yang sudah tiba didepannya.
"Kak, sudah aku katakan jangan panggil nyonya. Itu membuatku tak nyaman," ucap Vani protes. Jika saja Dika bukan teman dekat suaminya, mungkin Vani akan membiarkan Dika memanggilnya Ibu atau pun Nyonya. Namun, kedekatan Dika dan suaminya membuat Vani jelas merasa tak nyaman.
"Baiklah, maaf." Dika tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mas Juna, ada, Kak?" tanya Vani, ramah.
"Ada di dalam. Langsung masuk saja," jawab Dika.
"Baiklah, terima kasih. Ini untuk Kak Dika," ucap Vani, memberikan satu kotak bekal pada Dika yang memang Vani minta art menyiapkannya.
"Terima kasih, Van. Kebetulan sebentar lagi waktu istirahat," ucap Dika menerima bekal dari Vani, yang dijawab anggukan oleh Vani.
Vani berlalu pergi dari hadapan Dika menuju ruangan suaminya berada.
"Masuk!" Setelah Vani mengetuk pintu, suara bariton dari dalam terdengar indah di telinga Vani yang tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Siang, Mas!" Vani masuk kedalam ruangan Juna dan melihat suaminya yang sedang sibuk menatap layar datar dihadapannya.
Juna yang sangat mengenal suara tersebut, mengalihkan fokusnya menatap Vani yang masih tersenyum menatapnya. Dengan cepat Juna beranjak dari duduknya lalu menghampiri Istri tercintanya.
"Waalaikumsalam, sayang! Kamu datang disaat yang tepat!" ucap Juna mengecup sekilas bibir Vani.
"Kenapa?"
"Pekerjaan yang begitu banyak membuatku pusing, dan kamu adalah penawarnya!" ucap Juna, mengambil kotak bekal dan tas yang ada ditangan Vani, kemudian meletakkannya diatas meja, setelah itu membawa Vani masuk dalam pelukannya.
"Mas, menjauh dariku!" ucap Vani melepaskan pelukan Juna, membuat Juna bingung dengan sikapnya.
"Ada apa?"
"Bau tubuhku?" tanya Juna bingung, yang dijawab anggukan oleh Vani.
"Ada apa denganku?" Juna mencoba menghirup bau tubuhnya sendiri, yang menurutnya tidak ada masalah, lalu kenapa Vani tiba-tiba mempermasalahkan aroma tubuhnya. Pikir Juna.
"Kalau begitu aku mandi dulu, kamu tunggu dikamar ya!" ucap Juna, masuk kedalam kamar yang ada diruang kerjanya dikuti oleh Vani.
Awalnya tidak ada kamar diruang kerja Juna, namun menjelang hari pernikahannya. Juna sengaja merombak ruangannya dan meminta para ahlinya untuk membuatkan kamar didalam ruangan nya, kamar yang minimalis namun tentu saja tetap terlihat mewah serta dapat memberikan kenyamanan untuk istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Juna setelah beberapa menit kemudian keluar dari kamar mandi.
Vani mencoba mendekat dan menghirup wangi tubuh suaminya, namun tetap saja aroma tubuh Juna membuatnya mual dan dengan cepat berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Juna begitu panik ingin mendekati Vani, namun tangan Vani dengan cepat mengisyaratkan agar Juna tidak mendekatinya.
"Mas, bersihkan kembali tubuhmu, tanpa menggunakan sabun yang biasa kamu gunakan. Aku benar-benar tidak menyukai aromanya!" ucap Vani, meninggalkan Juna setelah mendorongnya ke kamar mandi. Juna masih terheran-heran dengan sikapnya.
"Semoga kali ini tidak ada masalah dengan aroma tubuhku!" gumam Juna, mengulang kembali mandi dengan menggunakan perlengkapan mandi istrinya yang memang sudah tersedia di sana.
Lima menit kemudian.
"Apa masih bau?" tanya Juna kembali mendekati Vani.
"Tidak," jawab Vani memeluk Juna yang masih belum mengenakan pakaiannya.
Juna kembali merasa heran, namun juga merasa senang saat Vani yang memulai duluan memeluk dirinya, ditambah lagi dengan tubuh bagian atas Juna yang masih polos tidak tertutup benang membuatnya dapat merasakan langsung hangatnya pelukan istrinya.
Hal yang sangat langkah menurut Jun dimana istrinya bersikap manja seperi saat ini, untuk itu Juna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dimana dapat melihat dan merasakan Vani bermanja-manja padanya. Juna dengan cepat menggiring Vani ke arah tempat tidur sembari perlahan menempelkan bibir mereka, bibir yang bergerak lincah satu sama lain.
Juna lagi-lagi kembali dibuat terkejut, dengan istrinya yang terlihat begitu semangat membalas gerakan bibir dan lidahnya. Perlahan tapi pasti, tubuh keduanya sudah terbaring diatas tempat tidur dengan pakaian Vani yang sudah berserakan di lantai.
__ADS_1
Sentuhan yang berawal hanya dari kecupan itu, terus berlanjut hingga akhirnya mereka menunaikan kewajiban mereka sebagai suami istri ditengah teriknya matahari diluar sana yang membuat suasana panas menjadi semakin panas.