
Tiba di rumah kedu krang tua Johan, manda dan Johan sudah ditunggu oleh kedua anak mereka yang beberapa hari belakangan sedikit terabaikan. Manda langsung memeluk Arsen setelah itu menggendong Neisha saat mereka tiba di rumah. "Maafkan Mama sayang karena mengabaikan kalian," ucap Manda lembut mengecup sayang wajah Neisha yang hanya menanggapi dengan tersenyum geli akibat ulah Manda yang terus menciumnya.
"Urusan Mama sudah selesai?" tanya Arsenio.
Manda menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Arsen. "Ya, semua sudah selesai."
"Apa kita akan kembali ke rumah? Aku terlalu sering izin sekolah," ucap Arsenio lagi.
"Ya, tentu saja kita akan kembali ke rumah." Jawaban Amanda membuat semua tatapan tertuju padanya. Pasalnya mereka bukankah mereka berencana untuk menggelar pesta pernikahan mereka dengan meriah di Jakarta, lalu kenapa sekarang Amanda berkata akan pulang.
"Ma, Pa. Aku berubah pikiran," ucap Manda membuat Johan dan kedua orang tuanya seketika panik mendengarnya.
"Nda, apa maksudmu?" tanya Johan terlihat jelas jika dia gelisah dan cemas mendengar ucapan Manda.
Manda menurunkan Neisha meminta Arsenio mengajak Neisha bermain agar kedua anak mereka tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Aku merasa ini bukan saat yang tepat untuk mengadakan pesta, disaat mas Alan baru saja meninggal," ucap Manda menjelaskan maksudnya.
"Tapi kamu tidak berubah pikiran un–"
"Tentu saja tidak. Kita sudah menjadi suami istri tanpa harus menikah ulang. Bukankah kita hanya perlu mengurus beberapa keperluan agar pernikahan kita sah di mata hukum?" tanya Amanda memotong kalimat Johan.
__ADS_1
"Apa yang Manda katakan ada benarnya, Jo. Kalian bisa mengadakan pesta kapan pun, yang terpenting pernikahan kalian sah di mata hukum dan agama terlebih dulu," sahut Rizal yang jelas mengerti maksud dari menantunya itu.
"Kamu setuju, Jo?" tanya Manda lagi menatap Johan yang tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Apa pun itu asalkan tetap bersamamu. Aku bisa memberitahu dunia jika kamu istriku tanpa harus lewat pesta meriah," jawab Johan menggenggam sebelah tangan Manda, lalu menciumnya.
"Baiklah, mama mendukung apa pun keputusan kalian. Kapan kalian akan pulang?" tanya Renata.
"Besok atau mungkin lusa, Ma. Benar kata Arsenio, dia sudah terlalu sering libur karena aku," jawab Manda.
***
Sebagian orang sudah meninggalkan area pemakaman, hanya tinggal Rui kedua orang tuanya dan kedua orang tua Alan serta beberapa orang lainnya yang ada di sana.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Aku mencintaimu, ada aku yang siap menggantikan dia. Ada aku di sini yang setia mencintaimu, kenapa kamu lebih memilih pergi?" ucap Rui terus menangis memeluk nisan Alan.
Kedua orang tua Rui yang tak tahan melihat putri kesayangan mereka bersedih lebih lama lagi, segera membawa Rui pulang dan kembali ke Singapura. Alan sudah meninggal dan tak ada gunanya lagi putri mereka berada di Indonesia, itu semua juga mereka lakukan agar Rui bisa segera melupakan Alan dan melanjutkan hidupnya.
Setelah berpamitan dengan keluarga Alan, mereka segera meninggalkan area pemakaman. Sekarang tinggallah kedua orang tua Alan dan beberapa tetangga serta kerabat mereka.
"Bagaimana mama bisa hidup tanpamu, Alan? Kenapa kamu begitu tega meninggalkan Mama. Kenapa kamu lebih memilih pergi daripada melampiaskan semua amarahmu pada Mama. Mama tidak mengapa jika kamu marah, jika kamu membenci Mama, tapi tidak dengan meninggalkan mama seperti ini. Mama tidak bisa hidup tanpa kamu, nak. Tolong jangan tinggalkan Mama, tolong kembali lah," ucap ibu Alan menatap lemah pada bongkahan tanah yang sudah menjadi tempat peristirahatan putranya.
__ADS_1
"Mama akan meminta maaf pada Manda, Mama akan membawanya kembali padamu, tapi kamu harus janji kamu akan kembali pada Mama. Ayo bangun! Mama mohon, Alan! Mama mohon!"
"Ayo bangun!" ucapnya lagi mulai kembali tak bisa menerima kenyataan jika Alan telah meninggal. Ayah Alan yang melihat istrinya mulai menggali kembali tanah kuburan Alan dengan tangannya bergegas menghentikan tingkah istrinya yang dia pikir akan kembali berulah seperti sebelumnya.
"Pa, kenapa kalian mengubur putraku? Alan masih hidup!" teriaknya.
"Ma, ayo pulang! Kamu perlu istirahat," ucap ayah Alan mencoba membujuk istrinya.
"Kamu benar. Ayo pulang! Aku harus memasak makan malam untuk Alan, aku akan memasak makanan kesukaannya." Tangis ibu Alan seketika menghilang, wanita itu justru lebih bersemangat meninggalkan area pemakaman membuat ayah Alan yang melihatnya justru meneteskan air mata.
"Maafkan kesalahan kami, Tuhan," ucapnya dalam hati.
Beberapa orang yang ada di sana mulai saling melirik saat melihat tingkah Ibu Alan kembali seperti tadi saat di rumah.
Kecewa pada diri sendiri, rasa bersalah dan penyesalan setelah kehilangan putranya membuat kondisi mental ibu Alan mulai terganggu.
"Itulah akibatnya jika sering berbohong. Dia begitu jahat pada menantunya bahkan tega mengarang kematian putranya yang akhirnya ucapannya menjadi kenyataan. Kejadian ini persis seperti cerita-cerita azab di televisi, benar bukan?" ucap seorang wanita berbisik pada wanita yang ada disebelahnya yang mengangguk setuju menanggapi tingkah ibu Alan.
***
Untuk kisah Alan dan keluarganya cukup sampai sini ya kak. Tinggal anu2 tentang kehidupan Johan dan Manda, setelah itu end.
__ADS_1