Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Pergi Dengan Tenang


__ADS_3

"Maafkan kami Tuan, Nyonya. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, namun takdir berkata lain. Pasien sudah meninggal dunia."


Renata seketika jatuh terduduk di lantai saat mendengar ucapan dokter. Semua yang ia takutkan menjadi kenyataan, semua yang menjadi kecemasannya sekarang benar-benar terjadi, membuat Renata diselimuti dengan duka yang mendalam. Setiap kalimat yang diucapkan Amelia padanya selama ini terus saja terlintas dan terdengar di telinganya, setiap kalimat yang menyimpan banyak kesedihan didalamnya.


"Apa maksud anda berkata seperti itu?" tanya Johan dari jauh dengan cepat menghampiri dokter dan mencengkram kerah bajunya.


"Jo, tenangkan dirimu!" tegur Rizal mencoba menghentikan Johan.


"Bagaimana aku bisa tenang saat dia mengatakan pasien meninggal, Pah? bagaimana aku bisa tenang?" ucap Johan bertanya dengan nada tinggi.


"Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya, namun kondisi ibu yang buruk membuat kita kehilangan ibu bayi, tapi bayi anda selamat," ujar dokter mencoba menjelaskan selembut mungkin. Mungkin menyampaikan kabar duka adalah hal yang paling dihindari oleh pihak rumah sakit, namun mau tidak mau mereka tetap harus mengatakannya meskipun sudah reaksi seperti inilah yang akan mereka dapatkan dari keluarga pasien.


Dokter kembali menjelaskan semua hal yang menyebabkan Amelia menginggal, Dokter menjelaskan secara rinci semua yang sudah terjadi.


Johan yang mendengar hal tersebut tak dapat menahan laju air matanya untuk keluar membasahi wajahnya. Sama seperti Renata, Johan juga kembali terbayang dengan hari-hari terakhirnya bersama Amelia.


"Kamu berjanji akan membesarkan anak kita bersama-sama, Mel. Kamu tidak menepati janjimu!" lirih Johan menepuk dadanya yang terasa begitu sesak.

__ADS_1


"Mah, Pah. Anakku kehilangan ibunya bahkan di hari pertama ia lahir ke dunia ini! Kenapa Amelia begitu tega?" ucap Johan menatap dengan penuh luka serta kesedihan mendalam pada kedua orang tuanya.


"Tuan, Nyonya. Kami ingin menyampaikan pesan terakhir yang diucapkan pasien sebelum pergi," ucap Dokter lagi, mengundang perhatian Johan dan kedua orang tuanya.


"Sebelum meninggal, si ibu sempat sadar. Ia memeluk bayinya dan tersenyum sembari mengatakan, "Aku bahagia menjadi seorang Ibu, terima kasih Tuhan," kata sang Dokter menyeka air matanya yang turut menetes saat mengingat ucapan Amelia.


Pasien juga mengatakan, "Tolong katakan pada suamiku, aku mencintainya. Aku juga bahagia menjadi putri dari mertuaku. Tolong berikan cinta terbaik mereka hanya untuk putraku," sambung Dokter tersebut, membuat Renata yang turut mendengar semakin terisak menangis.


Johan berlari menerobos masuk kedalam ruangan dimana Amelia berada. Menatap pilu pada wanita yang sudah terbaring kaku dengan wajah pucatnya, namun dengan terlihat tersenyum yang menghiasi wajahnya.


Perasaan sedih begitu dirasakan Johan menatap sosok wanita yang pernah menjadi pemilik hatinya tersebut, wanita yang pernah ia sakiti dan wanita tersebutlah yang sudah memberikan dan memperjuangkan hidupnya untuk melahirkan anaknya.


"Kamu lebih memilih pergi daripada hidup bersama kami, apa sebegitu besarnya luka yang aku berikan hingga kamu lebih memilih pergi? Maafkan aku, Mel, maafkan aku bahkan disaat terakhirmu aku belum bisa memberikan kebahagiaan padamu."


Renat dan Rizal yang menyaksikan hal tersebut juga tidak dapat menahan air mata mereka, sosok Amelua yang sudah jauh berubah tentu saja sudah berhasil masuk kedalam hati mereka. Rasa sayang itu muncul dengan sendiri melihat bagaimana Amelia berusaha berubah menjadi lebih baik lagi.


"Mah, lihatlah. Dia bahkan tersenyum mah, dia bahagia meninggalkan aku dan anak kami! Dia bahagia meninggalkan kami Mah, Pah!" lirih Johan dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Johan, ikhlaskan Amelua. Ini sudah waktunya ia kembali, Tuhan lebih menyayanginya hingga Tuhan memilih untuk kembali membawa Amelia pulang ke sisinya," ucap Rizal menepuk pelan pundak putranya.


Renata menyeret langkahnya untuk menghampiri jazad wanita yang disayanginya, wanita yang sudah menerobos masuk dalam hatinya.


"Amelia, kamu sudah bahagia Nak? Kamu salah satu wanita hebat yang pernah mama kenal, kamu berhasil melahirkan anakmu dalam keadaan selamat dan sempurna. Kamu wanita yang hebat, Nak! Mama bangga menjadi bagian dari hidupmu, tidurlah dengan tenang, Mel. Mama akan menepati janji dan permintaanmu, mama akan menjaga putramu dengan baik. Tidurlah dengan tenang putriku, mama menyayangimu." ucap Renata begitu lembut pada jazad Amelua, mengecup lama keningnya sebelum berlari keluar dari sana karena tak sanggup menatap lebih lama wanita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri.


Renata masih mengingat jelas bagaimana Amelia datang meminta maaf dan meminta untuk menjadi putrinya, semua kenangannya pada Amelia membuat Renata tak sanggup untuk lebih lama berada disana.


Setelah Renata keluar dari ruangan tersebut, Rizal juga menghampiri jazad Amelia. Tersenyum menatap Amelia sebelum akhirnya turut memberikan kecupan sayang di dahi Amelia, wanita yang juga sempat meminta untuk menjadi putrinya.


"Kami menyayangimu, Nak. Beristirahatlah dengan tenang, insya Allah surga menantimu. Sampai bertemu kembali, putri Papa," ucap Rizal, sebelum keluar dari sana menyusul istrinya, meninggalkan Johan yang masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir menatap Amelia.


"Amelia, aku belum mengatakan jika aku mulai menyayangimu. Aku belum mengatakan semua itu karena aku ragu dengan perasaanku sendiri, tapi hari ini aku benar-benar yakin jika semua itu benar. Aku menyayangimu. Aku tulus menyayangimu. Aku tahu kamu berat mengatakan ingin meninggalkan kami, karena itu aku memintamu untuk merawatnya bersama. Aku tidak ingin mengatakan kalimat lain karena takut membuatmu berharap saat aku sendiri belum yakin pada diriku. Kenapa kamu pergi? Bukankah seharusnya sekarang kita dapat merawatnya bersama, tapi disini kamu malah dengan baik hati memberikan hak penuh atas anak kita padaku. Kamu begitu baik padaku Mel, kamu begitu baik pada pria sepertiku. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan padamu selama ini, maafkan aku Amelia," ujar Johan berusaha menghapus air matanya, tersenyum menatap Amelia, meskipun hatinya begitu sesak.


"Terimakasih sudah memberikan hadiah terbesar dalam hidupku, aku pasti akan menjaga dan merawat pemberian terbesarmu padaku dengan baik. Aku ikhlas jika pada akhirnya inilah cara tuhan memisahkan kita, aku akan selalu berdoa untukmu, Mel. Semoga kamu bahagia disisi Tuhan. Tidurlah jika kamu lelah, tidurlah dengan tenang. Aku akan selalu memastikan kebahagiaan putra kita agar kamu bisa tenang disana. Suatu hari nanti, aku akan memberitahukan pada anak kita jika Mamanya adalah wanita yang kuat dan hebat. Tidurlah sayang, aku menyayangimu. Sampai jumpa lagi!" ujar Johan, mengecup lama dahi Amelia, lalu menutup wajah Amelia dengan kain yang sebelumnya sudah menutupi tubuhnya.


Masih di ruangan yang sama, sosok tak kasat mata yang juga berada disana memperhatikan semua yang terjadi dan mendengar semua ucapan orang-orang padanya. Ia Menatap dengan penuh kebahagian, pada Johan. Menatap penuh cinta, dengan wajahnya yang terlihat begitu cerah serta sinar yang keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Ia menatap Johan sembari berkata, "Aku bahagia pernah menjadi bagian dalam hidupmu, aku mencintaimu. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, selamat tinggal suamiku, selamat tinggal ayah dari anakku. Hiduplah dengan bahagia bersama putra kita," ucap Amelia sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari dunia.


__ADS_2