Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Menyukai Amanda


__ADS_3

"Ar, dengarkan papa dulu. Wanita itu sudah menikah dan sudah mempunyai, anak. Bagaimana mungkin papa mendekatinya?" ucap Johan menjawab yang tidak sepenuhnya benar, Johan tau jika Amanda adalah seorang janda, namun ia tidak ingin mengatakannya kepada Arsen agar Arsen tidak berpikir untuk menjodohkannya dengan wanita yang baru pertama kali ia temui itu.


"Benarkah?" tanya Arsen tak percaya.


"Ya," jawab Johan menutup pembicaraan mengenai Amanda.


Maafkan Papa, Ar. Papa tidak ingin kamu berharap padanga, Papa takut akan. Kembali menyakiti lagi jika menuruti maumu. Papa takut kembali mengulang kesalahan. Papa sudah berjanji pada Mamamu dan semua orang jika Papa akan menjadi pria yang baik. Maafkan Papa. Batin Johan.


Beberapa saat kemudian, Maryam datang membawa apa yang diminta oleh Johan lalu meletakkannya di meja yang berada tak jauh dari kolam.


"Terima kasih, Nek!" ucap Arsen yang di angguki oleh Maryam setelah itu kembali turun ke bawah.


"Pa, aku ingin bersekolah mulai besok!" pinta Arsen lagi-lagi mengejutkan Johan.


"Besok?"


"Iya besok," jawab Arsen tegas.


"Aku ingin kembali bertemu dengan Bunda Amanda." Arsen berkata jujur, membuat Johan hanya bisa mengangguk setuju atas keinginan putranya.

__ADS_1


Semakin aku menghindar, tapi perasaanku semakin yakin jika Arsen berharap lebih padanya. Bagaimana ini? Apa keputusanku salah dengan menyekolahkan dia di sana? Batin Johan.


***


Wajah ceria dari anak-anak terlihat, saat memasuki gerbang sekolah taman kanak-kanak yang bertuliskan TK Harapan.


Baik mobil ataupun motor banyak sekali yang berada di depan TK mengantar anak mereka untuk belajar di sana, termasuk Johan yang hari ini mengantar Arsen putranya untuk bersekolah di sana.


Hal yang paling tidak Arsen sukai kembali terjadi adalah dimana banyak sekali orang-orang yang menjadikan ia dan Papanya sebagai pusat perhatian. Satu kata yang selalu terlintas di benak Arsen adalah 'genit.'


"Lihatlah mata mereka seakan mau keluar, kenapa mereka terlahir seperti itu? Apa mereka tidak bisa melakukan hal yang lebih bermanfaat?" gumam Arsen membuat Johan tertawa mendengarnya.


"Jangan menyentuh kepalaku!" ucap pria kecil itu menatap Johan yang baru saja akan mengusap kepalanya.


"Selamat pagi Bunda Manda," sapaan anak-anak yang menyapa Amanda yang baru saja keluar dari mobilnya, mengalihkan fokus Arsen dan juga Johan. Keduanya seketika langsung menatap Amanda dan keduanya juga tanpa sadar tersenyum menatapnya.


'Astaga, kenapa aku tersenyum hanya karena melihatnya,' batin Johan kembali memasang raut wajah datarnya.


"Papa aku masuk!" Arsen menarik tangan Johan mengecup punggung tangannya, lalu melangkah masuk mengejar Amanda yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gerbang sekolah.

__ADS_1


Johan hanya bisa tersenyum melihat bagaimana putranya begitu semangat bersekolah di sana hanya karena seorang guru. Seorang wanita yang mengingatkan Johan pada kenangan masa lalunya.


"Selamat pagi Bunda!" sapa Arsen yang berlari menghampiri Amanda yang menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang menyapanya.


"Selamat pagi, Sayang!" jawab Manda begitu ramah, tersenyum sembari mengusap lembut rambut Arsen membuat Johan yang masih berdiri di samping mobilnya mendengus melihat putranya yang justru tersenyum saat wanita bernama Manda itu mengusap rambutnya.


"Dia selalu kesal saat seseorang mengusap kepalanya, termasuk aku, tapi saat wanita itu mengusap kepalanya dia justru tersenyum. Sepertinya dia benar-benar menyukai gurunya itu," gumam Johan masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi dari sana, mengacuhkan tatapan ibu-ibu yang sedari tadi menatanya.


"Oh iya, bukankah harusnya Arsenio masuk sekolah mulai senin besok?" tanya Amanda menatap pria kecil tampan itu.


Arsen mengangguk. "Ya, tapi aku ingin bertemu Bunda," jawab Arsen memasang wajah polosnya.


Amanda tersenyum kembali mengusap lembut kepala Arsen, sebab dia sedikit mendengar jika ibu Arsen sudah tiada.


"Baiklah kalu begitu. Bunda senang kalau Arsen lebih cepat masuk sekolah. Oh ya, Bunda harus keruangan para guru dulu, bunda harus absen dulu. Arsen bisa masuk ke dalam kelas Arsen, ya!" kata Amanda saat mereka akan berpisah di lorong sekolah


"Apa aku bisa menunggu Bunda dan masuk kelas bersama Bunda?" pinta Arsen bertanya, berkata dengan sangat lembut memperlihatkan sosok anak kecil yang sesungguhnya, tidak seperti sikapnya yang biasa terlihat dewasa di usia kecilnya.


"Baiklah, Arsen tunggu sebentar di sini ya," jawab Amanda sebab ia berpikir wajar jika murid baru akan sedikit takut masuk sendiri ke dalam kelasnya.

__ADS_1


"Iya, Bunda." Arsen tersenyum.


__ADS_2