
Selama di perjalanan pulang. Arsen tak henti-hentinya membahas tentang Amanda, dan Johan bersikap acuh meski sesungguhnya mendengarkan.
"Jadi Bunda guru sudah punya anak?" tanya Johan pada putranya membuat Arsen tersenyum sebab tahu jika sedari tadi ayahnya hanya pura-pura tidak mendengarkan.
"Iya Pah, namanya Neisha. Dia sangat imut, matanya cantik aku suka punya adik sepertinya," ucap Arsen antusias menceritakan tentang Neisha dan Amanda.
"Adik?" beo Johan mendengar ucapan Arsen.
"Iya, Neisha adikku dan bundanya juga bundaku," jawab Arsenio membuat Johan terdiam saat ia justru berpikir lain dari ucapan putranya.
Mungkin bagi Arsen ia hanya menyayangi Neisha dan Amanda, namun jika orang dewasa yang mendengar justru berpikir dia menganggap Amanda sebagai ibu dan Neisha adiknya, buka sebagai kenalan dan itu yang ada di pikiran Johan.
Apa yang aku takutkan terjadi, putraku pasti berharap lebih.
"Arsen, jika di depan orang lain. Jangan pernah bilang Neisha adikku atau Bunda guru bundamu, ya? Orang akan salah berpikir jika kamu bilang seperti itu," ucap Johan pada Arsen yang menatap tak suka dengannya.
"Apa salahnya? Aku menyukai mereka," ucap Arsen membantah.
"Orang akan berpikir lain jika kamu berkata seperti itu, orang akan berpikir jika mereka keluarga kita," ucap Johan lagi dengan lebih tegas.
"Aku malah ingin orang-orang beranggapan seperti itu," balas Arsen membuat Johan terdiam mendengarnya.
__ADS_1
Johan selalu merasa kalah jika berdebat dengan putra kecilnya, dia yang tak ingin memperpanjang masalah memilih untuk diam dan fokus menatap jalanan.
"Papa, aku tidak melihat ayahnya Neisha, Papa tidak ingin menjadi Papanya Neisha, agar Bunda bisa menjadi Bundaku?" tanya Arsen kembali mengejutkan Johan yang seketika menginjak pedal rem.
"Astaga," ucapnya sesaat kemudian menatap ke arah belakang, dan bersyukur tidak ada kendaraan di belakangnya.
"Arsenio. Hati-hati dengan ucapanmu!" tegur Johan pada Arsen yang menatap kesal padanya saat dahinya terbentur akibat Johan yang tiba-tiba berhenti.
"Bunda guru sudah menikah dan punya anak, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu," ucap Johan tegas.
"Hanya ada foto, aku tidak melihat orangnya, bahkan di tempat sepatu aku tidak melihat ada alas kaki pria di sana. Sebelumnya papa juga pernah bilang dia janda. Bukankah janda artinya tidak punya suami?" ucap Arsen yang diam-diam sudah memperhatikan isi rumah Amanda dan memahami semuanya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah dan Arsen langsung saja turun dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Johan yang hanya bisa menghela napas kasar melihat sikap putranya.
"Assalamualaikum, Nek!" ucap Arsen yang tidak pernah lupa mengucapkan salam dan mencium punggung tangan Maryam, pelayan di sana yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri.
"Waalaikumsalam, bagaimana hari ini? Arsen senang berkunjung ke rumah bunda guru?" tanya Maryam lembut sembari membawa tas sekolah Arsen mengikuti Arsen menuju kamarnya.
"Sangat senang Nek, aku mau cerita," ucapnya setelah mereka tiba di dalam kamar.
"Ayo cerita, nenek juga tidak sabar ingin mendengar ceritamu," ucap Maryam lembut pada putra majikannya itu.
__ADS_1
Arsen mulai menceritakan kepada Maryam sama seperti yang ia ceritakan pada Johan, dan respon Maryam tentu saja berbeda karena dia turut merasa suka dengan wanita yang mengingatkannya akan sosok almarhum istri majikannya itu.
Maryam sangat berharap jika wanita bernama Amanda itu memiliki hati dan sikap yang baik seperti yang memang terlihat. Amanda memiliki paras seperti Amelia, tapi sikapnya mirip seperti Vani.
"Kamu menyukai bunda guru?" tanya Maryam memastikan.
"Iya nek, aku ingin bunda menjadi Mamaku!" jawab Arsen jujur pada Maryam yang tersenyum mendengarnya.
"Kalau begitu Arsen harus memastikan terlebih dahulu status Bunda guru," ucap Maryam lagi membuat dahi Arsen mengerut.
"Maksud Nenek?" tanyanya.
"Pastikan dulu Bunda Manda punya suami apa tidak? Jika dia punya suami, itu artinya Bunda guru tidak bisa menjadi Mamanya Arsen," ucap Maryam membuat wajah Arsen berubah sedih.
"Tapi aku mau Bunda menjadi Mamaku, nek!" lirih Arsen.
"Arsenio, tidak semua yang kita inginkan akan kita miliki, sama halnya dengan Bunda guru. Jika bunda guru punya suami, atau mungkin mencintai seseorang, tentu saja bunda guru tidak akan bisa menjadi istri papamu," ucap Maryam mencoba memberi pengertian untuk Arsen.
"Baiklah Nek, aku akan mencari tau. Aku berharap bunda tidak mempunyai suami, karena aku tidak melihatnya dan aku ingat Papa pernah bilang bunda janda," ucap pria kecil tersebut kembali riang.
Maryam tersenyum saat menyadari seseorang yang menguping di balik pintu sudah pergi, sejak awal Johan berada di sana, Maryam sudah menyadarinya untuk itulah ia berbicara sedikit kencang agar Johan dapat mendengar keinginan putranya. Maryam juga berpikir sudah cukup majikannya itu larut dalam kenangan masa lalu, sudah sepantasnya Johan mengejar kebahagiaannya yang tentunya juga akan membawa kebahagiaan untuk Arsenio.
__ADS_1