
"Kamu yakin tidak ingin berkumpul bersama mereka?" tanya teman lama Johan pada Johan yang baru tiba di kantornya.
Temannya–Rafi tidak bermaksud serius, ia hanya memancing Johan ingin melihat sejauh mana sahabatnya itu berubah, bukan bermaksud menjerumuskan Johan.
"Di sana banyak sekali gadis-gadis cantik, perawan, dan jelas mereka akan siap melemparkan tubuh mereka padamu, Jo. Ayolah, ikut aku ke pesta rekan kerjaku!" ajak Rafi lagi.
"Tidak, Fi. Aku sudah berjanji pada Vani dan semua orang akan berubah, aku sudah satu tahun tidak berhubungan dengan hal-hal seperti itu lagi," ucap Johan menolak ajakan Rafi yang ingin mengajaknya menghadiri pesta temannya yang di lakukan di mansion milik temanya yang akan mengundang banyak racun dunia.
"Karena Vani atau istrimu? Ku lihat dia sama cantiknya seperti Amelia, bahkan menurutku lebih menarik," ucap Rafi mendapat tatapan tajam dari Johan.
"Jangan membahas istriku!" bentaknya tanpa sadar.
"Ya aku tai dia istrimu." Rafi tertawa mengatakannya menyadarkan Johan dari apa yang dikatakannya.
"Tidak. Aku janji pada Vani untuk berubah," Johan memperbaiki ucapannya.
Rafi mengembus nafas kasar. "Lagi-lagi Vani. Jo, Vani istri orang!" tegur Rafi.
__ADS_1
"Kenapa mereka mengadakan acara seperti itu di siang hari?" Bukanya menjawab, Johan justru bertanya karena bingung pesta seperti itu yang sering di lakukan di malam hari justru di adakan siang hari.
"Agar berbeda dari biasanya," jawab Rafi.
"Ayolah, jangan menolak!" ajak Rafi menarik Johan keluar dari ruangannya dan menuju mansion di mana acara pesta di adakan.
Tiba di pesta yang diadakan di sebuah mansion yang cukup mewah tersebut, Johan mengerutkan dahinya melihat acara pesta yang di adakan di siang hari itu, persis seperti sebuah pesta kelab malam.
"Apa ini temanya kelab malam di siang hari?" gumam Johan yang dapat di dengar oleh Rafi yang tertawa mendengarnya.
"Tetap saja tidak ada yang lebih cantik dari istriku," ucap Johan pelan tapi didengar oleh Rafi yang tersenyum dibuatnya.
"Baiklah, istrimu," sindir Rafi yang tak di tanggapi oleh Johan yang mulai melangkah masuk mencari tempat duduk yang jauh dari sekumpulan mereka yang berada di pesta.
"Jo, kenapa paling belakang?" tanya Rafi.
"Kamu kalau mau bergabung dengan mereka, silahkan saja. Aku di sini saja," kata Johan santai pada Rafi yang merasa senang di hatinya mendengar ucapan dan sikap Johan, namun ia tetap ingin mengetes sampai di mana sahabatnya itu berubah.
__ADS_1
"Baiklah, aku tinggal," ucapnya pergi meninggalkan Johan sendirian di sana.
Rafi mulai mencari gadis yang menurutnya akan sesuai dengan selera Johan, setelah mendapatkannya ia meminta sang gadis untuk menggoda Johan, tentunya tanpa imbalan yang ia janjikan, hanya dengan menyebut siapa Johan, semua gadis siap menggodanya.
"Hai, boleh aku duduk di sini?" ucap gadis tersebut menghampiri Johan yang hanya mengangguk tanpa menatapnya.
"Kenalkan, Aku Juni!" wanita bernama Juni yang mempunyai lekuk tubuh yang indah serta berpenampilan seksi itu mengulurkan tangannya pada Johan.
Melihat Johan yang sama sekali tidak menanggapinya, Juni dengan beraninya mendekat dan duduk di samping Johan yang seketika bangkit dari duduknya.
"Kau tidak lihat ada cincin dijari manisku, itu artinya aku sudah menikah! Jadilah wanita terhormat!" ucap Johan pelan, namun terdengar begitu menusuk untuk wanita bernama Juni yang mendengarnya.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini jika kau sudah menikah dan setia pada istrimu," geram Juni menatap kesal Johan.
Setelah berkata pedas pada wanita itu, Johan mencari keberadaan Rafi dan berpamitan jika ia akan pulang lebih dulu, dan itu tentu saja di sambut baik oleh Rafi yang juga memilih pulang dari sana saat ia merasa sudah berhasil menguji kesungguhan Johan dalam berubah menjadi lebih baik.
'Jika kamu seperti ini, pasti kebaikan akan kembali menghampirimu, Jo. Aku senang dengan perubahanmu. Dan aku senang dengan kehadiran istrimu, aku pikir bukan Vani, tapi dialah yang tanpa kamu sadari membuatmu berubah. Batin Rafi melirik Johan.
__ADS_1