Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Selanjutnya


__ADS_3

"Van. Aku disini, sayang! Aku begitu merindukanmu!" ucap pria yang sedari dari memperhatikan Vani dengan mata berkaca-kaca.


Hati Johan begitu sakit melihat semuanya, melihat bagaimana mesranya mereka berdua, melihat bagaimana Vani begitu cepat melupakan dirinya yang setiap hari selalu berdoa dan menatap foto Vani sebagai penyemangat hidupnya.


Johan sungguh-sungguh menyesal atas semua yang sudah ia lakukan selama ini pada Vani, menyesal dengan kebodohannya yang menyia-nyiakan Vani.


Ia sangat merindukan sosok Vani yang hangat, yang selalu tersenyum padanya. Yang selalu melayaninya dengan sangat baik. Ia merindukan masakan Vani dan sangat merindukan semua hal tentang Vani. 3 tahun bersama dengan semua kenangan indah yang Vani berikan membuat Johan semakin sulit untuk melupakan Vani.


Kenapa, Van? Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan kedua? Kenapa kamu begitu cepat melupakan aku? Kenapa kamu tidak percaya padaku? batin Johan menahan tangisnya.


Johan beranjak dari kursinya, sungguh ia tidak sanggup melihat lebih lama lagi kemesraan wanita yang sangat dicintainya, bersama pria lain. Hatinya begitu sakit dan hancur melihat semuanya. Sekuat apapun ia berusaha mencoba untuk ikhlas, dan menerima semua yang sudah terjadi, namun tetap saja hatinya tidak bisa mengikhlaskan Vani. Hatinya tidak bisa merelakan Vani bahagia bersama pria lain.


"Aku menyesal sayang, aku sungguh menyesal!" ucap Johan menangisi kebodohannya setelah ia berada didalam mobilnya.


Maafkan aku, Jo. Aku mencintai suamiku dan aku ingin kamu melupakan semua hal tentang aku. Seperti aku yang sudah bahagia dengan suamiku, aku juga berharap kamu bahagia menjalani hidupmu bersama istrimu. Jika kamu benar mencintaiku, pastinya kamu akan ikut bahagia melihatku bahagia. Sama seperti aku yang sudah melepaskan mu demi pilihanmu. Aku hanya bia berdoa agar hidupmu bahagia dan hatimu bisa memaafkan dirimu sendiri. ucap Vani dalam hati, yang sesungguhnya ia mengetahui dan menyadari keberadaan Johan yang sedari tadi memperhatikannya.

__ADS_1


***


Beberapa hari berlalu. Vani yang tengah berada di rumah terus menatap kalender di ponselnya. Tanggal yang sudah ia atur sebagai pengingat dimana harusnya ia sudah datang bulan, namun sudah satu minggu berlalu, ia belum juga kedatangan tamu bulanannya.


Di satu sisi Vani sangat berharap dan sangat ingin mencoba alat tes kehamilan, namun di sisi lainya Vani juga tidak ingin terlalu berharap karena mungkin saja kali ini tamu bulanannya terlambat. Apalagi ia sempat membaca sebuah artikel yang mengatakan, "Siklus menstruasi tiap wanita berbeda-beda. Panjang siklus menstruasi yang normal adalah 21-35 hari, dihitung dari hari pertama menstruasi bulan ini, hingga hari pertama menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi biasanya sama setiap bulannya, namun ada juga saat-saat di mana haid datang terlambat."


"Sudahlah, mungkin benar kali ini datang terlambat!" gumam Vani, kembali meletakan ponselnya diatas meja.


Vani keluar dari kamarnya menuruni anak tangga menuju dapur, untuk menyiapkan makan siang Juna, sebab ia berniat akan mengantarkannya ke kantor suaminya.


"Bi ... " ucap Vani mengisyaratkan dengan tangannya agar pelayan menjauh darinya, namun pelayan itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan Vani dan tetap saja mengurut tengkuknya.


Vani menutup kran air setelah selesai dengan muntahannya dan mencuci mulutnya, wajah yang awalnya terlihat segar itu berubah menjadi pucat setelah apa yang dialaminya


"Nyonya baik-baik saja?" tanya pelayan cemas.

__ADS_1


"Nyonya baik-baik saja? Apa Bibi perlu menghubungi dokter?" tanya pelayan mengulang lagi pertanyaannya.


"Aku baik-baik saja Bi, hanya perlu istirahat sebentar!" jawab Vani memejamkan matanya bersandar di meja.


Semoga saja dugaan saat benar, semua orang pasti akan merasa sangat bahagia jika semua ini benar. Mungkin Nyonya hamil. batin pelayan bernama Mirna tersebut.


"Kalau begitu saya bantu ke kamar, ya Nyonya?" tawar Mirna yang dijawab gelengan kepala oleh Vani.


"Tidak perlu Bi, ini sudah agak mendingan. Bi bisa tolong aku minta mbok Sum masakan makan siang untuk Mas Juna. Aku akan membawanya ke kantor!" pinta Vani.


"Iya, Nyonya," jawab Mirna, lalu pamit meninggalkan Vani untuk memanggil Mbok Sum yang sedang membantu pelayan lainnya bekerja.


***


Maaf baru up ya kak, kemarin seharian aku sibuk di luar. 🙏

__ADS_1


Maaf juga untuk keterangan End di buku tapi belum End, itu karena sebelumnya cerita ini sempat hiatus di sini. Sekarang aku lanjutkan, semoga kalian mengerti.🙏


__ADS_2