Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Tujuan Bulan Madu


__ADS_3

Tatapan Juna terlihat kesal menatap Vani yang tersenyum setelah berbicara dengan seseorang di telepon.


"Ada apa?" tanya Vani bingung.


"Siapa yang meneleponmu? Kenapa tersenyum seperti itu? Sudah aku katakan senyum itu hanya untukku!" ucap Juna dengan mimik wajah merajuk.


Vani yang mendengar itu semakin tersenyum. Vani mendekat dan melingkarkan tangannya adi pinggang Juna dengan wajah sedikit mendongak menatap Juna. "Kamu cemburu?" Vani mencubit gemas hidung mancung suaminya.


"Siapa?" ulang Juna bertanya.


"Itu Karina. Dia dan Esi akan datang kemari," jawab Vani.


"Benar?"


"Ya. Kamu tidak percaya padaku?" Vani akan melepas pelukannya, tapi Juna menahannya. "Aku percaya," ucapnya cepat sebelum Vani yang balas merajuk.


"Kapan mereka datang?" tanya Juna lagi.


"Hari ini, mungkin sebentar lagi mereka datang."


"Kalau begitu aku juga akan meminta Dika datang. Aku bisa membahas pekerjaan bersamanya selagi kamu sibuk dengan teman-temanmu," ucap Juna yang tidak ingin merasa bosan sendirian.

__ADS_1


"Baiklah."


Tak sampai satu jam. Kedua sahabat Vani tiba di sana. Ketiganya berpelukan seakan jarang bertemu dan itu membuat Juna yang sempat melihat hanya bisa tersenyum lucu menatap mereka.


"Ya ampun, rumah ini indah sekali!' puji Esi menatap ke sekeliling rumah Vani.


"Rumah impianmu," sahut Karina yang dianggukki Vani dengan senyum bahagia terlihat jelas di wajahnya.


Beberapa saat setelah Karina dan Esi tiba, suara langkah kaki yang masuk ke dalam rumah terdengar. Tatapan ketiga wanita itu tertuju pada Dika yang baru tiba di sana. Vani dan Karina hanya menatap sekilas sembari tersenyum, berbeda dengan Esi yang masih saj menatap Dika yang juga tengah menatapnya.


"Hmmm....." Vani tersenyum meledek Esi dan Dika yang menjadi salah tingkah karenanya.


"Jangan katakan ada sesuatu antara kalian!" tebak Karina membuat wajah Esi semakin merona.


"Ada apa denganmu?" tanya Juna mengejutkan Dika.


"Kamu mengejutkanku." Dika mengusap dadanya.


"Justru kamu yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjaku!" cibir Juna. "Ada apa?" sambungnya kembali bertanya.


"Tidak ada apa-apa. Ini berkas yang kau minta aku bawa!" Dika duduk di sofa sembari meletakan beberapa map di atas meja.

__ADS_1


Juna sam sekali tidak melirik ke arah berkas tersebut. Tatapannya masih menatap Dika membuat Dika menatap bingung padanya. "Ada apa?" tanyanya.


"Negara mana menurutmu yang bagus untuk menjadi tujuan bulan madu kami?" tanya Juna dengan raut wajah serius.


Dika tertawa mendengar itu. "Jadi ini sebenarnya tujuanmu memintaku datang? Berkas ini hanya alsan?" tanyanya masih diselingi tawa.


"Aku bertanya dan tugasmu menjawab!" kesal Juna.


"Kamu bertanya atau memintaku menyiapkan semuanya? Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja langsung," ucap Dika meledek.


Juna tersenyum mendengar itu. Seperti biasa, Dika selalu dapat diandalkan. Juna yang merasa tak perlu lagi memikirkan tujuan bulan madunya terlihat mulia melamun dengan senyum masih terukir di wajahnya.


"Pasti membayangkan hal-hal mesum," sindir Dika.


"Bukan urusanmu. Lagipula jika benar aku membayangkan hal mesum, aku membayangkannya bersama istriku. Tidak sepertimu. Entah kau normal atau tidak." Juna tertawa kencang setelah mengatakan itu, terlebih melihat wajah tak terima Dika yang mendengarnya.


"Kau lupa siapa yang dijuluki gay? Jangan lupa itu," kata Dika kesal.


"Itu hanya rumor di masa lalu, tapi sekarang aku sudah membuktikan jika aku bukan gay. Aku punya istri, senjataku bahkan selalu berdiri hanya dengan mengingatnya. Aku pria normal," balas Juna dengan bangganya.


"Benarkah?" Dika meledek menatap dengan sebelah alis terangkat lalu tatapannya mengarah ke bagian bawah tubuh Juna. "Wah, aku percaya. Kau benar, senjatamu saat ini berdiri tegak," sambung Dika tertawa membuat Juna sontak menatap ke arah senjatanya yang benar tengah bangun.

__ADS_1


Sial. Kenapa harus bangun disaat istriku sedang bersama temannya? Batin Juna.


__ADS_2