
Wajah-wajah berseri terlihat dari banyak wanita yang bekerja di kantor yang sama dengan Vani. Mereka yang menyaksikan bagaimana Vani mendapat lamaran yang begitu romantis dari Arjuna, jelas membuat hati mereka ikut berbunga-bunga dan berharap. Ya, berharap akan mendapatkan pasangan seperti Arjuna Lakeswara. Pria yang sebelumnya dikenal sebagai penyuka sesama jenis justru sekarang dikenal sangat manis.
Pria idaman. Dua kata itu sangat cocok ditujukan untuk Arjuna. Tampan, mapan, perhatian, romantis meski dengan cara yang sedikit berbeda, baik, dan terlihat setia. Setia seakan menggambarkan juga sosok Arjuna. Pria yang baru pertama kali dekat dengan wanita itu benar-benar hanya memusatkan perhatiannya pada Vani, dan itu juga alasan Arjuna dapat dikatakan setia.
Setelah jam kerja kantor berakhir. Vani dan sebagian karwayan lainnya mulai bersiap untuk pulang. Ucapan selamat banyak Vani dapatkan, tak hanya secara langsung, bahkan banyak juga ucapan selamat dari teman-teman sosial media yang perlahan tahu tentang acara lamaran yang tak biasa itu.
Saat ini, setelah setengah jam perjalanan, Vani dan kedua sahabatnya berkumpul disalah satu cafe yang menjadi tempat biasa mereka bersantai. Karina yang baru mendengar kabar bahagia dari Vani itu terlihat heboh, dia terus saja bertanya meskipun Esi sudah menceritakan semuanya.
Vani terlihat begitu tenang sedari tadi, dan itu membuat kedua sahabatnya yang sebelumnya asik membahas acara lamaran Vani, baru menyadari jika Vani benar-benar terlihat tenang.
"Ada apa? kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Vani bingung.
"Van, boleh aku bertanya?" cicit Karina.
"Tentu saja. Ada apa?" ucap Vani.
"Apa kamu bahagia dengan semua ini? Kamu tidak menyesal, kan, telah menerima lamarannya?" tanya Karina membuat suasana menjadi tegang.
__ADS_1
"Hus! Nggak mungkin Vani menyesal," sahut Esi mencubit pelan tangan Karina.
"Mungkin saja. Kita tahu sendiri apa yang baru terjadi akhir-akhir ini. Meski aku senang Vani bersamanya, tetapi aku juga tidak ingin Vani menerimanya karena terpaksa. Aku ingin Vani benar-benar bahagia menjalani semuanya. Kamu juga pasti berharap seperti itu, kan?" ucap Karina membuat suasana menjadi hening.
Pertanyaan Karina juga merupakan pertanyaan yang sama yang ada dihati Esi. Namun untuk bertanya, Esi merasa tidak ingin merusak hari bahagia Vani, dan berusaha berpikir jika Vani tidak mungkin gegabah saat mengambil keputusan.
Vani tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya, ia tersenyum haru karena Vani jelas mengerti kekhawatiran sahabatnya.
"Kalian bisa lihat dari mataku, kalian bisa menilai sendiri, apa aku terlihat tidak bahagia?" tanyanya.
Benar yang dikatakan Vani, meski terlihat tenang, tapi jika dilihat darimanapun. Vani juga tidak terlihat sedih atau terpaksa dengan semua yang sudah terjadi. Dari matanya terlihat jelas jika tidak ada beban di sana yang artinya Vani tidak terpaksa melakukannya.
Kamu benar-benar telah kehilangan sahabatku. Aku senang saat Vani bertemu dengan Arjuna disaat yang tepat seperti ini. Kehadiran Arjuna benar-benar dapat mengurangi beban di hati Vani. Aku berharap kalian selamanya bersama, aku berharap pria itu benar-benar tulus padamu, Van. Batin Esi.
"Aku lihat kebahagiaan di matamu. Aku ikut bahagia untuk itu, Van. Aku dan Esi selalu berharap yang terbaik untukmu. Kami berharap hubungan kalian langgeng, cinta itu hadir dan kalian hidup bahagia selamanya," ucap Karina bangkit berdiri, lalu memeluk Vani diikuti oleh Esi yang juga turut memeluk Vani. "Aku berharap hal yang sama untuk kalian," balas Vani.
****
__ADS_1
Kebahagiaan yang dirasakan Vani dan semua orang, berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Johan, Johan yang baru mengetahui jika Vani telah dilamar oleh Arjuna, terduduk lemas di lantai kamarnya.
Kesedihan dan penyesalan benar-benar membuat Johan terpuruk.
Johan terdiam dengan tatapan kosong.
Masih teringat jelas dibenaknya bagaimana tiga tahun terakhir Johan merasa sangat bahagia menjalani hari-harinya bersama Vani.
Banyak sekali kenangan indah yang membuat Johan semakin merasa bersalah dan diselimuti penyesalan. Tak pernah sekali pun Vani mengecewakannya, Vani benar-benar menjadi sosok yang sempurna dalam hidupnya, tetapi Johan justru menyia-nyiakan semua itu. Dia sendiri yang menghilangkan semua kebahagiaan dalam hidupnya.
"Kenapa, Van? Apa begitu mudah untukmu melupakanku? Apa secepat itu kamu mencari penggantiku?" ucap Johan menatap foto-foto Vani yang ada di dalam kamarnya.
Johan bersikap seakan-akan dialah yang tersakiti, padahal Vani lah yang menjadi korban atas semua yang telah dia lakukan. Cinta benar-benar telah membuat Johan tak tentu arah, menyakiti, meninggalkan, tetapi tidak ingin ditinggalkan. Egois adalah kata yang cocok untuk Johan, karena sudah menikahi wanita lain, tetapi tetap tidak ingin melepaskan Vani.
"Tidak, Van. Sampai kapan pun dan bagaimana pun itu, kamu tetaplah Vani-ku. Hanya aku pria yang boleh ada di hatimu, aku tidak akan membiarkan pria lain masuk ke dalam hatimu," ucap Johan dengan sorot mata yang sulit diartikan.
***
__ADS_1
Hai kak, kembali lagi.🤩 Maaf jadi bolak balik ya, karena banyak yang komen bingung, jd yang di akun baru aku hapus, aku lanjutin di sini lagi karena udah kepalang kontrak juga.
🙏🙏