
Makan malam di rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka nanti itu telah selesai dan selama itu juga Arjuna terus saja menggoda Vani.
"Sayang, wajahmu memerah!" ucap Arjuna pada Vani yang menjadi salah tingkah.
"Tentu saja akan memerah, ini pedas!" ketus Vani.
"Meskipun pedas, tapi kita berada di bawah tempat terbuka dan udara disini begitu sejuk. Kamu juga selalu menatapku, jadi bagaimana mungkin kamu kepedasan saat melihat yang manis-manis?" ucap Arjuna semakin membuat Kiran gugup.
"Ya ampun, mulutmu terlalu pandai berbicara ternyata," cibir Vani.
"Siapa yang pernah menyuapimu sebelum aku?" tanya Vani serius menatap Arjuna.
"Tidak ada. Aku tidak suka bekas orang," jawab Arjuna santai.
"Lalu aku?" tanya Vani menunjuk dirinya.
"Tidak denganmu," balas Arjuna.
"Kenapa tidak? Kamu jijik bekas orang, lalu kenapa mau memakan bekasku bahkan dari tanganku langsung?" tanya Vani lagi.
"Kamu lupa kalau kita bahkan sudah bertukar saliva?" tanya Arjuna balik, membuat Vani yang tengah mengunyah buah, tersedak.
"Maafkan aku!" Arjuna bangkit berdiri memberikan minum pada Vani, sembari menepuk dan mengusap lembut punggung Vani. Meskipun sebenarnya menepuk punggung saat tersedak bukanlah cara yang tepat, namun kebiasaan tersebut tetap sering di lakukan sebagian orang termasuk Arjuna.
"Maaf membuatmu tersedak, tapi apa ada yang salah dengan ucapanku? bukankah kita sudah pernah berciu..."
Kalimat Arjuna lagi-lagi terputus saat Vani dengan cepat menyodorkan buah kedalam mulutnya yang terbuka.
__ADS_1
"Jangan membahasnya," ucap Vani tegas yang di anggukki oleh Arjuna.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan makan mereka. Vani mulai membereskan bekas makan mereka di temani Arjuna yang terus saja menatapnya.
"Berhentilah menatapku seperti itu!" tegur Vani.
"Apa ada yang salah jika aku menatap kekasihku sendiri?" tanya Arjuna santai yang tidak ingin di tanggapi oleh Vani.
"Ini rumah siapa?" tanya Vani mengalihkan pembicaraan.
"Bukankah sudah aku katakan ini rumah yang akan kita tempat nanti, kamu tidak mempercayai ucapanku?"
"Kita?" beo Vani menatap Arjuna, dengan niat bercanda.
"Tentu saja kita. Aku membeli tanah dan rumah ini seminggu setelah mengenalmu, aku juga merenovasi semua ini seperti apa yang disukai olehmu. Kamu bisa lihat sendiri bangunan di sini masih sangat baru, semua baru selesai direnovasi. Aku sudah mempersiapkan semua hal yang indah untuk kita dimasa depan, selebihnya kita serahkan pada Tuhan," jawab Arjuna menambah kebahagiaan di hati Vani yang mendengarnya.
"Kamu mencintaiku? Kamu benar-benar tidak pernah menyukai wanita lain sebelumnya?" tanya Vani yang terkadang merasa sedikit ragu, sebab hampir semua pria yang pada akhirnya menyakiti wanita, selalu diawali dengan sosok yang seribu persen terlihat sempurna. Vani takut hal seperti itu terjadi. Vani takut jika Juna bersikap baik hanya untuk mendekatinya, lalu akan mencampakannya setelah bosan.
"Kenapa aku?" tanya Vani lagi merasa ada begitu banyak wanita jauh lebih baik darinya.
"Aku tidak punya jawaban untuk itu karena yang aku tau perasaan itu hadir untukmu. Karena hanya kamu wanita yang dapat membuatku merasa jika aku pria normal dan hanya kamu yang aku inginkan menjadi ibu dari anakku kelak" jawab Arjuna berdiri mengajak Vani ikut berdiri.
"Aku sangat mencintaimu jangan pernah berpikir untuk menjauh pergi dariku," ucapnya lagi menatap penuh cinta pada Vani yang balas dengan memeluknya.
"Sayang. Kenapa kamu tidak pernah membalas saat aku mengatakan aku mencintaimu?" ucap Arjuna akhirnya mempertanyakan pertanyaan yang selama ini selalu menghantuinya.
"Ucapan bisa saja berdusta, tapi tidak dengan hati. Hatiku dan hatimu sendiri pasti tau jawabannya akan apa yang aku rasakan padamu, karena itu aku tidak mengatakannya. Aku takut jika aku menjawab mencintaimu hanya sekedar di mulut tapi tidak di hati karena aku sendiri juga merasa ragu pada diriku sendiri. Namun, aku sangat merasa nyaman dan bahagia bersamamu, karena itu aku bersedia hidup bersamamu" jawab Vani yang lebih membahagiakan dari kata cinta.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu penjelasanmu, maka aku tau kamu juga sangat mencintaiku," ucap Arjuna tersenyum mengecup dahi Vani.
"Sayang, sebenarnya ada tujuan lain aku membawamu kemari," ucap Arjuna kembali mengajak Vani duduk.
"Apa itu?"
"Aku ingin membahas mengenai pernikahan kita."
Vani tersenyum. "Aku juga ingin membahasnya," ucapnya.
"Syukurlah jika kita memiliki niat yang sama. Aku harap kamu tidak berniat menundanya." Arjuna lebih dulu mengatakan semua itu agar Vani tau dia tidak ingin menunda pernikahan mereka.
Vani menggelengkan kepalanya. "Aku pikir lebih cepat lebih baik," jawabnya membuat wajah Arjuna terlihat sangat bahagia.
"Benarkah?" tanyanya memastikan.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan tanggal dua belas bulan ini. Itu akan bertepatan tiga bulan kita bertemu. Kamu setuju?" tanya Arjuna lagi yang ternyata sudah menentukan tanggal pernikahan mereka.
"Itu artinya sepuluh hari lagi? Apa mungkin bisa menyiapkan semuanya dalam waktu sepuluh hari?" Vani tak terlihat keberatan, hanya saja merasa ragu waktu sepuluh hari cukup untuk mempersiapkan semuanya.
"Satu minggu bahkan cukup," jawab Arjuna tersenyum lebar.
"Kamu punya saran tanggal lainnya?" tanya Arjuna lagi.
"Tidak. Tanggal dua belas tanggal keberuntungan bibiku–Irene. Dia menyukai tanggal itu selain sebagai tanggal lahirnya yang merupakan tanggal dua belas desember. Aku setuju," jawab Vani tanpa memperpanjang pembahasan yang biasanya akan berlangsung cukup lama itu.
"Jadi, sepuluh hari lagi kita akan menikah?" tanya Arjuna lagi-lagi memastikan.
__ADS_1
Vani menganggukkan mantap kepalanya. "Ya, aku akan mengundurkan diri dari kantor," jawab Vani meyakinkan Arjuna. Arjuna yang mendengar itu kembali membawa Vani dalam pelukan nya setelah itu menghujani Vani dengan banyak kecupan di wajahnya.
"Sekarang, ayo kita mengelilingi dan melihat-lihat tempat yang akan kita tempati dalam sepuluh hari mendatang!" ucapnya Juna dengan sangat antusias menarik tangan Vani yang dengan senang hati mengangguk mengikutinya.