
"Hai, Johan. Ini aku," ucap Vani menatap sendu pada Johan.
"Aku tau kamu pasti mendengar semua yang kami katakan disini. Kamu dengar sendiri kan, Jo, bagaimana khawatirnya semua orang padamu. Semua orang disini begitu menyayangimu. Mungkin semua tidak sama lagi seperti dulu, namun aku masih tetap menyayangimu meskipun rasa itu dalam artian yang berbeda."
Air mata Vani menetes saat ia melihat Johan yang dalam keadaan koma, namun dari sudut matanya mengeluarkan cairan bening sama seperti dirinya.
Mencintai dalam waktu yang cukup lama, wajar saja jika Vani turut merasa sedih atas apa yang telah menimpa pria yang pernah begitu ia harapkan menjadi imamnya itu. Vani mengerti apa yang dirasakan Johan, karena ia juga pernah merasakan mencintai namun tak dapat memiliki.
"Kamu mendengarkan aku, bukan?" tanya Vani yang menahan sesak di dadanya.
"kamu harus tau, Jo, aku tidak pernah membencimu. Aku juga tidak pernah menyesal pernah bersamamu, karena apa? Karena darimu juga aku banyak belajar semua hal? Semua hal yang baik dan buruknya tentang hidup ini, aku sangat berharap kamu juga bisa belajar dari semua yang sudah terjadi sama sepertiku. Aku ingin kamu juga menerima semuanya."
Vani terus saja berbicara pada Johan, mencoba mengatakan dengan sangat lembut apa yang ingin ia sampaikan.
"Aku ucapkan selamat untuk kehamilan istrimu. Untuk itu berusahalah untuk bangun. Apa kamu tidak ingin menyambut kehadiran anakmu nanti? Apa kamu tidak ingin mengadzani dia nanti? Apa kamu tidak ingin melihat bagaimana wujud dari sebagian diri dan hidupmu itu? Berjuanglah untuk sembuh, Jo. Berjuanglah demi semua terutama demi anakmu," ucap Vani menyeka air matanya.
Juna mengisyaratkan semua orang untuk mendekat saat ia juga melihat respon dari Johan.
Semua orang menatap haru bahagia, pada Johan yang untuk pertama kalinya terlihat nyata merespon ucapan seseorang yaitu Vani.
Setelah semua hal yang terjadi dan yang dilihatnya, Juna dapat menyadari jika cinta yang dimiliki Johan untuk istrinya begitu besar. Jika saja Vani juga masih mencintai Johan, mungkin Juna akan rela melepaskan Vani demi kebahagiaannya, namun setelah mendengar kata cinta yang diucapkan Vani untuknya. Juna tidak akan pernah melepaskan Vani karena selamanya Vani akan selalu menjadi miliknya, dan ia akan membuktikan jika cinta yang ia miliki lebih besar dari cinta Johan atau siapapun itu.
Bahkan dalam keadaan koma pun, kehadirannya tetap yang paling kamu nantikan, Jo. Apa sebegitu besarnya kamu mencintai Vani? Aku tidak mengapa dengan semua ini, Jo, aku bisa menerima jika kamu tidak mencintaiku. Seperti yang aku katakan, aku juga akan ikhlas melepaskan mu setelah anak kita lahir. Aku berjanji setelah ini akan menjauh dari kehidupanmu. Asalkan kamu berjanji akan membahagiakan anakku. Batin Amelia merasa begitu terluka.
"Jo, jika kamu mendengar semuanya. Aku mohon berusahalah untuk bangun, demi semua orang yang mencintaimu. Demi anakmu yang juga pastinya sangat mengharapkan ayahnya.
Jo, aku minta maaf jika semua ini terjadi karena aku. Aku minta maaf jika aku sudah menyakitimu, namun percayalah ini semua sudah jalan untuk kita berdua. Aku dengan kehidupanku sendiri bersama suamiku, dan kamu juga dengan kehidupanmu bersama Amelia dan calon anak kalian. Mari kita sama-sama membangun kehidupan yang bahagia bersama pasangan kita masing-masing. Meski tidak bersama, namun kita masih bisa menjadi saudara. Aku sedih jika melihatmu seperti ini, aku menjadi merasa bersalah atas semua yang terjadi. Apa kamu benar ingin membuatku merasa buruk atas semua ini?" ucap Vani lagi.
__ADS_1
Butiran bening itu semakin deras mengalir dari sudut mata Johan, membuat semua yang melihat juga tak dapat menahan tangisnya. Semua orang juga menyadari besarnya pengaruh Vani dalam kehidupan Johan.
Juna yang merasa khawatir dengan istrinya meminta izin untuk membawa pulang Vani dari sana, karena Juna tidak ingin jika Vani kembali merasa stres akan semuanya.
"Hai Jo. Aku Juna suami Vani. Aku minta maaf jika sikapku pernah menyakitimu. Tolong relakan Vani untukku, aku berjanji aku pasti akan membahagiakannya. Berjuanglah untuk sembuh, Jo, kami semua mendoakan yang terbaik untukmu!" ucap Juna menyentuh tangan Johan sebelum membawa Vani keluar dari sana.
****
Selama dalam perjalanan pulang, Juna selalu mencoba menghibur istrinya. Ia terus saja mengajak Vani berbicara agar dapat mengalihkan Vani dari kesedihannya, Juna tidak ingin emosi Vani berpengaruh pada janinnya.
Syukurlah dia tidak larut dalam kesedihannya. batin Juna.
"Kamu lapar?" tanya Juna.
"Tidak, Mas."
"Baiklah. Aku ingin makan bakso!" ucap Vani membuat Juna tersenyum mendengarnya.
"Bukanya barusan kamu bilang tidak lapar?"
"Jadi mas tidak mau membelikan makan untukku?" Vani bertanya balik dengan nada terdengar kesal pada Juna.
"Tidak Sayang, aku bercanda. Ayo kita makan bakso," jawab Juna cepat, namun Vani tetap saja memasang raut wajah kesal padanya.
"Kita pulang saja!" ucap Vani ketus.
"Baiklah kalau begitu!" jawab Juna mengalah.
__ADS_1
"Lah, kenapa beneran pulang sih, mas?" tanya Vani semakin kesal, membuat Juna menjadi bingung dengan sikapnya.
"Tadi kamu yang minta pulang," ucap Juna sebelum masuk kedalam gerbang rumah mereka.
"Kan aku mau bakso, Mas!" ucap Vani lagi.
"Iya, sayangku. Istriku yang cantik dan yang paling aku cintai, sekarang juga kita cari kedai bakso!" seru Juna kembali memutar arah mobilnya, membuat senyum Vani terbit di wajahnya.
Sabar-sabar. Mungkin ini yang dibilang bawaan hamil. Batin Juna, mengingat kembali apa saja penjelasan Dokter.
"Mas, berhenti!" ucap Vani mengejutkan Juna yang seketika mengerem mendadak dibuatnya.
Ya ampun ... untung saja tidak ada kendaraan lain dibelakang. ucap Juna yang hanya bisa ia katakan dalam hati.
"Aku ingin makan disana! Lihat sangat ramai, pasti enak!" ucap Vani ingin turun dari mobil, namun Juna dengan cepat mencegatnya setelah melihat tempat makan yang dikatakan Vani.
"Aku mau makan disana!" tunjuk Vani dengan mata berkaca-kaca menatap Juna yang menjadi serba salah dibuatnya.
"Baiklah," ucap Juna akhirnya kembali mengalah, dan turun dari mobil lebih dulu setelah itu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Melihat pasangan yang terlihat sempurna berjalan menghampiri kedai bakso tersebut, tentu saja menarik perhatian semua orang yang ada disana. Semua berdecak kagum melihat sosok Juna dan Vani. Melihat mereka berdua semua jelas dapat menebak jika keduanya bukan orang biasa. Pemilik kedai yang juga melihat Vani dan Juna merasa gugup saat kedainya didatangi orang seperti mereka.
"Pak, minta baksonya dua!" pinta Vani sopan lalu menarik tangan suaminya untuk duduk di tempat kosong yang tersedia disana.
Juna kembali ingin menolak saat melihat tempat yang akan mereka duduki adalah lesehan. Seumur hidupnya Juna tidak pernah duduk lesehan seperti saat ini, namun sejak bersama Vani semua hal yang tidak pernah ia rasakan harus ia rasakan karena Juna sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menyukai semua hal yang istrinya sukai.
'Apapun itu tentu saja akan aku lakukan untukmu!' batin Juna tersenyum menatap wajah ceria istrinya.
__ADS_1