Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Menghindar


__ADS_3

Tak seperti biasanya Johan yang hanya akan solat jika ia mau, sekarang Johan mulai melatih dirinya untuk melakukan kewajibannya tersebut, seperti hari ini dimana ia terbangun jam setengah enam pagi dan langsung menuju kamar mandi, membersihkan dirinya kemudian menunaikan solat.


Johan berjanji pada Vani dan pada dirinya sendiri akan berubah, berubah menjadi lebih baik lagi. Johan juga bersyukur, Amanda, wanita yang ia nikahi tidak menuntut banyak dan mengerti dengan apa yang ia inginkan.


Selesai dengan sholatnya, Johan mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, ia akan berangkat lebih awal hari ini. Johan tau jika hari ini Vani akan datang ke rumah menjemput Dilan, maka dari itu ia memilih untuk datang lebih pagi ke kantor. Ia tidak ingin melihat Vani, bukan karena ia membenci Vani, namun karena sebaliknya, ia tidak ingin membuat hatinya kembali merasa sakit saat ia yang selalu ingin memberontak memeluk Vani setiap kali melihat Vani, tapi tak akan bisa ia lakukan. Apalagi saat melihat Vani berdampingan dengan pria lain, hatinya selalu saja merasa sakit, untuk itu ia memilih menghindar dari pada menimbulkan masalah.


Johan akan selalu mengingat janjinya pada Vani yang mengatakan akan berubah, berubah menjadi sosok yang jauh lebih baik lagi.


"Selamat pagi sayang," ucap Johan membuka pintu kamar Arsen dan melihat kedua anak laki-laki itu baru saja selesai mandi.


"Selamat pagi, Pa!" keduanya menjawab secara bersamaan.


"Papa mau kemana?" tanya Arsen pada Johan yang sudah terlihat rapi.


"Papa mau ke kantor, ada meeting pagi ini!" seru Johan menjawab.


"Pa, ini hari minggu. Apa kantor masih buka hari minggu?" sahut Dilan bertanya, membuat Johan yang mendengar merasa amat malu, saat ia ternyata sudah melupakan jika hari ini hari minggu.


"Papa malu?" ledek Arsen dengan jahilnya saat melihat wajah Johan yang memerah.

__ADS_1


"Tidak, kenapa Papa harus malu?" ucap Johan berusaha bersikap tenang menutupi rasa malunya pada kedua pria kecil yang ada di depannya.


"Karena Papa salah hari, jelas saja Papa malu!" jawab Arsenio menertawakan Johan membuat Dilan juga ingin tertawa, namun ia berusaha menahan tawanya agar Johan tidak semakin malu.


"Papa ada meeting dengan klien dari luar kota, meeting tak kenal hari, kalian tidak tau, bukan?" Johan mencari alasan.


"Ya sudah, kalian juga tidak akan mengerti. Papa pergi, ya? Tempat meeting-nya lumayan jauh, Papa tidak ingin terlambat!" ucap Johan lagi pada keduanya, sembari mengusap kepala Arsen dan Dilan yang hanya bisa menganggukkan kepala.


"Oh iya, satu lagi," Johan yang baru saja akan keluar dari kamar Arsen, memutar kembali tubuhnya menghadap kedua bocah tersebut.


"Kalau bunda Vani tanya, bilang saja Papa ada urusan di luar! Titip salam Papa untuk ayah dan Bunda- mu ya Dilan," sambung Joha lalu menghilang di balik pintu saat ia keluar dari sana tanpa menunggu jawaban dari Dilan.


Keluar dari kamar Arsen. Johan melanjutkan langkahnya menuju kamar Maanda.


Johan mengetuk pintu kamar Amanda, namun tak mendapat jawaban, yang terdengar hanya suara rengekan bayi, dan itu membuat Johan langsung saja membuka pintu kamar Amanda dan melihat jika Neisha, putri dari wanita yang ia nikahi sudah terbangun dari tidurnya dan duduk merengek di atas ranjang.


Langkah kaki Johan membawanya mendekat pada bayi cantik yang mengulurkan tangannya pada Johan berharap Johab menggendongnya.


"Hai... cantik! Kamu sudah bangun, ya?" ucap Johan lembut untuk pertama kalinya ia berada sedekat itu dengan Neisha dan pertama kalinya juga menegur Neisha.

__ADS_1


"Pa...pa," ucap bayi perempuan itu menyentuh tangan Johan dan naik ke pangkuan Johan saat Johan sudah duduk di tepi ranjang.


"Kamu benar, ini Papa. Pa-pa," ucap Johan lembut mengangkat Neisha membenarkan posisi Neisha agar pas di pangkuannya.


"Pa... pa....," ucap Neisha kembali mengikuti apa yang di ajarkan Johan padanya.


Johan tersenyum mendengar panggilan Papa yang terbata-bata dari bibir mungil Neisha. Ia menghadiahi Neisha dengan kecupan di kedua pipinya, lalu menggendong Neisha, membawanya keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju dapur yang ia yakini tempat Amanda berada saat ia tak ada di kamarnya.


Tebakan Johan benar. Amanda tengah berkutat di dapur.


"Nah, itu Mama!" ucap Johan pada Neisha, mengejutkan Amanda yang sontak saja langsung memutar tubuhnya menatap ke asal suara.


Amanda dibuat terdiam membeku melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


"Mas Alan....," gumamnya dengan mata berkaca-kaca melihat Johan yang mengerutkan dahinya bingung dengan tingkah Amanda.


"Aku Johan," ucap Johan sedikit kencang membangunkan Amanda dari angannya.


***

__ADS_1


Hai kakak semua. Aku ada dua buku baru. Judulnya "Aku Bukan Pelakor" & "Noda Dalam Cinta"


Bantu ramaikan ya kak, mampir dulu siapa tau kalian suka. Terima kasih.🤗🙏


__ADS_2