
Perdebatan kecil terjadi di kediaman orang tua Johan. Arsen memaksa ingin di antar oleh Johan ke tempat Dilan, namun Johan enggan melakukanya. Johan meminta papanya yang mengantarkan, namun Arsen tetap saja memaksanya yang mengantarkan ke sana.
"Ar, yang papa katakan benar. Papa punya banyak pekerjaan, kebetulan Papa berada di Jakarta, jadi Papa bisa bertemu dengan rekan bisnisnya. Arsen, Opa sama Oma yang antar ke sana, ya?" sahut Rizal coba membujuk Arsen yang sulit sekali untuk mengubah keputusan, jika ia menginginkan A maka harus A, begitulah sifat Arsenio.
"Papa janji akan ikut liburan, tapi nyatanya tetap saja bekerja!" Arsen kesal menatap Johan.
"Sayang, bagaimana kalau Mama yang temani? Mama yang gantikan Papa," tawar Amanda pada Arsenio, meskipun sejujurnya ia merasa tak nyaman saat berdekatan dengan Vani. Bukan tak nyaman dengan Vani, namun tak nyaman melihat keharmonisan Vani dan suaminya yang selalu mengingatkan Amanda pada Alan, almarhum suaminya.
"Sungguh?" tanya Arsenio menatap antusias pada Amanda yang menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang, sebelum Mama berubah pikiran," ajak Arsenio pada Amanda. Rizal dan Renata yang melihat itu hanya bisa tertawa.
__ADS_1
"Terima kasih, Nda!" ucap Johan lewat isyarat matanya menatap Amanda yang menanggapi dengan anggukan pelan kepalanya.
"Di dalam perjalanan, Arsenio tak henti-hentinya membahas tentang Vani, kelebihan Vani dan semua hal tentang Vani. Di saat bersamanya, Arsenio akan begitu dekat dengannya di banding semua orang, namun jika di sandingkan dengan Vani, Arsen seakan jelas akan memilih Vani dari pada dia.
"Ma, Bunda janji akan membawa aku dan Dilan ke tempat bermain yang ada di Mall, jadi Neisha juga bisa ikut bermain bersama kami, kan nanti juga ada Dara. Kami berempat akan bermain bersama, aku sudah tidak sabar!" ucap Arsenio begitu antusias, membuat semua orang yang berada di mobil tersenyum.
"Ar, nanti di Mall, kamu harus jaga Neisha ya? Dilan pasti akan menjaga Dara, jadi kamu sebagai Kakak juga harus menjaga Neisha dengan baik. Kamu mengerti?" pinta Renata pada cucunya.
"Siap, Oma. Aku bisa lebih baik dalam menjaga adikku," jawab pria kecil itu lantang.
"Oma, ini rumah Dilan?" tanya Arsenio merasa kagum dengan rumah yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1
"Ya, ini rumah mereka. Itu Dilan!" tunjuk Renata pada Dilan yang berlari menghampiri mereka.
"Arsen!" teriak bocah kecil itu menghampiri Arsenio di ikuti oleh Dara di belakangnya.
Semua tersenyum melihat Arsenio dan Dilan yang saling berpelukan riang tersebut. Begitupun Neisha yang dengan malu-malu menghampiri Dara yang berdiri di samping Dilan. Sejak kecil Neisha sudah terlihat begitu ramah, benar-benar mencerminkan sosok Amanda.
Mereka saling bersalaman di mulai dari yang lebih muda, begitupun Vani dan Juna yang menyambut kedatangan mereka. Setelah saling sapa, mereka masuk ke dalam rumah yang terlihat begitu nyaman karena sellau diselimuti dengan cinta dan ibadah tersebut.
"Johan tidak ikut?" tanya Juna saat mereka sudah berkumpul di dalam rumah.
"Johan ada urusan di luar," jawab Rizal, namun dapat Juna tebak jika bukan itu alasan utamanya.
__ADS_1
"Bunda, kita jadi jalan?" sahut Dilan bertanya pada Vani.
"Jadi, dong, tapi nanti setelah makan siang dan solat zuhur, ya?" ucapnya lembut, tersenyum pada ke empat anak yang tengah berkumpul tersebut, yang bersorak riang mendengar jawabannya.