Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Berusaha Bangkit


__ADS_3

Sejak menemani Amelia melakukan pemeriksaan beberapa hari yang lalu. Johan semakin semangat untuk pulih dari kondisi tubuhnya saat ini. Johan yang biasanya selalu menggunakan kursi roda sebagai alat bantunya, sekarang berganti menggunakan tongkat kruk. Dia ingin terus melatih kakinya agar bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Meskipun Johan masih menutup dirinya dari semua orang, namun diam-diam dia selalu mencuri pandang pada perut buncit Amelia. Dia selalu merindukan untuk menyentuh perut buncit Amelia, dia juga diam-diam berusaha menjaga kehamilan Amelia.


Renata dan Rizal yang melihat hal tersebut tentu saja merasa sangat bahagia saat putranya mulai bangkit, dengan menjadikan calon cucu mereka sebagai tujuan hidup Johan. Kebahagiaan begitu besar mereka rasakan saat Johan mempunyai tujuan hidup lain selain Vani.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih karena sudah memberikan jalan untuk putraku bangkit dari keterpurukannya!" ucap Renata menatap haru pada Johan yang terlihat aktif melatih otot-otot tubuhnya yang kaku dan sulit digerakkan pasca kecelakaan yang dialaminya beberapa bulan yang lalu.


"Aku ingin menemui langsung keluarga Irene," ucap Renata yang jelas mengejutkan Rizal.


Rizal menatapnya. "Aku ingin meminta maaf pada mereka. Aku juga ingin ke makam Irene. Aku tidak ingin lagi semua kesalahan kita berimbas pada Johan apalagi cucu kita nanti. Aku ingin hidup dengan tenang," ucap Renata lagi.

__ADS_1


"Kamu benar. Aku juga memikirkan hal yang sama, kalau begitu secepatnya sebelum Amel melahirkan, kita temui mereka," jawab Rizal menyetujui ucapan istrinya.


Sama seperti kedua orang tuanya yang terlihat begitu antusias menyambut kelahiran cucu mereka. Hal yang sama, sekarang juga dirasakan oleh Johan. Ia berusaha untuk segera bisa berjalan dengan baik agar bisa pergi keluar dan menyiapkan juga semua keperluan anaknya dikediamannya sendiri.


Sejak merasakan ikatan batin dengan anaknya, Johan juga memiliki banyak sekali keinginan. Banyak juga pemikiran yang sudah mulai memikirkan tentang masa depan putranya, satu hal lagi yang belum semua orang ketahui jika Johan bahkan sudah menyiapkan nama untuk putranya.


"Pah, bagaimana dengan Amelia? Apa kita harus diam saja membiarkan keduanya berpisah?" tanya Renata kembali serius pada Rizal.


"Mungkin keduanya untuk saat ini tidak bisa bersatu, tapi seiring berjalannya waktu. Aku sangat yakin rasa itu akan ada, apalagi dengan kehadiran seorang anak. Anaklah yang akan mendekatkan kedua orang tuanya. Aku akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan keduanya!" jawab Rizal yang sudah memikirkan dengan matang keputusannya.


Jika dulu Renata menaruh kebencian pada Irene, sekarang tidak lagi. Renata sudah menyadari kesalahannya meski tak dipungkiri rasa iri akan cinta Rizal pada mantan istrinya tak jarang mengusik Renata.

__ADS_1


"Tapi Amelia sudah yakin dengan keputusannya, Johan juga menyetujui keputusan Amelia. Lalu bagaimana cara kita menghentikan perpisahan mereka?" tanya Renata lagi.


"Aku akan tetap berusaha, untuk hasilnya kita hanya bisa menyerahkan kepada yang diatas karena semua terjadi atas ridho nya," jawab Rizal pelan.


"Ayo Jo, waktumu tidak banyak. Kamu harus pulih untuk bisa menyambut kehadiran putramu!" ucap Johan kencang menyemangati dirinya sendiri, tanpa ia sadari jika sedari tadi kedua orang tuanya dan Amelia juga memperhatikannya.


Renata dan Rizal yang mendengar ucapan Johan tersenyum senang dan juga berharap banyak pada sang maha kuasa agar mempermudah jalan untuk putranya.


"Kamu dengar nak, papa begitu menyayangimu. Kehadiranmu sangat dinantikan oleh semua orang. Kamu bahagia bukan?" ucap Amelia bertanya, sembari mengusap perutnya.


"Kamu sangat bahagia ya?" tanya Amelia lagi, saat merasakan tendangan yang cukup keras dari dalam perutnya.

__ADS_1


Ditengah kebahagiaan yang ia rasakan, tak dapat dipungkiri jika rasa sedih juga begitu menyiksanya saat ini. Sedih membayangkan jika semakin hari waktunya bersama anaknya akan semakin berkurang, dan sebentar lagi akan tiba saatnya dimana ia harus pergi meninggalkan semua yang disayanginya.


'Ya Tuhan. Bantu aku untuk ikhlas. Kuatkan aku, Tuhan. Aku harap semua keputusanku sudah tepat,' ucap Amelia dalam hati menyeka air matanya yang akan keluar.


__ADS_2