Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Gugup


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Johan berhenti tepat di depan sebuah rumah tanpa pagar, yang terlihat sederhana namun juga terlihat nyaman saat di pandang.


Johan terdiam sejenak di dalam mobilnya mencoba menenangkan jantungnya yang terasa berdebar.


"Ada apa dengan jantungku? Apa aku perlu memeriksakan diri ke dokter?" gumamnya bingung.


"Jangan katakan aku berdebar karena ingin bertemu dengan wanita yang mirip dengan Amelia ini?" gumamnya lagi menggelengkan kepala berusaha membuang praduga yang ada di kepalanya dan dengan cepat keluar dari mobilnya, memasuki pekarangan rumah guru dari anaknya itu.


Johan mulai mengetuk pintu, dia berusaha bersikap tenang saat jantungnya semakin berdebar ketika tiba di depan pintu rumah Amanda.


Melihat gagang pintu yang bergerak dan pintu yang perlahan terbuka, Debaran jantung Johan berdetak berkali-kali lebih kencang.


"Papanya Arse," ucap Amanda pelan pada Johan yang masih terdiam menatapnya.


"Tuan," ucap Amanda lagi melambaikan tangannya di depan wajah Johan menyadarkan Johan.


"Saya mau menjemput Arsenio," ujar Johan gugup.


"Tunggu sebentar ya, Tuan. Arsenio sedang makan siang di dalam, Anda bisa menunggu di sini," tunjuk Amanda pada kursi yang ada di teras rumahnya.

__ADS_1


Johan di buat terdiam tak percaya menatap arah tunjuk Amanda, baru kali ini ada wanita yang menyuruhnya duduk menunggu di luar rumah. Hampir dari semua wanita atau siapapun orang yang ia temui akan begitu menghargainya dan dengan senang hati serta sangat hormat memintanya untuk duduk menunggu di dalam rumah. Tapi tidak dengan wanita yang ada di depannya saat ini yang justru terang-terangan memintanya duduk di teras rumah.


"Maaf tuan, bukan maksud saya menyinggung Anda, tapi tidak baik di lihat tetangga jika saya membawa Anda masuk ke dalam rumah saya, saya minta maaf!" ucap Amanda merasa tak enak hati pada Johan yang terlihat tersinggung dengan ucapannya.


"Baiklah," ucap Johan datar, tapi mengerti maksud Amanda.


'Kebanyakan wanita justru akan mencari kesempatan mengajakku masuk dan menggodaku, apa aku tidak menarik lagi?' batin Johan.


Setelah Johan duduk di kursi yang ia tunjuk, Amanda kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Bunda siapa?" tanya Arsenio, sembari mengunyah makanannya dengan lahap.


"Kenapa cepat sekali menjemput?" gumam Arsen.


Arsenio membuatkan segelas teh untuk Johan lalu membawanya keluar, meletakkan di atas meja yang ada di sana. "Silahkan, Tuan, sembari menunggu Arsen selesai makan!" tawar Amanda sopan pada Johan yang hanya bisa menanggapi dengan menganggukkan kepala saat ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Bukan sibuk namun lebih tepatnya menyibukkan diri berusaha untuk menutupi dirinya yang mulai salah tingkah.


"Saya tinggal ke dalam ya, Tuan!" ucap Manda lagi yang kembali hanya di jawab anggukan oleh Johan.


"Kenapa dia berwajah sangat datar?" gumam Amanda kembali menghampiri Arsen.

__ADS_1


"Sudah sayang?" ucapnya lembut pada Arsen.


"Sudah Bunda, masakan Bunda terbaik. Besok-besok Arsen mau makan masakan bunda lagi," ucap Arsenio membawa bekas piring kotornya ke wastafel lalu mencuci tangannya.


Amanda tersenyum melihat Arsenio yang tanpa di minta mengerti apa yang harus ia lakukan, pria kecil itu makan dengan sangat tenang tanpa berserakan dan setelahnya membawa bekas makanannya sendiri, mencuci tangan dengan bersih tanpa perlu di beritahu. Sesuatu yang menjadi pertama kalinya di lihat oleh seseorang dari seorang Arsen, sikap Arsen yang berada di dekat Amanda sangatlah amat berbanding terbalik dengan sikapnya di rumah atau di luar dari jangkauan Amanda.


Di depan sana, Johan menikmati teh buatan Amanda kembali teringat akan sosok Amelia almarhum istrinya. "Kenapa lagi-lagi aku teringat Amel?" gumamnya.


"Papa, ayo pulang!" Arsen tiba-tiba keluar menghampiri Johan bersama dengan Amanda.


"Sudah selesai?" tanya Johan bangkit dari duduknya.


"Kami pulang, terima kasih sudah mengizinkan Arsen berkunjung, terima kasih juga untuk teh nya. Maaf merepotkan Anda," ucap Johan tulus.


"Sama-sama, tdiak merepotkan. Saya suka jika Arsen bermain di sini," jawab Amanda tersenyum mengusap kepala Arsen yang balas tersenyum.


"Kami pulang Bunda," Arsen menyalami Manda lalu menyusul Johan yang sudah lebih dulu melangkah pergi dari sana.


"Iya sayang, hati-hati." balas Manda melambaikan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2