
Tidak semua kisah cinta berjalan indah. Dalam mencintai pastinya akan selalu ada yang namanya perjuangan, baik dalam hal kecil ataupun besar. Amanda sudah berjuang untuk cintanya meskipun orang yang ia cintai justru tak ingin di perjuangkan.
Sebuah hubungan juga di perlukan kepercayaan, apa jadinya hubungan, jika tidak di dasari dengan rasa percaya? Hanya kehancuran yang akan datang, dan itu yang di rasakan Amanda sekarang.
Apa yang Amanda lakukan dan apa yang terjadi pada Amanda hari ini tak luput dari perhatian seseorang yang juga memang sengaja meminta anak buahnya mengikuti Manda.
Johan yang baru saja tiba di bandara seketika mengepalkan erat tangannya saat melihat semuanya. Ia meminta anak buahnya untuk terus mengikuti Amanda pergi.
"Pa, ada apa?" tanya Arsenio melihat tingkah sanga ayah yang tak biasa.
"Sayang, kamu pulang ke rumah opa bersama paman Yanto, ya? Papa ada urusan," ucap Johan lembut. Arsen yang sudah terbiasa dengan kesibukan Johan, menganggukkannya.
Johan keluar dari mobil setelah meminta supir keluarganya untuk membawa Arsen pulang ke rumah orang tuanya. Dia sendiri sudah meminta anak buahnya yang lain untuk menjemputnya. Lima menit kemudian, yang ditunggu Johan tiba. "Langsung ke sana!" titahnya dengan suara yang terdengar jelas kemarahan di dalamnya.
Johan memejamkan matanya selama perjalanan menuju rumah Alan, amarah di hatinya siap meledak setiap kali mengingat wajah sedih istrinya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguji kesabarannya, Johan tiba di tujuan.
Pria yang bertugas sebagai keamanan di rumah Alan dengan cepat membukakan pintu saat anak buah Johan berkata jika yang datang adalah Johan, rekan bisnis atasannya. Nama Johan yang sudah sangat terkenal di kota Semarang dan cukup terkenal di Jakarta membuat pria itu percaya dan mengizinkan mereka masuk.
"Di mana majikan kalian?" tanya Johan berkata dengan sangat dingin sambil memperhatikan seisi rumah Alan, mencari keberadaan pria yang sangat ingin dihajarnya itu.
"Siapa kamu?" Seorang wanita yang baru saja menuruni tangga menghampiri Johan, wanita itu adalah Rui Cheng, tunangan Alan.
__ADS_1
Johan tersenyum sinin menatap Rui yang juga tengah menatapnya. Rui berusaha bersikap tenang meski sesungguhnya dia tengah panik.
Untung saja Alan sedang tidur. Batin Rui sedikit bernapas lega sebab setelah kejadian di restoran, Alan terus seja mendesaknya untuk berkata jujur, mengamuk hingga akhirnya Rui dengan bantuan pelayan memberikan obat yang membuat Alan lebih tenang, obat yang membuatnya sekarang tertidur lelap.
"Wanita sepertimu sama sekali tidak sebanding dengan Mandaku, entah apa yang mereka lihat dari wajah palsu ini?" gumam Johan jelas menyindir Rui yang seketika marah mendengarnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya kesal.
"Kau jelas tahu maksudku Rui Cheng. Berapa kali kau melakukan operasi plastik untuk memperbaiki wajahmu? Mungkin kau sendiri lupa. Tapi tenang, aku akan mengingatkanmu. Kau sudah enam kali melakukan operasi plastik untuk mengubah wajah buruk mu menjadi terlihat cantik, tetapi semua itu percuma. Karena apa? Karena kau memang tercipta menjadi manusia yang buruk luar dan dalam, hatimu yang busuk membuat usahamu untuk terlihat cantik tidak akan pernah menjadi sempurna. Karena apa? Karena hanya orang-orang busuk seperti kalian yang menyukai wajah palsu ini." Dengan sangat tajam Johan membalas hinaan yang diterima Manda pada Rui.
"Oh iya, satu lagi. Sandiwaramu yang berpura-pura menjadi wanita baik juga percuma, karena seperti yang aku katakan, hanya orang-orang bodoh dan berhati busuk seperti kau yang akan tertipu dengan sandiwaramu," sambung Johan semakin menghina Rui.
Orang-orang yang mengenal Johan pasti tidak akan pernah menyangka jika seorang Johan Permana akan berkata begitu kasar pada seorang wanita. Namun inilah yang terjadi sekarang dimana Johan menghina wanita yang telah berani menghina istrinya.
"Tidak, Nona. Saya sama sekali tidak tertawa," ucap pelayan membantah, karena dia sungguh tidak menertawakan Rui yang hanya merasa sendiri jika orang menertawakannya.
"Kau di pecat!" ucap Rui lagi membuat pelayan itu terkejut mendengarnya.
"No–"
"Kemari!" panggil Johan menghentikan pelayan yang dia tahu akan meminta maaf pada Rui.
__ADS_1
Pelayan itu yang mendengar panggilan Johan tertuju padanya dengan ragu menghampiri Johan. "Ada apa, Tuan?" tanyanya takut.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku karena aku tidak mungkin melakukannya, aku pria yang tidak akan menyentuh wanita. Untuk itu aku ingin kau yang melakukannya," ucap Johan membuat wajah Rui semakin panik.
"Apa maumu?" bentak Rui.
"Aku ingin kamu menamparnya," ucap Johan menjawab pertanyaan Rui, tetapi berbicara pada pelayan yang memucat mendengarnya.
"Tidak perlu takut. Aku akan mematikan hidupmu aman setelah keluar dari sini," ucap Johan lagi.
Rui yang mendengar itu menatap tajam pada pelayan. "Aku akan menuntut kalian," ucapnya.
Pelayan yang bari saja akan melangkah maju, menghentikan langkahnya.
"Aku yang akan lebih dulu menuntutmu atas apa yang kau lakukan pada Manda." Johan memperlihatkan video dimana Rui menampar Manda di depan umum.
"Lakukan sekarang!" titah Johan tegas membuat pelayan melangkah cepat menghampiri Rui lalu sekuat tenaga menampar Rui yang tak siap menerimanya hingga terjatuh ke lantai.
"Jika saja kau seorang pria, maka aku sendiri yang turun tangan menghajar mu. Bersyukurlah karena kau wanita. Ini hanya sedikit balasan dariku karena kau berani mengusik kenyamanan wanita yang aku cintai. Jika kau berani mengusiknya lagi, maka aku akan membalasmu berkali lipat. Ingat pesanku!" ancam Johan pada Rui yang hanya bisa terdiam menahan rasa perih di wajahnya.
"Di mana Alan?" Johan beralih pada pelayan yang baru saja menuruti perintahnya.
__ADS_1
"Tuan muda sedang beristirahat setelah diberikan obat penenang," jawab pelayan itu masih terdengar gugup dan takut memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya.
"Hmmm baiklah, tidak ada gunanya aku disini jika begitu. Berkemaslah, aku tunggu dalam lima menit!" ucap Johan melangkah keluar dari rumah itu tanpa rasa bersalah.