
Amanda berpamitan ke toilet setelah berbicara dengan Vani, tapi Amanda sama sekali tak bersuara sedari tadi setelah ia kembali dari toilet, dan itu membuat Vani menjadi bertanya-tanya, ada apa dengan perubahan mood Amanda yang tiba-tiba berubah seperti itu? Pikirnya.
Mulai dari Amanda kembali dari toilet bisa dikatakan Amanda terlihat begitu murung, raut wajah murungnya terlihat lebih murung dari saat ia bercerita tentang suaminya, dan itu membuat Vani sedikit cemas.
Bahkan Neisha dan Arsen berbicara saja sedari tadi di restoran mereka hanya di tanggapi seadanya olehnya.
"Mbak, ada apa?" tanya Vani menyentuh tangan Amanda, menarik Amanda keluar dari lamunannya, saat mereka sudah kembali dari Mall dan tiba di rumah Vani.
Anak-anak yang sudah keluar dari mobil pun tak di sadari oleh Amanda yang larut dalam lamunannya.
"Van, aku ingin mengatakan apa yang aku lihat tadi tidak mungkin, aku ingin mengatakan jika tidak ada orang yang benar-benar mirip di dunia ini, tapi kenyataanya aku saja mirip dengan Amelia. Aku juga bisa saja mengatakan jika orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup kembali, tapi aku sangat yakin jika aku tidak mungkin salah melihat, Van," ucap Amanda dengan mata berkaca-kaca dan itu membuat Vani yang mendengar menjadi bingung.
"Mbak, ada apa? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Vani bertanya karena jujur saja ia belum mengerti apa maksud ucapan Amanda yang hanya bisa ia tangkap jika penyebab kesedihan Amanda masih orang yang sama yaitu almarhum suaminya–Alan.
__ADS_1
"A...ku, aku tidak mungkin salah, Van. Tadi di Mall, aku melihat seseorang yang begitu mirip dengan mas Alan, bahkan sangat mirip dan aku yakin itu dia, dia suamiku," ucap Amanda dengan air matanya yang lagi-lagi menetes mengingat almarhum suaminya.
'Ya ampun mbak? Apa sebegitu besarnya kamu merindukan dia?' batin Vani.
Vani yang mendengar ingin menyangkalnya dan mengatakan jika itu semua mungkin saja karena rasa rindu Amanda yang begitu berlebihan pada suaminya. Namun, Vani mengurungkan bibirnya untuk berkata seperti itu, karena ia tau ucapannya nanti hanya akan membuat Amanda semakin bersedih.
"Bagaimana ceritanya? Kapan? Dimana?" tanya Vani mencoba mempercayai ucapan Amanda.
"Tadi, Van. Tadi itu saat aku keluar dari toilet, ketika di Mall," jawab Amanda menggebu, dan kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Setelah puas bercerita pada Vani, Amanda permisi ke kamar mandi, ia berpikir perlu menyegarkan kembali wajahnya. Ia mencuci wajahnya yang terlihat sedikit sembab akibat menangis, mengoleskan sedikit lipstik dan bedak yang ada di dalam tasnya, memastikan penampilannya setelah itu keluar dari toilet, dan kembali menuju Vani, namun langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang begitu mengejutkannya. Sesuatu yang baru saja menjadi penyebab ia bersedih dan sangat ia rindukan, sesuatu itu adalah seseorang yang begitu ia cintai hingga saat ini.
"Mas, Alan!" gumamnya menatap sepasang pria dan wanita yang berada di lantai yang sama, namun bersebrangan dengannya.
__ADS_1
Dengan hati yang menggebu, debaran jantung yang berdebar kencang, serta tubuh yang bergetar, Amanda menguatkan dirinya untuk menghampiri kedua orang yang mulai melangkah pergi menuju lift tersebut.
"Mas...! Mas Alan!" teriak Amanda kencang mengejar kedua orang yang sudah masuk ke dalam lift.
"Mas Alan!" teriaknya lagi semakin kencang saat lift tertutup, namun sebelumnya dja dapat melihat dengan sangat jelas jika seseorang yang baru saja masuk ke dalam lift itu benar-benar mirip dengan almarhum suaminya dalam segala hal, dan semakin terlihat jelas ketika lift tertutup pria tersebut menghadap ke depan ke arahnya.
Amanda tang tidak ingin kehilangan jejak pria tersebut, dengan cepat masuk ke lift lainya berharap bisa mengejar seseorang yang membuatnya begitu terkejut dan berharap tersebut.
Wanita yang mempunyai wajah yang mirip dengan Amelia itu, langsung berlari keluar dari lift, saat lift berhenti dan pintunya terbuka, dengan cepat ia menatap lift yang berada tak jauh di sampingnya yang sudah terbuka dan terlihat kosong sekosong hatinya yang kembali terasa hampa.
"Mas, jangan tinggalkan aku!" gumamnya menangis menatap kesana-kemari berharap mendapatkan apa yang ia cari, dan nasib berpihak padanya saat pasangan yang tadi ia lihat berjalan menuju area parkir, namun kembali Amanda merasa takdir mempermainkannya saat sosok yang ia kejar sudah masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dari sana meninggalkan nya yang hanya bisa terpaku menahan sesak dan gejolak di hatinya yang terasa begitu perih dan kecewa dengan sebuah harapan yang ada.
"Mas, aku sangat yakin itu kamu. Aku juga merasa kamu jelas mengetahui dan menyadari kehadiranku, tapi kenapa kamu pergi, mas?" ucap Amanda pelan mengusap air matanya yang terjatuh menatap mobil yang sudah melesat pergi dan menghilang dari pandanganya, menyisakan luka lama yang terasa kembali menganga lalu di sirami air keras, begitu perih ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Mbak yakin itu benar-benar dia?" tanya Vani setelah mendengar cerita dari Amanda.