
Tatapan Renata langsung tertuju menatap Vani, dengan tangis semakin menjadi.
"Vani. Maaf untuk semuanya. Maaf....," ucap Renata serak, mendekat bersujud di kaki Vani.
"Tidak, Tante. Jangan seperti ini," ucap Vani memapah Renata untuk bangkit.
"Johan marah. Johan tak mau bangun. Dia marah karena tante melarang hubungan kalian. Dia menghukum tante. Tolong bangunkan dia," ucap Renata tak dapat menyelesaikan kalimatnya.
Air mata Vani seketika menetes melihat bagaimana keadaan Johan dan bagaimana sikap Renata, sosok perempuan yang baru sejam yang lalu masih memakinya itu sekarang berubah dengan sangat drastis.
Ia mengusap lembut punggung Renata setelah memeluknya. "Maafkan Tante. Tante mohon buat Johan bangun," ucap Renata.
"Aku sudah memaafkan Tante. Aku juga minta maaf jika ada salah pada kalian," balas Vani.
Bukan hanya Renata dan Vani yang menangis, semua yang menyaksikan turut meneteskan air matanya melihat pemandangan yang sangat mengharukan tersebut. Terutama Amelia, antara haru, iri dan sedih karena seakan keberadaanya tak di anggap.
"Dia sedang menghukum Tante, Van. Johan menghukum tante karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Dia menghukum tante dengan cara seperti ini, Van. Minta dia bangun, tante ingin dia bangun dan mengatakan langsung kepada Tante. Minta Johan untuk bangun, Van. Dia pasti akan mendengarkan apa yang kamu katakan!" ucap Renata terus mengatakan hal yang sama. Renata melepas pelukannya, menatap Vani dengan penuh harap.
Vani membawa ibu Johan untuk duduk di sofa yang ada disana. Mengusap air mata Renata yang terus saja mengalir, serta menatap penuh harap padanya.
"Tante, apa tante percaya dengan yang namanya takdir Allah, bukan?" tanya Vani lembut, pada ibu dari mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Semua yang menimpa manusia berdasarkan takdir dan nasib. Allah telah mengetahui hal itu sebelumnya. Pena-Nya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hikmah-Nya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah manusia menunaikan tugasnya dengan baik?
Jika kita menunaikannya, maka kita akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika percaya bahwa semua yang menimpa berasal dari sisi Allah, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah akan menunjukkan hatinya sehingga kita akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah.
Allah memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petunjuk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disimpan Allah pada hari pembalasan kelak.
Sama hal-nya dengan yang terjadi saat ini pada Johan. Semua sudah dituliskan oleh pena Allah, kita sebagai umatnya harus siap dan harus bisa menerima semua ini, kita juga harus menyakini jika semua yang terjadi pasti akan ada hikmahnya!" ucap Vani begitu lembut, berhasil menghentikan tangis Renata.
"Mungkin aku tidak begitu mengenal kalian, tapi kalian pasti mengerti dengan apa yang aku katakan, ikhlas dan jalani semua ini dengan berlapang dada. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya. Cepat atau lambat, Johan akan kembali sadar dan bisa berkumpul lagi bersama kalian. Aku percaya itu!" sambung Vani, mengelus kedua tangan Renata.
Cara Vani menenangkan Renata membuat Rizal dan Amelia yang mendengar semakin merasa bersalah. Ketiga orang itu merasa bersalah atas sikap mereka pada Vani selama ini, mereka juga merasa malu telah berkata buruk tentang Vani selama ini.
Mereka yang mendengar semakin merasa rendah dihadapan Vani, namun tidak dengan Juna yang melihat dan mendengar semuanya. Cinta yang ia miliki untuk Vani semakin dan semakin saja bertambah besar, sosok Vani menjadi sosok yang sangat dikaguminya dan Juna juga sangat bersyukur sosok yang ia anggap begitu sempurna itu adalah miliknya, Istrinya.
Wajar jika semua orang sangat menyukaimu, sayang. Aku pun juga semakin hari semakin mencintaimu, cinta ini terus dan semakin terus bertambah untukmu. Aku sangat bersyukur memilikimu. Ucap Juna dalam hati, menatap wanita yang begitu dikaguminya itu.
"Bagaimana jika Johan pergi? Bagaimana jika ia pergi meninggalkan kami? Tante tidak siap dengan semua itu!" tanya Renata sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Tante. Jodoh, rejeki, maut, seperti yang sering kita dengar dan kita ketahui jika itu juga takdir Allah. Jika Allah mengambil Johan, berarti itu memang sudah janji Johan untuk kembali ke sisinya. Jika sang pemilik seluruh alam sudah mengatakan harus kembali, lalu kita yang hanya serpihan pasir ini bagaimana mungkin bisa menghentikannya?" Vani membuat Renata bungkam, karena ia sadar semua yang Vani katakan benar.
"Jangan pernah melupakan kuasanya. Mintalah kepada Allah karena aku yakin Ia pasti akan mengabulkan setiap doa orang-orang yang bersungguh-sungguh memintanya. Berikan dukungan terbaik kalian pada Johan mungkin benar ia terlihat tak berdaya seperti itu, tapi aku percaya jika Johan dapat mendengar setiap apa yang kita katakan. Percayalah, Johan juga sedang berjuang untuk kembali bersama kalian!" ucap Vani lagi, semakin menenangkan hati semua orang yang mendengarnya.
__ADS_1
"Semua yang dikatakan Vani benar, Ma. Bukan tangisan yang Johan butuhkan, dia butuh doa dan dukungan dari kita!" sahut Rizal menghampiri Renata dan ikut duduk disamping Renata.
Setelah Rizal duduk disamping Renata. Vani bangkit berdiri menghampiri suaminya, yang masih berdiri tak jauh dari pintu sambil menatapnya.
"Mas, apa aku boleh melihatnya?" tanya Vani menatap suaminya.
Juna merasa begitu dihargai oleh istrinya, dengan sikap Vani yang selalu meminta izinnya sebelum melakukan sesuatu. Dengan hati yang bahagia, Juna tersenyum sembari menganggukkan kepalanya menatap istri tercintanya itu.
Setelah mendapat persetujuan dari suaminya.
Vani menghampiri Amelia yang juga masih berada di sana memperhatikan semuanya. Vani tersenyum lembut padanya. "Apa aku boleh melihat suamimu?" tanyanya meminta izin pada Amelia yang kembali menangis mendengarnya.
"Maafkan aku," ucap Amelia disela tangisnya.
"Jangan meminta maaf. Lupakan semuanya. Aku ingin semua memulai dari awal dengan baik. Lupakan yang sudah terjadi, seperti aku yang juga sudah melupakan semuanya," ucap Vani tersenyum tulus padanya.
"Boleh aku melihatnya?" ulang Vani bertanya pada Amelia yang perlahan menganggukkan kepalanya.
Vani kembali melangkahkan kakinya mendekati ranjang Johan setelah mendapat izin dari suaminya dan istri Johan. Namun, tiba-tiba ia berbalik kembali menatap Juna.
"Maz, temani aku!" Vani menggandeng tangan Juna mendekati ranjang Johan.
__ADS_1
***
Ampun ya. Haluku berasa udah kebangetan.🙏🤭 Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan atau riset atau hal lainnya ya kak. Terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian dan karena masih mengikuti cerita ini. 🙏🙏