
Johan masih saja memikirkan wanita yang ditemuinya beberapa jam yang lalu. Wajah cantik yang selalu terkenang dihatinya selama ini, seakan hadir nyata di hidupnya, bukan lagi sekedar hanya kenangan semata.
Johan masih mengingat jelas wajah wanita yang begitu sangat mirip dengan Amelia, almarhum istrinya, wanita yang namanya masih menjadi tanda tanya besar di hatinya.
Johan yang selama ini tak pernah percaya jika ada yang mengatakan jika kemiripan wajah seseorang sering terjadi meskipun ada atau tanpa ikatan, tapi sekarang ia percaya akan hal tersebut sebab ia sudah melihat sendiri buktinya. Johan juga sudah meminta sahabatnya yang berada di kota Jakarta, untuk menyelidiki tentang wanita bernama Amanda itu. Dari hasil yang di temukan teman Johan, Amanda tidak seperti Amelia, yatim piatu. Kedua orang tua Amanda sudah meninggal saat Amanda remaja.
"Wajah mereka sangat mirip, hanya penampilan dan sikap saja yang membedakan keduanya," gumam Johan yang sudah berada di kantornya.
Yang Johan katakan benar adanya. Amelia adalah wanita yang berpenampilan cukup modis dan glamor. Amelia juga bukan tipikal wanita yang bersahabat, wanita itu sedikit pemilih dan cukup arogan kala itu, berbeda dengan Amanda yang berpenampilan sederhana dan lebih tenang. Sikap Amanda lebih mirip seperti Vani, tetapi fisik seperti Amelia. "Semua tidak mungkin kebetulan. Apa mungkin mereka kembar? Apa ini semua rencanamu, Tuhan?" gumam Johan.
Jika benar mereka kembar, kenapa tidak ada bukti untuk itu? Pikir Johan.
Johan sama sekali tidak tahu jika Amelia adalah anak angkat di keluarga orang tua Amelia, semua itu karena memang sebelumnya Johan tidak pernah ingin tahu tentang Amelia.
__ADS_1
Johan yang sedang melamun tersadar dari lamunannya, saat seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" ucapnya.
"Pak, sudah waktunya rapat mingguan, semua orang yang bersangkutan sudah berkumpul di ruang rapat!" ucap Rani yang muncul di balik pintu, mengingatkan kembali jadwal Johan.
"Baiklah," jawab Johan datar, bangkit dari duduknya, lalu melangkah lebih dulu keluar dari ruangannya di ikuti oleh Rani di belakangnya.
Rapat di mulai, masing-masing dari ketua tim sudah bersiap dengan hasil kerja mereka dan satu persatu mulai menyampaikan kepada Johan, selama jalannya rapat, Johan sama sekali tidak menyimak apa yang tengah di bicarakan oleh pegawainya, yang ada di pikirannya hanya tentang wanita yang bernama Amanda. Hingga rapat selesai, Johan masih saja terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun hingga akhirnya Rani menutup rapat, namun sebelum membubarkan rapat, ia sudah mendapatkan semua hasil laporan dari rapat yang baru saja berlangsung.
Johan teralihkan dari pikirannya, menatap Rani lalu menatap ruangan yang hanya menyisakan ia dan Rani.
"Anda bisa bercerita pada saya jika ada masalah, meski mungkin tidak bisa membantu, tapi saya akan jadi pendengar yang baik untuk Anda," ucap Rani lagi.
"Tidak, kalaupun ada, lagi pula itu bukan urusanmu. Jangan ikut campur urusan orang lain," ucap Johan pelan namun terdengar seperti sindiran untuk Rani yang mendengarnya. Johan keluar dari ruang rapat meninggalkan Rani yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Sial. Rani membatin kesal.
"Oh iya, setelah jam kerja selesai kamu bisa langsung pulang karena saya akan pulang sekarang!" ucap Johan berbalik sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengannya? Kenapa sangat sulit mendekatinya? " gumam Rani setelah Johan menghilang dari pandangannya.
"Apa aku benar-benar harus mendekati putranya? Tapi, sepertinya Arsen lebih susah untuk di dekati, bagaimana ini?" ucap Rani lagi, benar-benar merasa frustasi memikirkan cara untuk masuk ke dalam kehidupan Johan.
***
Hai Kakak. Di bab-bab selanjutnya memang akan lebih menceritakan kehidupan Johan, anaknya dan anak Vani. Jadi nggak ada lagi fokus ke Vani Juna, karena kisah mereka sudah berakhir bahagia. Aku lanjut di sini agar tidak ada yang kelewatan baca kisah ini dari awal. Jadi, untuk yang tidak ingin baca kisah Johan, artinya bisa berhenti, karena memang kedepannya akan banyak di isi sama kisa Johan. Tapi, kalau masih mau lanjut alhamdulillah. Semuanya hak kalian. Kalian baca Vani sampai ending bahagia aja aku udah seneng banget. Terpenting aku selalu ucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah mampir, baca ceritaku dan beri dukungan.
Terima kasih, Kak. Maaf juga kalau alurnya tidak seperti yang kalian harapkan.🙏🤗
__ADS_1