
Pernikahan yang harusnya akan di adakan secara meriah terpaksa batal saat Amanda ataupun Johan menentangnya.
Keduanya tidak ingin menggelar pernikahan yang meriah apa lagi di hadiri oleh banyak orang, mereka justru ingin pernikahan yang tertutup.
"Kamu siap?" tanya Rizal, pada putranya.
"Siap tidak siap," jawab Johan datar.
"Johan, papa harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, ini pernikahan keduamu, jangan sampai pernikahanmu yang kedua ini juga gagal seperti sebelumnya. Meski pernikahan ini bukan lantaran cinta, tetapi papa berharap pernikahan ini akan menjadi awal kebahagiaan kalian untuk menua bahagia bersama," ucap Rizal memberikan masukan pada putranya.
"Antara aku dan wanita itu tidak ada hubungan apapun, aku menikahinya karena terpaksa dan juga karena Arsen sangat menyukainya. Aku juga menikahinya hanya sebatas nikah siri," ucap Johan menjawab.
"Jo cobalah untuk menerima kehadirannya dalam hidupmu, jangan sampai kamu menyesal seperti sebelumnya. Ingat Jo, bukankah kamu sudah berjanji akan berubah?" ucap Rizal lagi.
"Aku tidak akan menutupi apa yang terjadi pada wanita itu, aku akan berterus terang padanya jika aku tidak akan bisa mencintainya atau menerimanya sebagai istriku, aku tidak ingin dia berharap padaku," jawab Johan mengejutkan Rizal.
__ADS_1
"Kamu akan melakukan hal yang sama seperti pada Amelia?" tanyanya tak percaya.
"Tidak. Aku akan bersikap baik padanya, hanya saja aku tidak bisa memberikan cinta padanya," jawab Johan.
"Lantas kenapa kamu menikahinya jika kamu tidak ingin mencoba menerima dan mencintainya? Pernikahan bukanlah ajang percobaan, Jo. Kapan kamu mengerti semua itu?" tanya sang ayah kesal.
"Aku sudah mengatakan pada kalian alasannya, aku akan membicarakan semua ini nanti padanya dan membiarkan ia yang memutuskan. Wanita itu juga terlihat tidak menyukaiku, mungkin kami bisa menjadi partner yang baik untuk menjaga anak-anak!" jawab Johan santai.
"Kalian yakin? Bagaimana jika nanti dia justru mencintaimu?"
"Jika nanti dia mencintaiku, aku harap aku juga bisa membalas cintanya, karena jika tidak, maka dia akan tersakiti. Aku tidak ingin membuatnya jatuh cinta padaku, tapi aku akan mencoba menerimanya sebagai ibu untuk Arsen," ucap Johan yang masih saja kekeh dengan pendiriannya.
"Sepertinya sudah waktunya turun, acara sudah akan di mulai." Johan lebih dulu berjalan keluar.
Tak ada hiasan dekorasi pernikahan yang megah ataupun meriah di sana, hanya sebuah ruang tamu yang di tata sedikit lebih berbeda dari biasanya dimana acara akad nikah akan di selenggarakan.
__ADS_1
Johan duduk di depan penghulu tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Dia yang sedari tadi tak merasakan apa-apa dan tak memberikan reaksi apapun akan pernikahannya yang tinggal menghitung menit lagi di gelar itu, sekarang menegang, tubuhnya bergetar dengan sangat hebat, jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok yang berada tepat di belakang kedua orang tuanya.
Sosok perempuan yang sepenuhnya sudah menempati hatinya, matanya berkaca-kaca menatap wanita yang begitu cantik dalam balutan busana muslim tersebut. Johan yang tak bisa menahan gejolak di hatinya, bangkit berdiri dan menjauh pergi dari lokasi pernikahannya, membuat semua orang yang berada di sana bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini?" tanya penghulu.
"Tidak apa-apa, dia hanya grogi, dia akan segera kembali," ucap Renata menjawab, lalu berdiri menyusul Johan.
Amanda yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut tentu saja melihat semua yang terjadi, sama seperti mereka yang kebingungan, ia juga merasakan hal yang sama.
Semua orang bertanya-tanya di manakah Johan berada? Pria itu saat ini berada di belakang rumah mereka. Berusaha menenangkan hatinya yang kembali terasa begitu sesak saat melihat sosok yang begitu ia rindukan tengah berada di rumahnya.
"Johan," ucap Renata menyentuh bahu Johan.
"Kenapa Mama mengundangnya? Kenapa Mama memberitahukan semua ini padanya?" tanya Johan dengan nada meninggi pada Mamanya.
__ADS_1
"Jo, maafkan Mama. Tapi Mama pikir Vani dan keluarganya adalah kerabat kita, jadi tidak ada salahnya mama mengundang mereka," ucap Renata merasa bersalah. Jika sedari awal ia tau pernikahan akan di gelar secara tertutup, tentu dia tidak akan mengundang Vani.
"Ma, aku tidak bisa melakukan semua ini, apa lagi di depannya, bagaimana mungkin bisa aku menikahi wanita lain di depan wanita yang masih menempati hatiku, bagaimana mungkin bisa, Mah?" ucap Johan tanpa sadar meneteskan air matanya.