
Pasangan yang selalu terlihat mesra dimanapun mereka berada itu, tengah bersantai menonton tv di dalam kamar mereka.
"Mas, ini tangan nggak bisa diam apa?" tanya Vani kesal, mencubit tangan Juna yang sedari tadi terus saja mengusap lembut perutnya, bahkan sesekali juga meremas bagian dadanya.
Posisi Juna saat ini sedang berbaring dengan menjadikan paha Vani sebagai bantalnya. Kepala Juna menghadap perut istrinya dengan tangan kiri memeluk pinggang Vani, dan tangan kanan terus mengusap bagian perut Vani.
"Aku nggak akan macam-macam sayang, aku cuma pengen menyentuhnya!" ucap Juna, masih tetap melakukan apa yang ia inginkan.
"Bukan tv yang kita tonton, tapi malah tv yang menonton kita!" gumam Vani, membuat Juna tersenyum mendengarnya.
"Cepatlah hadir sayang ... Ayah sangat menanti kehadiranmu, Bunda juga. Iya kan Sayang?" ucap Juna bertanya pada Vani, yang saat ini terdiam mendengar ucapan suaminya.
"Mas, kamu benar-benar ingin anak dariku?" tanya Vani pelan, yang membuat Juna menjadi kesal mendengarnya.
"Kalau bukan darimu lalu dari siapa lagi? Apa istriku lebih deri satu? Istriku ada berapa sampai kamu bertanya seperti itu?" tanya Juna kesal, bangkit dari tidurnya lulu duduk menghadap Vani.
"Mas, kenapa jadi marah? Kan aku cuma bertanya, apa salah?" ucap Vani menunduk takut.
__ADS_1
"Pertanyaanmu jelas salah! Kamu jelas tahu aku dan kedua orang tuaku sangat berharap kamu hamil, tapi kamu masih bertanya seperti itu," jawab Juna, membuat Vani diam.
Juna yang melihat Vani terdiam karena ucapannya menjadi merasa bersalah.
"Maafkan aku, sayang! Aku tidak bermaksud memarahimu, aku hanya kesal mendengar pertanyaanmu itu. Kamu satu-satunya wanita yang ada di hati dan hidupku.
Aku sangat mencintaimu, hanya kamu yang aku inginkan menjadi Ibu dari anak-anakku," ucap Juna lembut, mengelus kedua pipi Vani.
"Aku minta maaf ya!" ucap Juna lagi, mengecup lama dahi Vani lalu membawa Vani masuk kedalam pelukan nya
"Aku sangat tidak sabar ingin mempunyai anak, sayang! Dan itu hanya darimu! Aku ingin rumah ini dipenuhi suara anak kita, dipenuhi canda tawanya dan pastinya kehadirannya akan membuat hubungan ini lebih kuat serta kehidupan kita terasa jauh lebih sempurna!" ucap Juna begitu lembut, kembali mengecup kepala Vani.
"Semua tergantung sama yang diatas, Mas. Kita hanya bisa berusaha, dan Tuhan yang menentukan hasilnya."
"Maka dari itu, aku terus berusaha agar benih yang aku taburkan cepat tumbuh disini!" ucap Juna kembali mengusap bagian perut Vani, namun kali ini tangannya kembali nakal meremas kedua bongkahan padat milik istrinya.
"Sayang ... " rengek Juna, yang wajahnya sudah tenggelam di leher Vani.
__ADS_1
"Mas, ada yang mau aku katakan!" seru Vani menghentikan aktivitas Juna yang mulai menjelajahi tubuhnya.
"Katakan!" ucap Juna masih tetap melanjutkan kegiatannya, bahkan tangannya sudah sangat cepat membuka kancing piyama yang digunakan Vani.
"Aku sudah hampir dua minggu telat datang bulan!" ucap Vani memberitahukan pada Juna, yang seketika menghentikan kegiatannya yang baru saja mulai memainkan bongkahan milik Vani.
"Apa itu artinya kita akan segera memiliki anak?" tanya Juna begitu antusias, saat dirinya juga menyadari sejak awal menikah ia tidak berhenti menyentuh Vani, sebab sama sekali tidak terganggu dengan yang namanya tamu bulanan istrinya.
"Aku masih belum tau, karena aku belum memeriksanya. Aku tidak mau terlalu berharap, nanti takutnya hanya siklus datang bulanku yang tidak teratur!" jawab Vani menunduk.
"Tidak perlu dipikirkan, sayang. Jika belum, kita harus bersabar dan tetap berusaha!" jawab Juna kembali lagi melanjutkan aktivitasnya, melakukan usaha seperti yang ia maksud.
"Bagaimana jika aku–" Pertanyaan Vani belum selesai dia katakan saat Juna sudah lebih dulu menyambar bibirnya.
Tidak ada salahnya besok aku membawa Vani menemui dokter kandungan. Siapa tau harapanku bisa menjadi kenyataan,' ucap Juna dalam hati sembari terus memacu dirinya diatas tubuh Vani.
Bagaimana jika aku mandul? Batin Vani merasa takut semua hanya harapannya saja karena terlalu stres memikirkan keinginan suami dan mertuanya.
__ADS_1