
Beberapa saat kemudian, Amanda keluar dari ruangan para guru dan menghampiri pria kecil yang tengah duduk menunggunya di bangku yang berada tak jauh dari sana.
"Ayo, Bunda perkenalkan Arsen dengan teman-teman baru Arsen!" ajak Manda yang sudah berdiri di depan Arsen.
Arsen dan Amanda masuk ke dalam kelas di mana anak-anak sudah duduk dengan rapinya saat melihat guru mereka masuk ke dalam kelas. Amanda menjadi bunda guru yang paling di sukai, dia guru yang cara mengajarnya paling lembut, namun dia juga guru yang dengan mudah menertibkan murid-muridnya. Meskipun cara mengajarnya yang lembut, tapi tetap saja setiap murid berkelakuan baik dan tidak menyulitkannya dalam hal mengajar serta yang lainnya. Itu juga yang tak jarang membuat beberapa guru lainnya iri dengan cara Amanda yang dapat dengan mudah mendidik murid-murid di sana.
"Selamat pagi, anak-anak kesayangan bunda!" ucapnya tersenyum menatap semua muridnya.
"Selamat pagi Bunda Manda!" sahut anak-ank dengan sopan terdengar riang pada Amanda.
"Hari ini kita kedatangan teman baru, Bunda harap anak-anak Bunda yang lain mau berteman baik dengan teman baru kalian ya," ucap Amanda dengan sangat lembut.
"Arsen, sekarang perkenalkan diri ya, Arsen mengerti kan?" tanya Amanda pelan pada Arsen yang mengangguk mengerti.
"Hai semuanya. Namaku Rajendra Arsenio, kalian bisa panggil Arsen!" ucapnya terdengar begitu datar membuat Amelia yang mendengar dan melihat cara Arsen berbicara, mengerutkan dahinya.
'Dia berbicara denganku begitu lembut dan bersahabat, persis seperti anak-anak lainnya, tapi kenapa saat dia berbicara dengan anak seusianya, dia justru bersikap dingin seperti ini? Dia justru terlihat tidak ingin berteman. batin Amanda menatap bingung atas sikap Arsen.
"Anak-nak, ayo ucapkan selamat datang untuk teman baru kalian!" ucap Amanda kencang pada murid-muridnya yang lain yang masih terus menatap Arsen yang dengan acuhnya berdiri tegap menghadap mereka.
"Selamat datang, Arsen!" ucap mereka secara bersamaan.
"Arsenio, kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada di sana, ya!" Amanda berkata sembari menunjuk bangku kosong yang di maksudnya.
"Bunda, apa aku bisa duduk di sebelah sana?" tanya Arsen menunjuk kursi kosong yang ada di sudut ruangan.
"Kenapa di sana? Jika di sana Arsen akan duduk sendirian, bukannya akan bagus duduk bersama teman-teman?" ucap Amanda bertanya.
"Aku lebih suka duduk di sana!" jawab Arsen datar.
__ADS_1
"Baiklah, Arsenio bisa duduk di sana!" Amanda mengikuti keinginan muridnya.
Beberapa jam kemudian, jam belajar sudah selesai dan anak-anak satu persatu sudah keluar dari kelas saat jemputan mereka sudah tiba, dan hanya menyisakan Arsen yang masih setia berada di sana.
"Arsenio belum di jemput? Siapa yang akan menjemput Arsenio? Mama atau Papa?" tanya Amanda menghampiri pria kecil itu.
"Mama tidak ada. Nek Maryam yang akan menjemput Arsen," jawab Arsen kembali terdengar lembut pada Manda.
Mendengar jawaban Arsen yang mengatakan jika Mama tidak ada, membuat Manda teringat apa yang diceritakan Bunda Yuli kemarin. Manda menyesal telah bertanya hal itu, dan merutuki kebodohannya yang melupakan itu.
Beberapa saat kemudian, seseorang menghampiri Arsen dan Amanda.
"Arsen, Jemputanmu sudah dari tadi menunggu, loh!" ucap Yuli, kepala sekolah di sana menghampiri keduanya yang masih berada di kelas.
"Oh, Iya Bunda, saya pikir belum ada jemputan!" Manda tersenyum.
"Bunda, apa Arsen boleh main ke rumah Bunda?" tanya Arsen saat mereka sudah dekat dengan mobil jemputan Arsen.
Amanda terdiam sejenak mendengar ucapan Arsen. Dia akui banyak sekali murid yang berusaha dekat dengannya, namun baru Arsen yang terang-terangan mengatakan ingin datang ke rumahnya secara terang-terangan seperti itu.
"Arsen mau main ke rumah Bunda?" tanyanya memastikan yang di jawab anggukan oleh Arsen.
"Tentu saja boleh." Amanda tak kuasa menolak, dia tersenyum sembari mengusap lembut kepala Arsen.
Maryam yang berada di samping mobil menghampiri keduanya, karena merasa penasaran dengan siapa Arsen berbicara saat melihat Arsen tersenyum ketika seseorang mengusap kepalanya.
"Am–Amelia?" ucap seseorang yang untuk kedua kalinya Manda mendengar seseorang menyebutnya Amelia.
"Nek, ini Bunda Amanda namanya, bukan Mama!" sahut Arsen berkata pada wanita yang menyebut Manda dengan nama Amelia.
__ADS_1
"Eh, maaf Bu, saya salah," ucap Maryam yang salah tingkah menatap Amanda yang menatap bingung padanya.
Mama? Kalau tidak salah mendengar, aku dengar dia menyebut Mama. Apa aku mirip dengan mamanya? Batin Amanda.
"Tidak apa-apa Bu, panggil saja Amanda," ucapnya merasa tidak sopan saat seseorang yang lebih tua darinya memanggilnya ibu, meskipun itu sering ia dengar karena gelarnya yang sebagai seorang guru.
"Apa saya mirip dengan wanita yang ibu sebut bernama Amelia?" tanya Amanda mencari tau.
"Iya Bu guru, Anda mirip dengan almarhumah majikan saya!" jawab Maryam masih saja memanggil Amanda dengan panggilan ibu, namun dengan tambahan Bu guru setidaknya membuat Amanda tidak keberatan mendengarnya.
"Baiklah, saya mengerti memang kemiripan seseorang menjadi hal biasa. Arsen hati-hati ya, jangan lupa mengerjakan PR dari Bunda!" ucap Amanda tersenyum pada Maryam lalu bergantian menatap Arsen yang menganggukkan ucapannya.
"Bunda, menunduk!" pinta Arsen pada Amanda yang langsung menundukkan tubuhnya, dan tiba-tiba mendapat kecupan di pipinya dari pria kecil tersebut, membuatnya tersenyum menatap Arsen.
"Arsen pulang, Bunda. Sampai bertemu besok!" ucap Arsenio masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Maryam.
"Kami permisi Bu Guru!" ucap Maryam yang di anggukan oleh Amanda.
Di dalam mobil, Maryam masih larut dalam pikirannya mengingat wajah guru Arsen yang sangat mirip dengan wajah Amelia, apa mungkin Amelia mempunyai kembaran? pikirnya.
"Nek, Bunda Manda cantik, Bukan?" tanya Arsen menyadarkan Maryam dari lamunannya.
"Iya, cantik!" jawab Maryam.
"Aku menyukainya, dia tidak genit seperti wanita-wanita lainnya yang sering aku lihat!" ujar Arsen lagi.
"Iya, Nenek dapat melihat itu!" sahut Maryam tersenyum.
"Aku suka bersekolah di sini karena ada Bunda Manda," ucap Arsen lagi, yang di tanggapi dengan senyuman oleh Maryam yang kembali larut dalam lamunannya memikirkan kemiripan Amanda dan Amelia.
__ADS_1