
Setelah kegiatan yang memberikan kenikmatan tersebut usai, Juna merebahkan tubuhnya di samping Vani dengan posisinya yang lebih turun menghadap perut Vani.
"Hai, jagoannya ayah! Tumbuh yang baik didalam sini ya nak. Ayah, Bunda, dan yang lainnya sangat menantikan kehadiranmu, sayang! Kami semua mencintaimu," ucap Juna dengan lembut berulang kali mengecup perut Vani dengan air mata yang mulai menetes. Katakanlah Juna cengeng, namun ia sama sekali tidak perduli akan pendapat siapapun karena yang jelas saat ini ia merasa sangat-sangat bahagia.
"Aku sangat bahagia memiliki kalian," ungkap Juna.
Vani tersenyum membelai rambut Juna dan juga berulang kali mengucapkan syukur dalam hatinya atas semua yang diberikan Tuhan padanya.
"Jagoan, kamu tahu? Ayah sudah sangat tidak sabar ingin membelikan semua hal untukmu. Membayangkan hari-hari indah nanti saat kehadiranmu, membuat Ayah semakin bersemangat. Ayah akan berusaha menjadi ayah terbaik untuk jagoan ayah," ucap Juna lagi terus berbicara pada calon anaknya.
"Jagoan?" Beo Vani yang dianggukkan oleh Juna.
"Mas. Kamu selalu sebut dia jagoan. Kamu yakin bayi kita laki-laki? Bagaimana jika dia perempuan?" tanya Vani, membelai rambut Juna yang kepalanya masih berada diperutnya.
__ADS_1
"Satu minggu lagi jadwal pemeriksaan mu, dan seperti kata dokter Indira jika usia kehamilan lima bulan sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya. Aku sangat yakin dia akan jadi jagoan. Jagoan ayah," ucap Juna kembali mengecup perut buncit istrinya.
"Bagaimana jika perempuan? Apa kamu akan kecewa?" tanya Vani takut.
"Apapun jenis kelaminnya, yang penting dia selalu sehat, laki-laki ataupun perempuan dia tetap anak kita, dan aku sangat mencintainya sama seperti aku mencintai Bundanya!" jawab Juna, lalu bangkit dan duduk disamping Vani yang masih berbaring telentang ditempat tidur.
"Kamu mau sarapan apa, sayang?" tanya Juna mengusap peluh di wajah istrinya.
Ya, sejak kehamilan Vani, Juna lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama istrinya. Juna sama sekali tidak peduli dengan julukan semua orang yang mengatakan dia bucin, sebab bucinnya adalah pada istrinya, wanita yang sangat dicintainya.
"Bukan sarapan, tapi udah mau masuk waktu makan siang!" kekeh Vani, melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas.
Juna yang mendengar kekehan istrinya menggusal rambut Vani mengecup sayang pucuk kepalanya, kemudian mengecup sekilas bibir Vani lalu turun dari ranjang dengan tubuh polosnya.
__ADS_1
"Mas. Pakai celanamu!" pinta Vani yang masih saja terkejut dengan tingkah Juna yang terbiasa memperlihatkan tubuh polosnya pada Vani tanpa merasa malu.
Juna yang mendengar itu dengan usil menggoda istrinya. "Kenapa?" tanyanya.
"Itu!" tunjuk Vani dengan wajah merona.
"Ini?" Juna menahan tawa sembari menggenggam senjatanya mengarahkan pada Vani yang semakin malu sendiri melihatnya. "Mas....," lirihnya membuat Juna tertawa kencang dengan sikap istrinya yang menggemaskan.
"Kamu sudah merasakannya, sudah menyentuhnya, bahkan sudah tak terhitung juga dia menyatu dalam tubuhmu. Jadi kenapa aku harus malu didepan istriku sendiri?" cibir Juna tersenyum, memberikan kiss jarak jauh pada Vani lalu segera masuk kedalam kamar mandi.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta dengamu, jika kamu memperlakukanku dengan sangat baik seperti ini. Bahkan hingga saat ini aku belum menemukan satu keburukan pun dari dirimu, Mas. Semua kesempurnaanmu terkadang membuatku takut, Mas. Namun aku tetap akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Aku mencintaimu," gumam Vani yang memang sudah sepenuhnya mencintai Arjuna Lakeswara–suaminya.
"Aku juga sangat mencintaimu, istriku. Bahkan jauh lebih besar dari rasa cintamu." Meski sudah masuk ke dalam kamar mandi, tapi Juna yang ternyata mendengar samar suara istrinya.
__ADS_1