Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Operasi


__ADS_3

"Mel, Amelia!" pekik Johan, tanpa sadar air matanya menetes melihat kondisi Amelia, Johan mengangkat Amelia membawanya dengan sangat hati-hati menuruni anak tangga.


"Mobil, cepat siapkan mobil!" suara teriakan Johan menggema di setiap sudut rumah, Rizal dan Renata yang menyusul Johan saat mendengar suara teriakan Amelia sebelumnya, juga tak kalah syok melihat keadaan Amelia. Renata menangis melihat keadaan menantunya yang sangat jauh dari kata baik itu, semua orang merasa panik, namun juga bergerak cepat untuk membawa Amelia menuju rumah sakit.


"Tolong, bertahanlah, Mel. Aku mohon!" ucap Johan, berulang kali mengusap lembut wajah Amelia yang sudah mulai memucat.


"Tolong lebih cepat lagi!" titah Johan pada supir yang mengemudikan mobilnya.


"Pah, ada apa dengan Amelia. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka?" tanya Renata pada suaminya, dimana mereka juga berada didalam mobil lainnya menyusul Johan.


"Tenanglah, Mah. Semua pasti baik-baik saja!" jawab Rizal mencoba berpikir positif, meskipun ia sendiri begitu cemas memikirkan keadaan cucu dan menantunya.


"Ya Tuhan, tolong lindungilah mereka, aku mohon!" ucap Renata dalam tangisnya yang begitu merasa khawatir dengan keadaan Amelia beserta kandungannya.


Amelia dilarikan ke rumah sakit terdekat, setibanya disana ia segera dibawa keruang UGD untuk segera mendapat pertolongan. Bukan hanya Johan yang terlihat begitu khawatir, Renata dan Rizal juga begitu mencemaskan kondisi Amelia. Beberapa saat kemudian setelah melakukan pemeriksaaan, Dokter keluar menghampiri Johan dan keluarganya.


"Bagaimana dengan istri saya?" kata istri untuk pertama kalinya terlontar dari Johan, saat menanyakan keadaan Amelia. Jika saja Amelia mendengarnya, mungkin dia akan merasa sangat bahagia mendengar Johan menyebut kata istriku.


"Maaf,Tuan. Kondisi istri anda bisa dikatakan buruk, untuk itu saya menyarankan untuk segera melakukan operasi caesar agar anak kalian bisa diselamatkan. 


"Lakukan yang terbaik untuk keduanya!" sahut Rizal menjawab Dokter tersebut saat Johan hanya terdiam membeku ditempatnya setelah mendengar penuturan Dokter.


Kata "Kondisi yang buruk dan Operasi" menyimpan kenangan tersendiri pada Johan hingga membuatnya terdiam mematung setelah mendengarnya.

__ADS_1


Renata menghampiri Johan, setelah Rizal pergi bersama Dokter untuk melakukan prosedur lainnya sebelum operasi Amelia akan berlangsung.


"Johan, kamu baik-baik saja?" tanya Renata lembut mengusap lengan Johan.


"Mah, bagaimana jika mereka tidak dapat diselamatkan?"


"Mah, bagaimana jika mereka tidak dapat diselamatkan?" tanya Johan terdengar begitu frustasi saat mengatakannya.


"Mereka pasti akan baik-baik saja, Jo!" jawab Renata sembari menggiring Johan untuk duduk di kursi yang tersedia disana.


"Mah, aku ingin melihatnya!" ujar Johan berniat bangkit, namun dihentikan oleh Renata.


"Biar mereka mengerjakan tugas mereka, mereka juga akan mempersiapkan operasi untuk Amelia," ucap Renata tidak ingin Johan semakin cemas saat melihat bagaimana buruknya keadaan Amelia yang tidak sadarkan diri itu.


"Mereka pasti akan selamat, kita doakan yang terbaik untuknya," ujar Renata mengusap punggung Johan.


Beberapa jam sudah berlalu, dan selama beberapa jam itu pula Johan tak beranjak dari depan ruangan operasi Amelia. Ia begitu setia menanti didepan ruang operasi tersebut, meski sudah beberapa jam berlalu, Johan masih setia menunggu dengan perasaan cemas yang tak henti menghantuinya. Dalam kecemasan yang dirasakannya, Johan terus saja mengucap doa agar Amelia dan anaknya selamat dan operasi berjalan lancar.


Renata dan Rizal yang sebelumnya pulang ke rumah setelah Rizal selesai mengurus semua prosedur yang diperlukan sebelum melakukan operasi, pulang ke rumah guna menyiapkan kebutuhan lahiran Amelia, sekarang sudah kembali lagi ke rumah sakit.


Keduanya dapat melihat dengan jelas jika Johan sangat mengkhawatirkan kondisi istri dan anaknya.


"Pah, apa aku bisa mengatakan jika Johan sudah mulai menerima dan mencintai Amelia lagi?" tanya Renata menghentikan langkah mereka masih dengan posisi mereka yang berada cukup jauh dari Johan yang larut dalam kecemasannya.

__ADS_1


"Bukan mencintai, tapi lebih kepada rasa perduli, Mah! Johan sudah bisa menerima Amelia sebagai ibu dari anaknya, namun tidak untuk cinta karena aku masih melihat cintanya untuk Vani," jawab Rizal menilai sebagai seorang pria.


"Setelah semua yang sudah berlalu, kenapa sulit sekali untuknya melupakan Vani? kemarin aku sempat berpikir jika dia sudah melupakan Vani, tapi ternyata tidak."


"Bagaimana bisa dia melupakan Vani jika ia sendiri tidak mau melakukannya. Semua itu harus ditekankan dari hati Mah, jika dia tidak mau bagaimana dia bisa?" ujar Rizal yang diangguki mengerti oleh Renata.


Pandai sekali aku berbicara, bagaimana denganku? Batin Rizal beberapa detik terdiam.


"Jika saja dia sendiri mau berusaha melupakan Vani, maka perlahan dia akan melupakan Vani. Tapi, disini Johan sendiri yang tidak ingin melupakan Vani. Dia menyimpan sendiri cintanya, dia membiarkan rasa cinta itu untuk tetap dihatinya," sambung Rizal lagi dengan tatapannya yang masih menatap Johan.


"Mama sangat berharap banyak dengan hadirnya cucu kita dapat membuat Johan melupakan Vani, dapat membuat Amelia dan Johan berhubungan baik, mama berharap cucu kita dapat mengubah semuanya! dan tentunya membawa kebahagiaan untuk kita semua," ucap Renata penuh harap.


"Aku juga mengharapkan hal yang sama," jawab Rizal, sembari melanjutkan langkah mereka menghampiri Johan.


"Pah, Mah. Kenapa mereka belum keluar juga sampai sekarang?" tanya Johan saat kedua orang tuanya sudah berada dihadapannya.


"Mereka sedang berusaha melakukan yang terbaik, Jo, proses melahirkan baik itu secara normal ataupun Caesar sama-sama membutuhkan waktu. Jadi kamu harus sabar dan tetap berdoa, apa kamu sudah sholat?" tanya Rizal pada Johan yang menjawab dengan gelengan kepala.


"Kalau begitu bersihkan dirimu, lalu lakukan kewajibanmu sebagai muslim!" sahut Rizal, memberikan sebuah paper bag berisi pakaian pada Johan.


"Aku ingin disini menunggu mereka mah!" ucap Johan mencoba menolak.


"Mereka akan baik-baik saja. Agar hatimu lebih tenang, pergilah. Tunaikan sholat dan mintalah pada yang maha kuasa," seru Rizal, yang akhirnya dituruti oleh Johan dan menerima paper bag yang masih menggantung ditangan ayahnya.

__ADS_1


"Aku titip mereka Mah, Pah. Aku akan segera kembali." Johan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya disana.


__ADS_2