
Di dalam kamarnya, Johan merebahkan tubuhnya di ranjang. Tangannya bergerak mengambil sebuah foto yang ia simpan di laci nakas samping tempat tidur.
Ia menatap foto kenangannya dulu bersama Vani, yang hingga sekarang tak dapat ia singkirkan sepenuhnya dari hidupnya.
Johan sadar jika dia tidak akan mungkin lagi kembali bersama Vani, namun tak dapat ia pungkiri jika rasa itu masih ada tersimpan di hatinya sebagai wanita terbaik yang pernah ada di hidupnya.
"Hai, Van, aku ingin bercerita kepadamu. Kamu tau? Di sini ada wanita yang sangat mirip dengan Amel, sepertinya dia wanita yang baik, namun tetap saja sampai saat ini kamu yang terbaik bagiku. Arsen sangat menyukainya, Van. Aku harus bagaimana?" ucap Johan bertanya pada foto yang hanya bisa memperlihatkan kedua orang yang tengah tersenyum itu.
Entah apa yang sebenarnya Johan rasakan, Johan sendiri bingung pada dirinya. Apa yang pernah di rasakan saat awal mengenal Vani, sekarang seakan kembali terjadi saat awal di bertemu Amanda. Johan terus menepis itu semua, tetapi hari ini Johan kembali merasa sesuatu yang berbeda. Apa karena dia mirip Amelia? Apa karena Johan masih merasa bersalah pda Amelia? Itulah yang Johan pikirkan.
Johan yang merasa kalut dengan pikirannya memilih untuk keluar dari kamar dan memutuskan untuk kembali ke kantor, dengan bekerja ia berharap bisa melupakan pikirannya tentang wanita itu dan keinginan Arsen.
Meski awalnya sudah berkata pda Rani jika dia akan langsung pulang, tapi pilihan Johan untuk kembali ke kantor sedikit bisa membantunya, hingga jam sembilan malam ia masih berada di kantor di saat kantor sudah terlihat sepi.
Johan yang merasa enggan untuk pulang memutuskan untuk pergi ke kelab malam dan mencari hiburan seperti yang sesekali ia lakukan di kala penat dengan pekerjaan
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Johan tiba di salah satu kelab malam terbesar yang ada di kota Semarang, ia masuk ke sana di sambut baik oleh pemilik Bar yang mengenal betul sosok pengusaha sukses tersebut.
Johan masuk ke ruang VIP tempat biasa ia saat berada di sana, ruang VIP namun dari dalam sana jelas ia dapat melihat keadaan di luar ruangan karena ruangan VIP tersebut menggunakan dinding kaca.
"Dia orang baru?" tanya Johan pada Deo pemilik tempat tersebut. Saat berada di sana, Deo akan secara langsung menemani Johan sebelum Johan menemukan seseorang yang cocok untuk menemaninya.
"Iya dia baru baru saja masuk kemarin malam, namanya Rila," jawab Deo turut menatap arah tunjuk Johan.
"Apa dia aman?" tanya Johan yang di jawab anggukan mantap oleh Deo.
"Aku mau dia menemaniku," ucap Johan mulai meneguk minumannya, yang baru saja di bawakan oleh pelayan kelab malam tersebut.
Dari pancaran mata Rila terlihat jika dia menyukai pelanggannya malam ini, Rila tersenyum menggoda menatap Johan yang menepuk sofa di sebelahnya memberi isyarat pada Rila untuk duduk di sana.
"Apa kita akan ke kamar?" tanya wanita itu pada Johan mengusap pangkal paha Johan.
__ADS_1
"Temani aku minum dulu," ucap Johan yang di turuti oleh Rila.
Rila melakukan tugasnya dengan sangat baik, menemani Johan minum hingga Johan mulai terlihat mabuk, melihat Johan yang sudah mabuk, Rila semakin gencar menggodanya dan menyambar bibir Johan meski awalnya Johan sempat menghindar.
Lidah keduanya mulai saling membelit, tangan Johan juga mulai menarik turun dress yang di gunakan Rila, namun saat ia melepaskan ciumannya dan melihat wajah Rila yang justru berubah menjadi wajah Amanda.
Melihat wajah Amanda yang berubah menjadi wajah Rila dan begitu seterusnya berubah-ubah membuat Johan geram, ia bangkit dari duduknya berjalan sempoyongan memilih keluar dari sana setelah melemparkan sejumlah uang kepada Rila yang hanya bisa mendengus kesal saat gagal mendapat pelepasan bersama pria tampan seperti Johan.
Dalam kesadarannya yang bisa di bilang sudah setengah menghilang, Johan berusaha mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk, menuju rumah wanita yang menjadi beban pikirannya seharian ini dan menjadi penyebab ia mabuk seperti sekarang ini.
Tak memperdulikan jarum jam yang sudah menunjukan pukul dua belas malam, Johan turun dari mobil dengan langkahnya yang sempoyongan menuju rumah Amanda.
Johan merasa begitu kesal pada Amanda saat pikirnya Amanda memanfaatkan putranya, Johan mengambil kesimpulan jika Manda lah yang mencuci pikiran Arsen agar menjadikannya ibu untuk Arsen.
"Buka pintunya," ucap Johan tanpa memperdulikan keberadaan dua orang pria yang berada tak jauh dari sana yang tengah berkeliling jaga malam menatapnya, memperhatikan gerak-geriknya.
__ADS_1
Di dalam rumah, Amanda yang sudah terlelap dalam tidurnya, merasa terusik saat seseorang terus saja menggedor pintu rumahnya. Manda melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah satu malam.
"Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?" gumamnya. Meski merasa malas, namun ia tetap keluar untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya tengah malam.