Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

"Jaga ucapanmu! Dia calon istriku! Jangan gila!" bentak Arjuna marah.


Amelia yang sudah kembali berdiri di depan Vani terlihat sangat murka. "Sampai kapan kau akan mengusik pernikahan kami? Apa kau tidak punya malu, hah?" teriaknya meluapkan kekesalannya.


"Aku sama sekali tidak pernah mengusik pernikahan kalian. Hubunganku dan Johan sudah berakhir. Dia yang mengejarku, bukan aku yang mengejarnya!" balas Vani tak terima mendengar tudingan Amelia.


"Berhenti! Siapa yang memintamu datang kemari! Aku sama sekali tidak menginginkau di sini dan dalam hidupku! Pergi! Jangan berani berkata kasar pada Vani-ku!" Johan yang juga tak terima mendengar ucapan kasar Amelia, tanpa perasaan memarahi Amelia dihadapan banyak orang.


Sikap Johan pada Amelia benar-benar membuat Amelia malu. Wanita itu terlihat berkaca-kaca lalu berlari keluar dari sana.


Vani yang sadar suasana akan semakin memburuk, bergerak cepat memeluk Arjuna, menatap Arjuna yang juga balas menatapnya. "Sayang, aku tidak nyaman berada di sini! Aku ingin pulang!" ucapnya.


Arjuna dengan sangat lembut mengecup dahi Vani di hadapan semua orang terutama Johan yang langsung bergerak maju melepaskan pelukan Vani dan Arjuna.


"Ada apa denganmu? Apa kau gila!" bentak Vani padanya.

__ADS_1


"Sayang, katakan padaku semua ini tidak benar!" pinta Johan sama sekali tidak memedulikan keadaan sekitar.


"Apa yang tidak benar. Semua jelas benar. Kau sudah menikah dan hubungan kita sudah lama berakhir. Aku bahagia bersama Arjuna, dia kekasihku, dia calon suamiku dan kami akan segera menikah. Apa lagi yang tidak benar? Terima kenyataan, Jo. Aku sudah melupakanmu, aku tidak mungkin kembali padamu sebab aku bahagia bersama pasanganku sekarang," jawab Vani lantang kembali memeluk Arjuna.


Apa yang Vani ucapkan jelas menyakiti Johan, tetapi sangat membuat Arjuna bahagia mendengar pengakuannya. Arjuna tersenyum dan kembali mengecup dahi Vani, mengusap lembut wajah Vani, berusaha meredakan emosi Vani yang sudah terpancing.


"Apa kelebihannya dariku? Kita sudah lama bersama sayang? Apa semudah itu kamu melupakan semua kenangan tentng kita?" tanya Johan pelan dengan raut kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kalian jelas berbeda. Dia pria dewasa yang bijak dan bertanggung jawab. Dia wujud pria baik yang sesungguhnya, dia bijak dan berterus terang dalam segala hal. Dia begitu jauh berbeda darimu. Dia bukan pria sepertimu, pria yang dengan mudah mengkhianati pasangannya. Namun yang pasti yang harus kamu tahu. Aku sangat nyaman dan bahagia bersamanya. Kedua orang tua kami juga merestui hubungan kami. Jadi sudah sangat jelas, bagiku dia jauh lebih baik darimu. Dia pria sempurna dalam hidupku, karena itu aku memilihnya!" jawab Vani, setelah itu menggandengan tangan Arjuna untuk pergi dari sana.


Keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, meski Arjuna terlihat fokus mengemudikan mobilnya.


Beberapa saat kemudian, ketika mereka akan melintasi taman yang menjadi salah satu tempat awal pertemuan mereka. Arjuna menghentikan mobilnya di sana, lalu memutar tubuhnya menatap Vani.


"Di tempat ini aku pertama kalinya merasakan jantungku berdebar lebih kencang saat melihatmu. Sama seperti sekarang, hari itu hujan turun, aku di sini memperhatikanmu yang tengah duduk menangis sendiri di kursi itu!" tunjuk Arjuna.

__ADS_1


Vani menatap ke arah yang Arjuna tunjuk dan sadar jika mereka berada di pinggir jalan, tepat di taman yang sering Vani datangi.


"Rasa peduli itu hadir tanpa diinginkan. Aku keluar dari mobil, menghampirimu yang saat itu tak sadarkan diri. Aku membawamu ke rumah sakit, aku semakin menyadari jika sesuatu terjadi pada hatiku meski kita baru bertemu. Ketertarikan itu semakin besar aku rasakan, tapi aku juga ragu akan diriku sendiri. Aku meninggalkanmu di rumah sakit setelah memastikan keadaanmu aman, tetapi aku berjanji pada diriku sendiri jika kita kembali bertemu dan perasaan itu masih sama, maka kamu akan menjadi milikku. Dan inilah yang akhirnya terjadi," ucap Arjuna lagi, menggenggam kedua tangan Vani saat Vani sudah kembali menghadapnya.


Vani masih diam. Vani yang seolah tahu masih banyak yang akan Arjuna katakan padanya, untuk itu Vani mencoba diam mendengarkan semuanya.


"Sayang. Aku tahu mungkin terlalu cepat. Aku juga mungkin belum bisa memastikan jika aku mencintaimu, tetapi yang aku tahu semua yang aku rasakan akan mengarah ke sana. Mengarah pada satu kata yaitu cinta.


Sejak awal melihatmu, aku selalu saja merindukanmu dan selalu ingin melihatmu. Aku ingin menjadi pria satu-satunya dalam hidupmu. Aku menyayangimu, aku menyukai semua yang ada pada dirimua. Semuanya. Aku tidak akan melepaskanmu dan tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku. Untuk itu aku ingin kamu benar-benar sepenuhnya menjadi milikku." Arjuna menghentikan sejenak setiap kalimat indah yang keluar dari bibirnya. Pria itu menatap Vani yang juga tengah menatapnya.


Vani tertegun tak dapat mengatakan apapun. Vani merasa terharu dengan perlakuan serta ucapan manis Arjuna padanya.


Sosok Arjuna yang tadi Vani ucapkan di depan semua orang benar nyata. Pria yang saat ini bersamanya itu benar-benar terlihat sempurna dan persaan bangga Vani rasakan karena Vani lah yang menjadi pemiliknya.


"Sayang, aku tahu aku belum bisa menjadi pria yang baik seperti pria baik di luar sana. Aku mungkin tidak bisa bersikap romantis seperti mereka, aku hanya bisa melakukan semua hal yang mungkin terkadang justru membuatmu merasa terpaksa. Namun aku tulus padamu. Aku juga ingin menjadi pria terbaik dalam hidupmu, aku ingin menjadi satu-satunya pria yang kamu inginkan. Aku ingin mencari semua kebahagiaan baik di dunia atau pun akhirat, hanya bersamamu. Aku ingin selalu bersamamu, untuk itu, maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2