Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Kebahagiaan Pengantin Baru


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, pasangan pengantin baru beserta rombongan tiba di sebuah hunian yang sudah siap menyambut mereka.


Rasa penasaran Aura yang ingin datang ke rumah baru Vani dan Arjuna lah yang membuat kedua orang tua Juna juga terpaksa ikut melihat hunian baru anak mereka.


"Wah.... Ma, Pa. Aku benar-benar akan merasa nyaman berada di sini. Apa aku boleh tinggal di sini bersama kakak?" Setelah berada di dalam rumah, Aura terlihat begitu antusias mengagumi bangunan tersebut.


Bukan hanya Vani, semua wanita yang melihat bentuk bangunan rumah tersebut pasti akan merasa nyaman dan menyukainya, begitu pula Aura yang seketika merasa rumah tersebut sama sepert rumah idaman ya dimasa depan.


"Kak, aku boleh tinggal di sini bersama kalian?"


"Tidak."


"Boleh."


"Tidak."


Secara bersamaan Vani, Juna, dan kedua orang tua Juna menjawab pertanyaan Aura yang ditujukan pada Juna dan Vani.


"Tidak. Kasihan Mama dan Papa kalau kamu disini," ucap Juna menolak dengan memberi alasan penolakannya.

__ADS_1


"Benar. Mama akan kesepian jika kamu tidak di rumah," sahut Ajeng menimpali ucapan Juna.


Vani yang melihat itu sedikit bingung dengan respon suami dan mertuanya. Apa alasan Aura tidak boleh tinggal bersama mereka? Vani akan dengan senang hati jika Aura bisa menemaninya, terlebih setelah ini Vani tidak akan bekerja lagi yang artinya Vani akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


"Ma–" Baru saja Vani akan bicara, Juna langsung merangkul pinggangnya, menghentikan kalimat Vani yang Juna tau arahnya.


"Sayang, aku lelah. Bisakah kita langsung beristirahat?" pinta Juna dengan wajah memelas menatap Vani yang sudah teralihkan dari Aura.


"Ya sudah, kalian istirahat lah. Kami juga akan langsung pulang!" Abimanyu yang tau jika Juna tak ingin di ganggu mengajak anak dan istrinya pulang.


"Pa, Ma...." keluh Aura tak terima, tapi tetap dipaksa oleh Ajeng dan Abimanyu untuk pulang.


"Tunggulah nanti setelah kakak iparmu hamil, Ra. Mereka baru saja menikah, biarkan mereka menikmati masa-masa pengantin baru mereka. Mama dan Papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Kalau kamu tinggal bersama mereka, mereka harus mencari waktu untuk berdua. Jadi, biarkan mereka bebas berdua, kamu mengerti?" ucap Ajeng dengan sangat lembut memberi pengertian pada putrinya itu.


"Oh.... Aku mengerti. Jadi, nanti kalau kakak sudah hamil, aku boleh tinggal bersama mereka, ma?" tanyanya memastikan.


"Tentu saja boleh. Mama juga akan lebih sering bermalam di sana jika sudah punya cucu," jawab Ajeng dengan wajah bahagia membayangkan hari itu tiba.


***

__ADS_1


Berbeda dengan adik dan kedua orang tuanya. Juna saat ini tengah menikmati kehangatan dekapan istrinya di dalam kamar mereka.


Awalnya Juna hanya mencari alasan untuk menghindari adiknya dengan mengatakan ingin istirahat, tetapi melihat respon istrinya–Vani, Juna berpikir untuk memanfaatkan semua itu.


Seperti sekarang dimana Juna meminta Vani ikut berbaring di ranjang dengan Juna yang terus memeluknya serta meminta Vani untuk balas memeluknya.


"Jangan seperti ini!" Vani yang merasa malu sendiri dengan posisi wajah Juna yang terus menempel di dadanya berusaha mengatur ulang posisi mereka.


"Sayang, aku lelah. Biarkan aku seperti ini, ini sangat nyaman," ucap Juna semakin memeluk Vani yang sadar tak akan bisa menolak keinginan suaminya.


Vani teringat kembali pada adik ipar dan mertuanya. Sambil mengusap lembut kepala Juna, Vani bertanya. "Kenapa Aura tidak boleh tinggal di sini bersama kita? Rumah ini sangat besar jika hanya ditempati kita berdua."


Juna mendongakkan sedikit kepalanya menatap Vani. "Kita baru menikah, aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua denganmu tanpa gangguan darinya," jawab Juna jujur. "Lagipula bukan hanya kita berdua, akan ada beberapa pelayan yang bertugas membersihkan rumah ini." Sambung Juna.


"Dia tidak akan mengganggu kita," bantah Vani.


"Tetap saja aku tidak ingin berbagi waktumu dengan siapapun," balas Juna yang kembali menempelkan wajahnya di bagian bukit kembar milik istrinya, dengan sebelah tangannya yang mulai bergerak nakal di tubuh Vani, membuat Vani berteriak.


"Juna.....!"

__ADS_1


__ADS_2