Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Kamar Pengantin


__ADS_3

Kamar yang mereka tempati adalah kamar yang di peruntukkan untuk pelanggan VVIP, dengan tipe yang mempunyai kualitas interior super mewah, dan merupakan kamar dengan tipe tertinggi serta harga termahal per malamnya.


Kamar seperti itu tentu saja tidak sembarang orang bisa menginap di sana, sebab Setiap orang yang menginap, pihak hotel perlu mengetahui tamu spesialnya tersebut demi kenyamanan serta menjaga kualitas brand. Tak heran bila kamar ini menjadi spesial karena merupakan satu dari sepuluh kamar termewah di sana.


"Turunkan aku!" pinta Vani pada Arjuna yang masih menggendongnya.


Melihat Vani yang gelisah dalam gendongannya, Arjuna perlahan menurunkan Vani. Membiarkan Vani melakukan apa pun yang wanita itu inginkan di sana.


Vani berusaha menjaga jarak dari Arjuna saat Vani masih merasa gugup, gelisah dan tak tentu arah berada di dalam kamar hanya berdua terlebih ini malam pertama mereka. Vani mulai melangkah menyusuri setiap sudut kamar yang akan di tempati mereka. Kamar itu memiliki luas bahkan hampir setengah rumah orang tua Vani. Benar-benar luas dan berkelas.


Vani masih terus menyusuri kamar tersebut di ikuti oleh Arjuna yang tak hentinya menatap dirinya, Beranjak dari satu sudut ke sudut lainnya, Vani akhirnya masuk ke area kamar tidur. Kamar itu memiliki kasur tipe king bed. Di atas ranjang sudah dihias dengan begitu cantik, khusus pengantin baru seperti mereka.


Vani yang melihat itu kembali merasa gugup dan malu sendiri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sayang, aku sendiri yang menghias tempat tidur ini khusus untuk kita. Kamu suka?" Apa yang dikatakan oleh Arjuna membuat Vani menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Vani berusaha mengabaikan Arjuna dan menenangkan dirinya dengan menatap ke arah lain.


Tak jauh dari kamar tidur, dapat Vani lihat ada ruang spa dan gym pribadi. Selain itu, tersedia ruang meeting kecil berada dalam kamar itu. Jadi, tak perlu lagi menyewa ruang untuk kumpul-kumpul, jika diperlukan seperti pebisnis seperti Juna.


Vani tersenyum menatap takjub pada keindahan serta kemewahan kamar yang akan menjadi kamar pengantin mereka itu. Mengingat kata kamar pengantin, lagi-lagi berhasil mengalihkan fokus Vani dari kekagumannya, tatapannya kembali menatap ke tempat tidur besar yang sudah di taburi bunga yang menghiasinya dengan sangat indah di atasnya.


Tubuh Vani tiba-tiba terasa merinding, bulu kuduknya bangun bukan karena adanya roh halus atau pengaruh buruk lainnya, namun merinding saat menyadari keberadaan Juna yang semakin dekat dan terus menatapnya.


Vani berniat menjauh dari Juna, berpikir cepat mencari alasan untuk menghindari Juna, tetapi pria itu dengan cepat bergerak menahannya.


"Masih ada yang belum aku lihat," jawab Vani gugup berniat pergi, tetapi Juna masih saja menahannya. Juna bahkan memutar tubuh Vani agar menghadapnya. Melihat wajah merona Vani membuat Arjuna tak dapat lagi menahan diri untuk tidak menciumnya. Arjuna mulai mencium bibir Vani dengan sangat lembut. Menggoda dengan gigitan kecil di bibir Vani dan berhasil membuat Vani membalas permainannya.


"Kamu malu?" tanya Juna melepaskan sejenak permainan bibir mereka.


Melihat Vani hanya bisa diam dengan wajah merona membuat Juna kembali menyambar bibirnya.

__ADS_1


Tangan kanan Arjuna memegang tengkuk Vani, sementara tangan kirinya mengusap lembut punggung Vani. Tangan yang mengusap punggung Vani itu juga mulai bergerak menuruni resleting gaun Vani.


Arjuna seakan pemain handal, dia membawa Vani ke suasana romantis dengan ciuuman yang mulai di bumbui hasrat dan gairah.


Tangan yang telah telah menuruni resleting gaun Vani itu lalu bergerak mengangkat tubuh Vani, meletakkannya perlahan di atas tempat tidur tanpa melepaskan ciuman mereka. Arjuna membuka jas, kemeja, celana dan semua yang ada di tubuhnya dengan sangat cepat, lalu kembali naik ke atas ranjang dengan tubuh polosnya, bermaksud ingin melanjutkan aksinya, namun di tahan oleh Vani.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyentuh istriku? Kamu takut padaku?" tanya Arjuna tak terima dengan sikap Vani di saat ia sudah di selimuti gairah.


"Aku ingin ke kamar mandi, keadaan mendesak!" ucap Vani mendorong pelan Arjuna, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak ada alasan lagi, Sayang. Aku tahu kamu gugup, sepertinya memulai pemanasan di kamar mandi cukup menantang." Arjuna menyeringai bergegas menyusul Vani.


***


Semoga bisa lolos review, bab kayak gini dan beberapa bab ke depan biasanya rada lama lolosnya. Mohon selalu dukungannya ya kak. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2