Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Cerita Dilan


__ADS_3

Semua orang sudah pergi dari kediaman Johan, masing-masing dari penghuni rumah sudah berada di kamar mereka masing-masing mengistirahatkan tubuh mereka begitupun dengan Arsen dan Dilan.


Arsen yang tengah menonton TV menatap pada Dilan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ar, aku pinjam perlengkapan solat punyamu!" pinta dilan pada Arsen yang sedikit terkejut di buatnya.


"Kamu mau sholat?" tanya Arsen yang di jawab anggukan oleh Dilan.


Arsen yang tidak ingin banyak bertanya, segera mengambil peralatan sholatnya lalu memberikan pada Dilan.


Ia duduk di ranjang, ingin melihat apa Dilan benar-benar bisa solat.


Putra keturunan Johan itu di buat terkagum saat melihat Dilan tengah mengerjakan solat, meskipun Arsen merasa tak yakin dengan apa yang di baca oleh Dilan, namun ia dapat melihat gerakan solat Dilan sama persis seperti yang sering ia pelajari namun belum di terapkan olehnya.


"Ar, kamu tidak solat?" tanya Dilan mengejutkan Arsen yang sedari tadi diam menatapnya.

__ADS_1


"Eh sudah selesai ya." Arsen tersipu malu.


"Aku tanya, kamu tidak solat?" tanya Dila lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Arsenio.


"Kata Bunda, kita harus mengerjakan solat sedari kecil agar kelak saat besar kita terbiasa mengerjakannya sebab solat adalah kewajiban bagi kita umat muslim," ucap Dilan terdengar menasehati Arsenio.


"Kamu selalu solat?" ucap Arsen bertanya yang di jawab gelengan kepala oleh Dilan.


"Aku suka bolong solat, tapi dalam sehari aku pasti solat meskipun tidak lima waktu. Seperti saat ini, aku jarang meninggalkan solat Magrib," jawab pria berwajah mirip Juna itu, tersenyum menjawab ucapan Arsenio.


Angan Joha membawanya membayangkan jika mereka masih bersama, pastinya hidup mereka bahagia dan anak-anak mereka akan menjadi anak yang baik, yang taat beribadah.


"Arsen mau solat bareng Papa?" tanya Johan masuk ke dalam kamar putranya, mengejutkan kedua pria kecil itu yang langsung menatapnya.


"Paman juga belum solat?" tanya Dilan membuat Johan merasa malu terhadap pria kecil yang merupakan anak dari wanita yang ia cintai tersebut.

__ADS_1


Johan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap Dilan. "Ayo Ar, kita solat, masa iya kita kalah sama Dilan!" ucapnya menarik tangan putranya menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai dengan sholatnya, Johan tersenyum menatap Dilan yang juga menatap mereka.


"Melihat Paman dan Arsen, aku jadi teringat sama ayah dan bunda yang sering solat bersama," ucap Dilan membuat Johan merasa tertusuk hatinya saat mengingat jika dia bahkan jarang solat meski Vani sering menasehatinya. Mengingat hal tersebut membuat Johan kembali membandingkan dirinya dengan Juna yang lebih unggul darinya.


"Apa ayah Juna selalu pulang tepat waktu?" tanya Johan menghampiri Dilan yang duduk di atas ranjang putranya.


Dilan tersenyum mendengar pertanyaan Johan. "Aku sampai bosan saking seringnya ayah berada di rumah," ucap Dilan tertawa.


"Ayah pergi bekerja selalu terlambat dan pulang selalu lebih cepat dari jam pulang kantor, ayah juga tidak pernah pergi keluar tanpa mengajak Bunda, hanya saja Bunda lebih suka berada di rumah. Ayah selalu makan di rumah baik itu pagi siang dan malam, dia akan selalu mencari cara agar bisa makan di rumah, kecuali saat ayah berada di luar kota, atau saat dia mengajak kami makan di luar, selebihnya ayah akan memilih makan di rumah sebab ayah dan aku sangat menyukai masakan Bunda," sambung Dilan dengan senang hati menceritakan tentang kedua kedua orang tuanya.


Dilan terus bercerita tanpa mengetahui jika ucapannya bagai cambuk yang menyentuh tubuhnya saat Johan saat mendengarnya.


Dalam hal itu, Dilan tak dapat di salahkan, Karan Johan sendiri yang bertanya, Dilan sebagai anak kecil yang belum mengetahui apa maksud Johan tentu saja menjawab dengan jujur pertanyaan dari Johan.

__ADS_1


"Aku juga mau mempunyai Mama seperti Bunda-mu!" ucap Arsenio semakin membuat dada Johan terasa sesak mendengarnya.


__ADS_2