
Renata menangis sedih memikirkan Johan, sedikit rasa penyesalan mulai hadir di hatinya atas apa yang sudah terjadi. Meski kebencian benar-benar menyelimuti Renata pada Vani dan keluarganya, tetapi rasa sayangnya pada Johan juga membuatnya turut hancur saat melihat putranya terpuruk. Namun, Renata tetap saja mempertahankan ego dan gengsinya yang berujung pada kehancuran Johan–putranya.
"Apa semua ini balasan dari kesalahanku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sudah beberapa bulan sejak Johan berpisah dari Vani, tak sedikit pun Renata melihat Johan tersenyum. Putranya semakin hari semakin terpuruk. Awalnya Renata berpikir jika perlahan Johan akan melupakan Vani dan akan mencintai Amelia, terlebih Amelia telah hamil. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kehamilan Amelia seakan petaka untuk Johan.
"Ini semua salah kita." Ucapan Rizal yang juga merasa bersalah akan semua hal yang terjadi.
"Jika saja aku tidak menikahimu, jika saja aku tidak tergoda olehmu, maka semua ini tidak akan terjadi. Semua nasib buruk yang menimpa Johan tidak akan terjadi," ucap Rizal lagi berhasil memancing emosi Renata yang mendengarnya.
"Apa maksudmu? Kau menyalahkan ku atas semua ini? Kau pikir aku wanita penggoda?" tanyanya kesal.
"Memang itu faktanya," jawab Rizal acuh membuat Renata semakin marah.
Perdebatan antara keduanya membuat perawat menegur mereka. Mereka yang saat ini tengah berada di rumah sakit terpaksa keluar dari ruangan dimana Johan dirawat.
****
Seperti yang Juna rencanakan sebelumnya. Hari ini Juna membawa Vani ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Keduanya sudah berada di ruangan dokter kandungan.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Juna pada dokter yang tentunya seorang perempuan. Juna tidak akan rela membiarkan Istrinya diperiksa apalagi disentuh oleh pria.
"Selamat, Tuan! Istri anda tengah mengandung dan setelah diperiksa kandungannya sangat baik, tidak ada masalah apapun dengan janinnya," jawab sang dokter memberikan kabar bahagia untuk Vani dan Juna.
"Syukurlah ... Terima kasih Tuhan. Terima kasih, sayang!" ucap Juna menggenggam tangan Vani dan mengecup lembut keningnya.
"Saya beneran hamil, Dok?" tanya Vani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Benar Nyonya, selamat untuk kalian!" ulang dokter bernama Indira itu.
"Mas ... " ucap Vani menatap haru pada suaminya.
Air mata bahagia, mengalir deras di wajah cantik Vani mendapat kabar bahagia tersebut.
"Aku bahagia mas, aku sangat Bahagia."
"Aku juga sangat bahagia sayang. Terima kasih sudah mengandung anakku. Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu dan anak kita," ucap Juna dengan sangat lembut pada Vani, membuat dokter yang melihat keharmonisan mereka menjadi ikut bahagia.
"Coba kalian lihat ini! ini adalah calon bayi Tuan dan Nyonya," ucap dokter, menunjuk pada gambar yang ada pada layar monitor.
__ADS_1
Baik Vani dan Juna sama-sama menatap bahagia pada titik yang ditunjuk adalah Bayinya, calon buah hati mereka.
"Jenis kelaminnya bagaimana, Dok?" tanya Juna, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor tersebut.
"Untuk jenis kelamin saat ini belum bisa diketahui, Tuan. Kalian bisa lihat sendiri, bentuknya saja masih sangat kecil. Usia kandungan istri anda baru berusia 6 minggu.
Di usia kehamilan ini masih sangat rentan. Oleh karena itu berikan makanan yang seimbang dan bergizi, serta jangan membuatnya kelelahan ataupun banyak pikiran, karena ibu hamil yang stres sangat berdampak buruk pada kandungannya. Jadi untuk itu tolong dijaga dengan baik, anugerah yang sudah diberikan Tuhan!" terang dokter menjelaskan.
"Baiklah, Dokter!" ucap Juna, mengangguk-anggukan kepalanya.
"Nanti saat usia kehamilan sudah 5 Bulan, kita baru bisa melihat jenis kelaminnya!" sambung dokter Indira.
Setelah Vani turun dari ranjang pasien. Ia dan Juna duduk dihadapan dokter Indira, yang mulai menjelaskan tentang semua hal mengenai masa-masa kehamilan, serta kebutuhan dan larangan pada masa kehamilan. Juna benar-benar menjadi pendengar yang baik membuat Vani merasa sangat bersyukur karena kehamilannya dan karena mempunyai suami seperti Juna.
"Nyonya Vani. Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan secara teratur agar kesehatan Anda dan janin dapat terus terpantau. Oleh karena itu, usahakan untuk tidak melewatkan jadwal pemeriksaan kehamilan.
Selain rutin menjalani pemeriksaan kehamilan, terapkan juga pola makan sehat dan bergizi seimbang, konsumsi vitamin yang saya berikan, juga susu untuk ibu hami, minum air putih yang cukup, lakukan olahraga ringan secara rutin, dan istirahat yang cukup agar kehamilan Anda tetap sehat," ucap Dokter Indira lagi.
"Terimakasih, Dokter. Saya akan memastikan yang terbaik untuk Istri dan calon buah hati kami!" jawab Juna, sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan dokter kandungan tersebut.
__ADS_1
Di lorong rumah sakit, Vani dan Juna yang baru saja melangkah keluar dari ruangan dokter kandungan, berpapasan seseorang yang mereka kenal.
"Om. Si-siapa yang sakit? Kenapa kalian bisa berada disini?" tanya Vani gugup.