Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Apa Aku Menyukainya?


__ADS_3

Vani kesal sebab Johan tak pernah pulang ke rumah, Amelia merasa jika Vani lah yang menjadi penyebabnya. Amelia yang tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak melabrak Vani, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu alamat Vani. Amelia berpikir untuk memperingati Vani agar tidak merusak rumah tangganya.


"Aku tidak bisa hanya diam seperti ini. Aku tidak akan rela jika harus menjadi janda di usia muda, terlebih di usia pernikahan yang bahkan belum seumur jagung," gumam Amelia memantapkan niatnya.


Apa yang Vani takutnya benar terjadi, meski Vani sudah berusaha menghindari Johan, tetapi tetap saja Amelia akan berpikir jika semua masalah yang ada dalam rumah tangganya adalah karena Vani.


Kedekatan antara Vani dan Arjuna sudah diketahui oleh banyak orang terutama di lingkungan kerja mereka. Baik Vani ataupun Arjuna sudah tidak merasa canggung lagi jika terlihat berdua. Dan harusnya Amelia bisa melihat itu semua, tapi sayangnya kebencian Amelia pada Vani menutupi semua fakta yang ada jika Vani tidak bersalah.


Hari ini Arjuna meminta Vani menemaninya menghadiri sebuah pesta. Tak seperti awal bertemu dimana Vani selalu menolak, sekarang Vani dengan senang hati menerima ajakan Arjuna.


Vani yang masih bersiap, dibuat gelagapan saat suara bel sudah terdengar.


"Huh...... Santai. Tenang Vani, jangan memalukan dirimu sendiri." Vani mengembus napas kasar lalu keluar dari kamarnya.


Arjuna tersenyum melihat Vani.


Wanita nya itu terlihat sangat anggun dan girly hanya dengan menggunakan dress berwarna biru muda. Rambut panjangnya yang masih tergulung dengan handuk itu membuat Arjuna justru semakin menyukai Vani. Sebab Vani tak terlihat seperti wanita yang menjaga image, dia selalu sederhana dan apa adanya.


Jantung Vani kembali berdebar kencang saat melihat Arjuna yang sudah berdiri di depan pintu apartementnya, dengan menggunakan tuxedo berwarna hitam dengan dalaman kemeja berwarna biru muda, membuat Vani tak dapat menahan senyum serta tak dapat menutupi wajah meronanya.

__ADS_1


Kenapa bisa sama? Batinnya.


Sama halnya dengan Vani. Detak jantung Arjuna juga turut bedebar kencang saat menatap Vani yang semakin hari semakin menarik baginya. Semua hal yang ada pada Vani entah kenapa sangat disukai oleh Arjuna.


"Kenapa cepat sekali? Aku bahkan belum siap," ucap Vani mempersilahkan Arjuna masuk. "Tunggu sepuluh menit lagi," sambungnya melangkah menuju kamar, tanpa menyadari jika Arjuna mengikutinya.


Melihat pintu kamar Vani yang terbuka dan melihat Vani yang baru saja akan mengeringkan rambutnya, Arjuna ingin menghampiri Vani dan membantu wanitanya itu mengeringkan rambut. Baru saja Arjuna akan melangkah masuk, Arjuna kembali mundur dan mengetuk pintu kamar itu.


"Sayang, boleh aku masuk?" tanyanya meminta izin, sebelum Vani marah karena menganggapnya tidak sopan.


Mendengar pertanyaan Arjuna, kepala Vani dengan sendirinya mengangguk. Vani mengagumi sikap Arjuna yang dia anggap menjadi semakin lebih baik dari sebelumnya. Pria itu benar-benar menghargainya, hal kecil tapi bearti besar untuk setiap wanita.


Arjuna mengambil alat pengering rambut yang ada di tangan Vani, lalu mengarahkan Vani untuk duduk. Untuk pertama kali dalam hidupnya Arjuna menyentuh alat pengering rambut dan mengeringkan rambut seseorang.


Dengan perasaan bahagia, Arjuna melakukan semua itu.


Vani yang mendapatkan perlakuan lembut Arjuna, terus saja menatap Arjuna dari pantulan cermin. Terlihat jelas jika pria itu tengah serius dan menikmati apa yang dia lakukan.


Beberapa menit kemudian, setelah rambut Vani kering, Arjuna meletakkan alat pengering rambut di atas meja, lalu menyisir pelan rambut Vani, setelah itu mencium wangi sampo dari rambut Vani. "Aku suka wangi dari rambutmu," ucap Arjuna menundukan sedikit tubuhnya, mensejajarkan kepalanya bersandar di bahu Vani yang menjadi gelagapan dibuatnya.

__ADS_1


Posisi wajah keduanya bahkan menempel saat Dagu Arjuna berada tepat di bahu sebelah kiri Vani.


"Ayo pergi!" ajak Vani.


"Baiklah, ayo!" Arjuna keluar lebih dulu dari kamar Vani, setelah sedikit memperhatikan isi kamar Vani.


Tak berselang lama setelah Arjuna keluar dari kamarnya, Vani juga keluar dari kamarnya dengan rambut yang di kuncir kuda. Arjuna terdiam berkacak pinggang melihat betapa cantiknya wanita yang saat ini berdiri di depannya meski hanya dengan balutan dress sederhana. Arjuna mengakui penampilan Vani, tetapi ada satu hal yang membuatnya keberatan dengan penampilan Vani.


Pria itu kembali mendekat pada Vani, membuat Vani lagi-lagi merasa gugup bersamaan dengan detak jantungnya yang memompa dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Ada apa?" tanyanya tergagap saat Arjuna sudah berdiri di belakangnya.


Pria itu menatap Vani sejenak, lalu tanpa Vani duga, Arjuna mengecup lembut lehernya, memberikan desiran aneh di hati dan tubuh Vani. Baru saja Vani akan menegur sikap Arjuna, ucapan pria itu seketika mengurungkan niatnya. "Cukup saat di kantor kamu menguncir rambutmu, membiarkan leher yang cantik ini di lihat oleh pria lain. Aku tidak rela ada pria lain yang mengagumi milikku." Arjuna berkata sembari melepas kuncir rambut Vani, membiarkan rambut panjang bergelombang kecoklatan itu tergerai indah.


"Seperti ini lebih cantik," ucap pria itu lagi sudah berdiri di samping Vani.


"Ayo pergi!" Arjuna menggandeng tangan Vani yang hanya diam menuruti kemana Arjuna membawanya.


Apa aku mulai menyukainya? Dia tidak pernah dekat dengan wanita, tapi sikapnya seperti pria yang sudah terbiasa merayu wanita. Dia sangat ahli dalam hal ini. Setiap kalimat yang terucap dari bibirnya selalu saja membuatku tersentuh. Apa benar aku mungkin menyukainya?

__ADS_1


__ADS_2