
Renata terdiam mendengar ucapan Johan, matanya menatap ke arah belakang Johan, dimana seorang wanita yang sedang mereka bicarakan tengah berdiri tak jauh dari sana dan pastinya mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Johan."
Deg... deg .. deg....
Suara lembut itu, suara yang begitu sangat di rindukan dan di sukai oleh Johan terdengar memanggilnya.
Johan memejamkan matanya saat rasa sakit itu semakin terasa menusuk ke hatinya, dulu suara itu selalu dapat ia dengar, panggilan yang begitu lembut sering ia dengar dari Vani itu hari ini kembali terdengar olehnya.
Johan masih memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian saat ia membuka matanya, ia begitu terkejut melihat sosok yang sudah berdiri di depannya.
Renata yang tadi berdiri di depan Johan sudah berganti dengan Vani.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada mereka, namun yang terlihat baik Vani taupun Johan sama-sama meneteskan air mata mereka.
"Van," ucap Johan ingin menyentuh Vani namun Vani segera menghindar menjaga jarak dari Johan yang bukan muhrim.
Johan menurunkan tangannya yang melayang di udara karena tak dapat menyentuh Vani.
Air matanya kembali keluar di depan wanita yang ia cintai tersebut.
"Aku sudah memaafkan kamu, Jo. Berulang kali aku katakan itu," jawab Vani tersenyum tulus menatap Johan, namun air matanya juga turut menetes.
"Van, aku terpaksa menikahinya," ucap Johan yang di anggukkan pelan oleh Vani.
"Aku sudah mendengar semuanya dari mamamu, kenapa Jo? Kenapa kamu belum juga berubah? Berhentilah bermain-main dengan wanita, jalani kehidupanmu dengan menjadi pria yang baik. Kamu sangat menyakitiku dengan hidup seperti ini. Jangan buat aku merasa semua pengorbananku dulu melepas mu itu sia-sia, itu menyakitiku!" ucap Vani membuat Johan semakin menangis.
__ADS_1
"Aku melepas mu saat itu aku merelakan kamu yang memilih menikahi wanita lain. Aku berharap kau bahagia, bukan seperti ini."
"Aku menyesal, aku sungguh menyesal. Aku lebih baik mati dari pada hidup dalam penyesalan ini, aku sangat menyesal karena sudah menyakitimu, aku sangat menyesal!" ucap Johan jatuh bersimpuh di kaki Vani menutupi kedua wajahnya dengan tangan.
"Kamu tau, Jo. Aku tak pernah melupakanmu, namamu dan Arsenio serta Amelia tak jarang ada dalam doaku, aku ingin kaliam bahagia aku ingin kamu bisa melanjutkan kehidupanmu dengan bahagia!" jawab Vani menatap pria yang bersimpuh di depannya tersebut.
"Berjanjilah kamu akan berubah, berjanji atas namaku jika kamu akan menjadi pria yang lebih baik lagi, aku mohon berjanjilah. Jangan buat aku benci padamu, Jo. Berjanjilah kamu akan menjadi pria ya g baik, pria yang bertanggung jawab," pinta Vani pada Johan yang perlahan bangkit berdiri.
"Aku berjanji, aku berjanji akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, namun aku tidak bisa berjanji untuk mencintai wanita lain selain dirimu, aku tidak akan memaksamu untuk membalas cintaku. Tapi, aku mohon jangan pernah melarang ku untuk mencintaimu, karena aku tidak tahu apa aku bisa mencintai wanita lain selain dirimu dalam hidupku!" jawab Johan terdengar begitu lantang mengatakannya.
Tak jauh dari sana, bukan hanya Renata yang meneteskan air mata melihat suasana yang begitu menyesakkan hati tersebut, namun ada juga sosok lainnya yaitu Juna, pria yang menjadi suami Vani. Atas izin darinya lah Vani menghampiri Johan, karena ia tau hanya Vani yang dapat menenangkan Johan.
'Mungkin dulu aku merasa kamu adalah sainganku, tapi sekarang tidak. Aku percaya dengan cinta istriku untukku. Dan aku berterima kasih untuk cinta yang begitu besar ku miliki untuk Vani. Jika aku berada di posisimu mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama. Seperti yang di katakan Vani, aku juga berharap kamu bisa bahagia melanjutkan kehidupanmu, karena selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah melepaskan istriku!' ucap Juna dalam Hati.
__ADS_1