
Hari ini semua orang tengah berada di acara resepsi pernikahan antara Vivian dan Cristian. Ya, Vivian adalah kakak kedua Vani. Akad nikah telah selesai dilaksanakan pagi harinya, dan sekarang acara disambung dengan resepsi pernikahan mereka.
Pernikahan Vivian dan Cristian sempat tertunda satu tahun saat keluarga mereka tengah terpuruk dengan masalah yang menimpa Vani, putri bungsu kesayangan mereka. Vivian enggan menikmati kebahagiaanya disaat adiknya tengah bersedih, tapi sekarang disaat semua sudah kembali membaik, Vivian akhirnya melanjutkan rencana pernikahannya yang sempat tertunda.
Sama seperti pasangan pengantin lainnya yang menjadi ratu dan raja dalam pernikahan. Vivian dan Cristian juga menjadi ratu dan raja sehari dalam acara tersebut.
Semua menatap kagum pada kedua pasangan yang tengah berbahagia, namun tidak dengan seorang Juna. Tatapannya tak berhenti menatap pada istri cantiknya yang menggunakan gaun senada dengan keluarganya, gaun yang membuat istrinya terlihat lebih cantik dengan perut buncit yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan dimata Juna.
"Mas, kamu tidak bosan melihatku terus?" tanya Vani pelan pada Juna yang dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah bosan memandang istriku, bagaimana aku bisa bosan jika setiap detik aku selalu merindukanmu, jika setiap deti juga cinta ini selalu bertambah untukmu," jawab Juna, yang berhasil membuat Vani serasa melambung tinggi mendengar ucapan suaminya yang semakin hari semakin pandai menggombal.
"Sayang, jangan seperti ayah kalau besar nanti ya? Bisa-bisa seluruh wanita yang ada di dunia mengejarmu, nanti!" ucap Vani sembari mengusap perutnya.
"Tentu saja dia harus mengikutiku, aku ayahnya!" jawab Juna, melipat kedua lututnya lalu mengecup sayang perut buncit Vani tanpa menghiraukan pandangan orang-orang yang menatap iri pada kemesraan yang keduanya perlihatkan.
__ADS_1
"Lihatlah, dia berusaha mencuri perhatian semua orang hari ini!" cibir Vivian dari jauh menatap tingkah adik iparnya.
"Aku malah senang melihatnya, dia terlihat begitu sangat mencintai Vani. Tidak seperti mantannya itu," jawab Cristian, tersenyum menatap pasangan yang tengah mencuri perhatian tersebut.
'Yang kamu katakan benar, aku juga sangat bahagia saat ada pria yang dapat membahagiakan adikku. Aku bisa menjalani hari-hariku dengan tenang tanpa merasa cemas akan kebahagiaan Vani, karena sekarang sudah ada yang jauh lebih baik memastikan kebahagiaannya, terima kasih, Juna!' batin Vivian menatap Vani dan Juna.
"Hai jagoan ayah. Kamu harus jadi seperti Ayah bahkan harus lebih baik dari ayah ya! Ayah yakin kamu akan menjadi sangat sempurna karena terlahir dari ayah dan bunda seperti kami," ucap Juna pelan, mengusap dan mengecup perut Vani sebelum kembali berdiri saat Vani menarik lengannya.
"Malu dilihat orang, mas!" tegur Vani dengan wajah yang sudah merona akibat ulah Juna.
"Kamu nggak, tapi aku yang malu dilihat mereka!" seru Vani.
"Untuk apa malu? Kamu istriku dan aku suamimu!" jawab Juna, membuat Vani jengah mendengarnya.
"Hem ... hemm ... kalian benar-benar bikin iri para jomblo sepertiku!" sindir Karina yang sudah berdiri di depan Juna dan Vani
__ADS_1
"Pengganggu datang!" cibir Juna pada Karina.
Juna yang biasanya tidak perduli dengan orang lain, terlihat ikut berteman dengan Karina dan Esi meskipun tingkah mereka kadang kala seperti kucing dan tikus kalau sedang bertemu. Tingkah keduanya selalu bisa menghibur Vani. Ia bersyukur suami posesifnya terlihat percaya dengan Karina dan Esi serta menerima baik kehadiran mereka dikehidupan Vani. Bahkan Juna tak segan ingin menjodohkan salah satunya dengan Dika, sekretaris sekaligus sahabatnya.
"Yang kamu sebut pengganggu ini, sahabat baik istri tercintamu, Tuan Juna yang terhormat . Hati-hati kalau bicara jika tidak ingin dipecat sebagai suami!" ancam Karina membuat Vani tertawa mendengarnya.
"Pergilah, tuh lihat teman hidupmu sendirian!" ucap Juna mengusir Karina dengan isyarat tangannya.
"Ini teman hidupmu," lanjut Karina menyenggol lengan Esi.
"Apaan sih?" wajah Esi mendadak memerah mendengar ucapan Juna dan Karina.
Ditengah hiburan yang Vani dapatkan saat melihat perdebatan antara suami dan sahabatnya. Seseorang yang baru saja memasuki acara tersebut berhasil membuat Vani menghentikan tawanya, dengan tubuh yang membeku menatap kearah orang tersebut yang tidak lain adalah Johan, mantan kekasihnya.
Meskipun merasa terkejut, namun Vani juga merasa senang saat melihat Johan sudah pulih dengan cukup baik dan sudah bisa berjalan sendiri dengan kedua kakinya meskipun geraknya belum sepenuhnya seperti sedia kala.
__ADS_1
"Johan," lirih Vani.