Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
48 Mencintaimu


__ADS_3

Vani bersandar di balik pintu kamarnya dengan napas terengah. Debaran jantungnya terasa dua kali lebih kencang, Vani menyentuh dadanya dan dapat merasakan hal itu, sesuatu yang dulu hanya pernah dia rasakan saat awal-awal mencintai Johan, sekarang kembali Vani rasakan, tetapi dengan pria yang berbeda.


Perasaan yang dulu pernah Vani rasakan dan Vani jelas mengerti artinya, membuat Vani mulai berpikir jika benih cinta itu perlahan hadir untuk Arjuna, pria yang sekarang terlihat sempurna menurutnya.


"Apa mungkin secepat ini?" gumamnya.


Mengingat Arjuna sendiri yang belum pernah mengatakan cinta padanya, sekali pun pria itu selalu memperlakukannya dengan sangat baik, membuat Vani merasa takut. Vani takut memikirkan akan kembali terluka jika suatu hari nanti Arjuna meninggalkannya seperti yang Johan lakukan.


"Tidak, Van. Seperti dia yang selalu mengklaim kamu sebagai miliknya, maka dia juga sekarang adalah milikmu. Pertahankan dan jangan biarkan wanita lain merebutnya darimu." Itulah yang Vani pikirkan saat ini, sebelum akhirnya mandi dan bersiap ke kantor.


Dua puluh menit kemudian, seperti biasa, Vani sering kali menggulung rambutnya dengan handuk setiap kali selesai keramas. Vani selalu menunda untuk mengeringkan rambutnya, karena Vani lebih suka rambutnya kering secara alami. Namun sekarang semua itu akan berbeda, sebab kehadiran Juna yang akan selalu memanfaatkan kesempatan untuk mengeringkan rambut Vani. Melakukan hal-hal kecil, tetapi berpengaruh besar bagi hubungan mereka.


"Kamu terlihat cantik," puji Arjuna saat Vani kembali menghampirinya di dapur yang baru selesai menyajikan hasil masakannya.


Pria itu mendekati Vani, mengecup sekilas dahi Vani, lalu mendorong pelan tubuh Vani untuk duduk di kursi makan yang telah ada di sana.


Vani kembali merasakan jantungnya terus saja berdetak kencang, tetapi sebisa mungkin Vani mencoba untuk bersikap tenang. Vani menatap ke arah meja di depannya.


Roti panggang pisang dan Omelette makaroni menjadi menu sarapan Arjuna dan Vani.


Vani menatap takjup dengan hasil masakan Arjuna. Semua terlihat menggugah selera.

__ADS_1




"Wah...ini terlihat nikmat!" ucap Vani tersenyum lebar menatap Juna dan hasil masakan pria itu.


"Tentu saja, ini dibuat sepenuh hati oleh calon suamimu," jawab Juna sontak membuat wajah Vani kembali merona.


Tolong jangan salah tingkah, Van. Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Batin Vani.


Vani lebih dulu melahap makanannya, Vani berusaha fokus pada apa yang ada di piringnya, tetapi Juna terus saja membuatnya merona. "Sayang, aku?" Pria itu terus menatap Vani yang dibuat bingung akan maksudnya.


"Apa?" tanya Vani.


"Makanlah sendiri!" ucap Vani setelahnya, tetapi pria itu tidak juga terlihat akan makan sendiri. Juna terus saja memperlihatkan mimik wajah jika dia ingin Vani yang menyuapinya.


Sepuluh menit berlalu, acara sarapan bersama itu akhirnya selesai. Arjuna masih saja terlihat menatap Vani dan itu benar-benar membuat Vani harus terus berusaha bersikap tenang meski sesungguhnya dia sangat gugup dan malu.


"Sayang, aku ingin setiap hari seperti ini," ucap Juna.


"Itu akan sangat merepotkanku," jawab Vani asal.

__ADS_1


"Tidak boleh berkata seperti itu dalam hubungan. Kita akan menjadi suami istri, tidak ada yang salah dengan itu semua," ujar Arjuna mengusap lembut wajah cantik Alami Vani yang belum tersentuh make up sedikitpun.


"Aku harus ke kantor! Aku akan mebereskan ini nanti saja, aku sudah terlambat!" Vani mencari alasan agar dapat segera menjauh dari Arjuna yang membuat jantungnya berdetak dak menentu.


Bukannya membiarkan Vani pergi, Arjuna justru mengekor hingga ke kamar Vani, hal pertama yang dia lakukan adalah mengeringkan rambut Vani ketika melihat Vani baru saja akan melukis wajahnya dengan make up.


"Sayang, Aku ingin kamu berhenti bekerja setelah kita menikah. Apa boleh?" tanya pria itu dengan sangat hati-hati.


"Tentu saja," jawab Vani, dan itu membuat Arjuna tersenyum senang mendengarnya.


"Kamu tidak keberatan?" tanya Arjuna lagi.


"Tentu saja tidak. Aku ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku," jawab Vani apa adanya dan itu semakin membuat Juna senang mendengarnya.


Juna menghentikan aksinya yang tengah mengeringkan rambut Vani, pria itu memegang kedua bahu Vani, mengarahkan Vani agar nenatapnya. "Sepertinya benih itu sudah mulai tumbuh," ucap Arjuna.


Meski Arjuna tidak berkata secara langsung, tetapi Vani yang juga merasakan itu jelas mengerti apa yang Arjuna maksud. Vani masih terdiam menatap Juna yang juga tengah menatapnya dengan tatapan mendamba. Arjuna menangkup kedua pipi Vani, tatapan keduanya terlihat begitu dalam, wajah Arjuna perlahan mendekat dan cupp....


Bibir keduanya bertemu.


Tak ada pergerakan dari keduanya. Arjuna masih menunggu respon Vani, melihat Vani yang justru menutup mata, membuat Arjuna merasa jika Vani mengizinkannya berbuat lebih. Bibir yang awalnya hanya menempel itu dipimpin oleh Juna untuk mulai bergerak. Arjuna mulai bermain di bibir Vani, begitu juga Vani yang perlahan membalasnya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Vani melakukan semua itu dalam keadaan sama-sama sadar, tanpa rasa terpaksa.


"Aku mencintaimu," dua kata terucap dari Arjuna setelah penyatuan bibir mereka terlepas.


__ADS_2