Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Bucin Alay


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, Vani yang keluar dari kamar mandi begitu terkejut, melihat Juna berdiri di depan pintu kamar mandi dalam keadaan polos tanpa busana, tatapan Vani langsung tertuju menatap senjata Juna yang terlihat tegak menantang. Apa yang sudah mereka lakukan berulang kali sebelumnya sontak teringat oleh Vani yang seketika bergidik ngeri membayangkan Juna akan kembali menyerangnya.


"Arjuna!" Pekik Vani mencubit pelan lengan Juna , saat melihat senjata Juna yang semakin tegak berdiri menantangnya, membuat Vani bergidik ngeri dan malu sendiri melihatnya.


"Kenapa?" tanya Juna seakan tak bersalah.


"Kenapa-kenapa-kenapa. Lihat itu!" Vani menunjuk senjata Juna tanpa menatap Juna.


Juna tertawa melihat itu, tanpa bertanya Juna jelas tahu apa yang membuat istrinya salah tingkah. "Kamu pergi membawa selimut, kamu yang tidak mau berbagi selimut, lalu kenap harus berteriak? Bukankah kamu juga sudah berkenalan dan merasakan juniorku?" tanya Juna mengikis jarak antara mereka.


"Junior? Kamu memberinya nama?"


"Tentu saja dia harus punya nama. Apa kamu ingin aku juga menamai pasangan junior?" tanya Juna semakin membuat wajah Vani merona.


"Tidak, terima kasih," jawab Vani cepat ingin menjaga jarak dari Juna tapi terlambat saat Juna sudah lebih dulu mengambil sebelah tangan Vani lalu membawanya menuju junior yang ia maksud.


"Juna!" Teriak Vani membuat Juna tertawa


"Bersihkan dirimu segera!" Vani menunjuk ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Baiklah istriku," jawab Juna mengedipkan sebelah matanya berbalik pergi.


"Ya Tuhan, dia be– Juna...!" Teriak Vani lagi saat ternyata Juna kembali berbalik dan dengan cepat menarik handuk Vani sehingga terlepas dari tubuhnya. "Aku pinjam handuknya!" ucap Juna yang sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi setelah mengusili istrinya.


Juna keluar dari kamar mandi melihat Vani sudah duduk di meja makan dengan beberapa makanan yang tersedia di sana. Tanpa banyak bicara keduanya mulai mengisi tenaga yang sudah banyak terkuras sebelumnya. Selesai dengan makan siang, kedua pasangan yang baru saja mengubah status mereka itu tengah menikmati waktu mereka dengan bersantai sembari berbincang hangat.


"Ke mana menurutmu tempat yang bagus?" tanya Juna.


"Kemana maksudnya?" Vani yang bingung, balik bertanya.


"Honeymoon, kamu mau kita honeymoon ke mana?" tanya Juna lagi dengan lebih jelas.


"Aku belum memikirkannya," ucap Vani acuh.


"Ke mana pun kamu mau, aku setuju asal bersama istriku." Juna mencubit pelan dagu Vani sambil mengedipkan nakal matanya.


"Aku belum memikirkan semua itu, sepertinya itu bukanlah hal yang penting untuk di lakukan," ucap Vani membuat raut wajah Juna berubah kesal.


"Jadi menghabiskan waktu bersamamu bukan hal yang penting? Kamu tidak menginginkan itu?" tanya Juna dengan raut wajah kesal seperti anak kecil yang akan merajuk.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Sepertinya aku benar-benar harus menyaring kembali ucapanku sebelum dikatakan. Aku lupa jika sekarang aku punya bayi besar." Bukannya menjawab, Vani justru tertawa meledek Juna.


"Kamu benar. Bayi besar membutuhkan ini!" Vani menepuk tangan Juna yang akan menyentuh ke arah dadanya.


"Bagaimana? Ke mana?" ulang Juna kembali bertanya.


"Dengarkan aku. Tanpa perlu pergi bulan madu, kita bisa selalu menghabiskan waktu bersama. Bukankah begitu?" ucap Vani yang meski enggan tetapi Juna tetap mengangguk setuju.


"Bukankah setelah menikah aku menjadi pengangguran? Itu artinya aku punya lebih banyak waktu bersamamu," ucapnya lagi mulai menerbitkan lagi senyum cerah di wajah Juna yang mendengarnya.


"Aku akan merombak ruanganku di kantor, aku akan memperkenalkanmu pada semua pegawai ku." Juna dengan semangat mengatakannya semua itu seakan memamerkan Vani sebagai barang yang sangat dia sukai.


"Tanpa kamu mengenalkan ku, hampir semua juga sudah tau," ujar Vani terkekeh.


"Ya, kamu benar. Semua orang sudah tahu dan semua harus tahu jika kita sudah menikah. Jika kamu adalah istriku dan tidak akan ada yang boleh dan berani merebut apa yang menjadi milikku," jawab Juna kembali dengan sikap posesifnya yang terbilang sangat berlebihan.


"Suamiku, apa kamu tahu apa panggilan yang cocok untukmu?" Dengan senyuman yang begitu usil, Vani mengatakannya.


"Apa?" tanya Juna yang berpikir Vani punya panggilan yang lebih romantis untuknya.

__ADS_1


Juna menatap bingung pada Vani yang perlahan berdiri masih dengan senyum jahil menatapnya. "Bucin alay, itu panggilan yang cocok untukmu," ucap Vani berlari menjauh setelah mengatakannya.


__ADS_2