
Beberapa jam berlalu, Manda terbangun saat mendengar suara adzan. Manda bergegas meraba ke atas nakas mencari ponselnya, sebab tubuhnya tak leluasa bergerak saat Johan memeluknya, serta hanya selimut yang menutupi tubuh mereka. Melihat sudah hampir jam empat sore di ponselnya. Manda yang panik memikirkan Neisha dan Arsen yang mungkin sudah pulang atau pun belum pulang baru saja akan turun dari ranjang untuk mengeceknya, tetapi notif pesan yang ada di ponsel Manda menghentikannya.
Manda melihat pesan dari Maryam yang mengatakan jika dia membawa Arsenio dan Neisha ke suatu tempat dan akan pulang sore hari. Setelah membalas pesan Maryam, Manda meletakan kembali ponselnya dan menatap pria yang ada di sampingnya yang tertidur dengan lelapnya.
Wanita cantik yang telah resmi menjadi istri seutuhnya dari seorang Johan Pramana itu menatap dalam pada sosok pria tampan yang sedang terlelap itu.
Kehadiran Johan benar-benar mampu membuat Manda kembali merasakan kehidupan yang berwarna. Perasaan hangat, nyaman, dicintai, disayangi dan diutamakan. Lengkap, semuanya dirasakan oleh Manda setelah bertemu Johan sebab tak hanya Johan yang menerimanya, semua orang yang ada disekitar Johan juga menerimanya dengan sangat baik.
Tangan Manda mulai terangkat dan mengelus wajah tampan suaminya, memandang lekat wajah lelap suaminya.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Mas," ucap Manda pelan dengan berani mengecup sekilas bibir Johan yang dia pikir terlelap, tapi ternyata pria itu sudah bangun. Johan bahkan menahan tengkuk Manda yang akan melepas bibirnya, dengan cepat membalas kecupan Manda dengan rakus.
"Mas, lepas!" Manda mendorong pelan Johan.
Johan mengusap bibirnya yang basah.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu karena telah hadir dalam hidupku. Jika tidak ada kamu, mungkin aku masih akan terbelenggu dalam kenangan masa lalu. Aku benar-benar beruntung bertemu denganmu, Sayang. Aku merasa lahir kembali dengan cinta dan tujuan hidup yang lebih baik," ucap Johan mengusap lembut wajah Manda yang menanggapi dengan senyuman terbaiknya.
Johan membawa Manda untuk bersandar di dadanya, tetapi Manda yang kembali merasa malu saat dadanya bersentuhan langsung dengan dada Johan berusaha menolak, terlebih mengingat sebentar lagi Neisha dan Arsen pasti akan pulang.
"Mas, lepas!"
"Sebentar lagi," ucap Johan justru memeluk Manda.
"Nanti anak-anak pulang. Ayo, lepas!" ulang Manda mengingatkan Johan.
__ADS_1
"Sekarang jam berapa?" tanya Johan melonggarkan pelukannya.
"Ini sudah mau jam empat, mereka akan pulang sebentar lagi," ucap Manda setelah berhasil melepaskan pelukan Johan, masih dengan selimut yang terbagi untuk mereka berdua.
"Mas, aku pinjam selimutnya, ya?"
Johan sedikit bingung dengan ucapan Manda, tetapi saat menyadari kondisi mereka yang tidak mengenakan sehelai benangpun, Johan tersenyum nakal menatapnya.
"Kalau kamu ambil selimut ini, maka dia akan terbang!" ucapnya menahan tawa.
"Mas...." lirih Manda.
"Ya, Sayang? Ada apa?" balas Johan tersenyum semakin mesum menatapnya.
"Itu apa?" tanya Johan semakin mengusili istrinya yang sudah salah tingkah dengan wajah merona.
"Itu-anu-adek-eh itu senjatamu!" tunjuk Manda dan Johan justru mengepaskan posisi selimut tepat di bagian senjatanya sehingga terlihat benjolan dibalik selimut.
"Jangan membuatku marah!" Manda berkata dengan wajah cemberut merona.
"Baiklah, baiklah. Aku bercanda. Oh ya, apa boleh aku mandi bersamamu?" tanya Johan yang dengan cepat ditanggapi Manda dengan gelengan kepala.
"Kenapa tidak?" tanya Johan.
"Mas, ini kembali terasa perih. Jika hanya mandi, tentu saja boleh. Tapi, Aku tahu pasti ada hal lain yang akan kamu lakukan jika aku mengizinkanmu mandi bersamaku," ucap Manda.
__ADS_1
Johan yang mendengar itu tertawa. "Istriku sangat pintar," ucapnya lebih dulu turun dari ranjang berjalan dengan santainya mengambil handuk lalu diberikan pada Manda yang membuang muka enggan menatapnya. Bukan menatap Johan, melainkan enggan menatap sesuatu yang bergelantung yang telah memasuki goa miliknya beberapa jam yang lalu.
"Pakai handuk ini!" Johan memberikan handuk tetapi tidak ke tangan Manda.
Manda melirik sedikit dan berusaha menggapai handuk yang ada di tangan Johan, tetapi Johan justru dengan usilnya menarik tangan Manda dan mengarahkan pada senjatanya.
"Mas!" teriak Manda yang kembali ditanggapi Johan dengan tertawa kencang.
"Pergilah mandi sebelum aku kelaparan dan memakanmu!" Ucapan Johan yang terdengar seperti ancaman membuat Manda bergegas turun dari ranjang, melilitkan handuk di tubuhnya, tetapi saat akan berlari pergi, kakinya justru tersandung selimut yang menjuntai dilantai hingga terjadilah adegan drama seperti di tv tv dimana Manda terjatuh tepat menimpa tubuh Johan.
"Sayang, dia kembali bangun!" ungkap Johan menahan pinggang Manda saat Manda akan bangkit berdiri.
"Mas, kasihan anak-anak!" ucap Manda dengan lembut berharap Johan mengerti.
"Baiklah, maaf. Aku melepasmu sekarang, tetapi tidak nanti malam!"
Manda yang baru saja kembali berdiri menatap Johan dengan tatapan nyalang sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah aku katakan, setelah membobol gawangmu kamu tidak bisa menolak lagi, Nda. Tidak sekarang, tapi aku akan mengambil gantinya nanti malam. Begitupun seterusnya," gumam Johan tersenyum senang mengingat adegan panas mereka sebelumnya.
***
Konflik udah. Bahagia udah, bobol gawang juga udah. Boleh udahan nggak nih cerita? Dah kepanjangan juga soalnya. 🤭🤭 Yok ada request nggak nih? #Berasa apa aja🤣
Senang jika tulisan serta ceritaku yang masih jauh dari kata bagus ini bisa menghibur kalian, terima kasih selalu ya kak untuk kalian semuanya. Support dari kalian benar-benar membantu.🙏🙏🙏🙏
__ADS_1