Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Penantian Yang Berujung Menyakitkan


__ADS_3

Satu jam kemudian, Amanda tiba di tujuannya, di tempat biasa dia datangi selama beberapa minggu belakangan. Amanda yang mendengar ponselnya berdering, menghentikan mobilnya cukup jauh dari tempat biasa dia menunggu Alan keluar dari rumah orang tuanya, namun belum sempat Amanda menjawab panggilan telepon yang masuk, sesuatu mengalihkan perhatian Amanda.


Amanda merasa amat bersyukur saat perjuangannya kali ini membuahkan hasil di mana dari kejauhan ia melihat mobil yang dulu sempat ia lihat membawa Alan pergi, keluar dari sana.


Amanda dengan semangat mengikuti mobil tersebut, tetapi yang ia dapat adalah sebuah kesedihan dan kekecewaan saat melihat Alan, pria yang selama ini dia nantikan dan dia cintai tengah janjian dengan seseorang di sebuah restoran, seorang wanita yang juga sempat Amanda lihat bersama Alan kala itu.


Air mata Manda perlahan keluar membasahi wajah cantiknya, saat melihat bagaimana Alan memperlakukan wanita itu dengan begitu lembut. Dadanya terasa amat sesak, hatinya terasa begitu nyeri melihat pemandangan tersebut. Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat pria yang dia pikir telah pergi itu masih hidup dengan sangat bauk bahkan terlihat sangat mencintai wanita lain.


"Ya Tuhan, rasanya begitu sakit. Rasanya begitu sesak. Mereka semua benar-benar membohongiku. Aku tidak mengapa jika itu keluargamu, tetapi kenapa kamu juga harus bersikap seperti itu, Mas?" ucap Amanda menepuk-nepuk dadanya sendiri di tengah isak tangisnya yang semakin memilukan melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Siapa pun yang berada di posisinya pasti akan merasakan hal yang sama, bagaimana sakitnya sebuah penantian yang berujung kekecewaan. Amanda menutup hatinya hanya untuk Alan, Manda menyimpan rasa rindu yang dalam untuk dalam, menanti dan terus berharap jika suaminya masih hidup agar mereka bisa di pertemukan kembali, namun ternyata takdir tak berpihak padanya. Takdir memberikan luka yang besar untuknya.


Cinta yang dia jaga untuk Alan, justru hanya bertepuk sebelah tangan.


"Tidak, Amanda. Hadapi dia dan tanyakan padanya? Aku harus mendapat penjelasan darinya," ucap Manda pada dirinya sendiri, merapikan penampilannya. Setelah itu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran tersebut.


Debaran jantung Amanda yang nyaris berhenti berdetak itu, sekarang justru berdetak kencang saat langkahnya membawa ia semakin dekat dengan Alan.

__ADS_1


"Mas," ucapnya pelan setelah berada tepat di depan pasangan yang tengah bermesraan tersebut.


Air mata Amanda kembali menetes saat dapat melihat Alan dari jarak yang begitu dekat, tubuhnya tak dapat di tahan untuk tidak menghambur memeluk Alan dan itulah yang saat ini ia lakukan. Tetapi entah kenapa Manda tidak bisa bergerak seakan itu tidak boleh dia lakukan.


"Aku sangat merindukanmu, Mas!" ucapnya menatap penuh kesedihan pada Alan yang juga tengah menatapnya.


"Plak!" suara tamparan yang begitu keras terdengar saat seseorang mendorongnya setelah menamparnya.


"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada tunanganku di hadapanku," ucap seorang wanita yang bersama Alan terlihat begitu geram pada Amanda. Wanita tersebut dengan cepat berdiri di depan Alan, menghadang agar Amanda tak dapat menyentuh Alan.


"Aku is–" ucap Amanda tertahan saat kata yang akan dia ucapkan seakan tak dapat dia ucapkan.


Maafkan aku, Jo. Aku harus mengatakan itu. Batinnya seketika merasa bersalah, tetapi Amanda harus menyebut kata itu untuk menyelesaikan semuanya.


"Oh, jadi kamu mantan istrinya yang ****** itu. Benar-benar menyedihkan dan memalukan. Hubungan kalian sudah lama berakhir, jangan mimpi bisa merebut Alan dariku, dia tunanganku," ucap wanita itu menatap sinis pada Manda.


"Sayang, dia wanita ****** itu, kan?" tanya wanita itu manja pada Alan yang menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Rasa sakit yang Manda rasakan tak dapat lagi di ungkapkan dengan kata-kata, saat pria yang pernah sangat dicintainya sama sekali tidak bertindak saat ada yang menyakitinya, pria yang ia cintai justru turut menyakitinya, menyakitinya dengan begitu sakit hanya dari anggukan kepalanya yang menyetujui saat seseorang menyebutnya ******.


"Mas, ini aku, Mas! Kenapa kamu begitu tega padaku? Bertahun-tahun aku menunggumu, aku masih menyimpan rapat-rapat cintaku hanya untukmu, aku tidak bisa menerima apalagi mempercayai saat seseorang mengatakan jika kamu telah meninggal, tapi ini semua yang aku dapatkan saat bertemu denganmu. Kenapa Mas? Kenapa kamu begitu kejam padaku? Apa salahku?" ucap Amanda mengutarakan isi hatinya, mencoba mendekat, tapi dengan cepat di dorong oleh wanita yang berdiri di depan Alan hingga tubuhnya menyentuh meja. Pandangan dari semua orang yang memperhatikan, sama sekali tak di hiraukan oleh mereka.


Orang-orang yang menonton drama tersebut, sebagian merasa iba pada Manda, sebagian lagi juga merasa jijik pada Amanda yang mereka dengar adalah ******.


"Kamu tanya kenapa? Harusnya akulah yang bertanya kenapa? Kenapa kamu bermain di belakangku? Kenapa kamu bersandiwara menjadi baik jika aslinya kamu adalah seorang ******? Mana ada wanita baik yang mempunyai anak haram di saat suaminya baru saja satu tahun pergi. Aku menyesal telah mengenal wanita sepertimu, aku jijik pada diriku sendiri yang sempat mempunyai rasa pada wanita sepertimu," ucap Alan begitu lantang di hadapan semua orang yang berubah menatap sinis pada Amanda.


"Kamu percaya dengan semua tuduhan itu? Semua tidak benar, tidak ada satupun yang benar dari semua itu. Inikah yang dulu kamu katakan cinta? Bahkan tidak ada kepercayaan dalam dirimu untukku, cinta seperti apa itu?" ucap Amanda mengusap air matanya.


"Aku salah sudah berharap banyak padamu, aku salah sudah mencintaimu. Menjelaskan padamu tidak akan ada gunanya, saat rasa percaya tidak ada dalam dirimu untuk kita.


Aku tidak menyangka jika inilah akhir dari kita. Kamu tenang saja, seperti yang kamu minta. Aku akan menjauh dari kehidupanmu, aku tidak akan pernah lagi hadir di hidupmu dan mulai hari ini, aku akan membuang semua rasa yang aku miliki untukmu. Semua ini benar-benar telah membuka mataku jika kamu bukanlah pria yang pantas untukku. Terima kasih untuk semuanya," sambung Amanda berucap dengan sangat lantang dan tegar, lalu melangkah pergi dari sana membawa luka dan kesedihan yang begitu besar di hatinya.


"Aku tidak menyangka jika akhirnya jadi seperti ini, Mas. Berbahagialah jika itu menjadi pilihanmu," gumam Amanda mulai menghidupkan mobilnya, melesat pergi dari sana dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.


****

__ADS_1


Maaf ya kak, baru nongol. Kak, bantu komen ya kak, ntar ngobrol di komenan, ada yang mau aku bahas, penting.πŸ™


__ADS_2