Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Dasar Bucin


__ADS_3

"Sayang, aku mencintaimu," ucap Juna. Keduanya saat ini tengah menikmati kebersamaan dengan membahas masa depan, masih dengan posisi berada di atas ranjang.


Setelah berpacaran Juna yang lembut pada Vani sekarang menjadi semakin lembut dan mulai bersikap jauh lebih romantis meski terkadang sedikit aneh romantis dengan cara Juna.


Vani sering berpura-pura kesal pada sikap Juna meski sesungguhnya dalam hatinya sangat bahagia hingga rasanya ingin terbang melayang mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari pria yang menjadi idaman banyak wanita dan sekarang telah menjadi suaminya. Vani sangat berharap kebahagiaan yang di rasakan saat ini tidak akan pernah menghilang ataupun memudar.


"Sayang, aku bilang aku mencintaimu!" ulang Juna saat Vani hanya menatapnya tanpa membalasnya.


"Aku juga mencintaimu, suamiku," jawab Vani tidak ingin memperpanjang rengekan Juna, serta karena tak ada lagi alasan untuknya tak membalas ungkapan cinta Juna disaat status nya sudah menjadi istri Juna. Menyerahkan hatinya hanya untuk Juna sudah menjadi kewajibannya.


"Sayang, ada yang aku ingin bicarakan padamu. Ini penting." Juna melepaskan pelukan Vani yang bersandar di dadanya, lalu bangkit duduk sembari menatap serius pada Vani.


"Apa itu? Jangan membuatku gugup," tanya Vani juga ikut duduk, dengan selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya. Vani jelas merasa tegang melihat Juna yang terlihat begitu serius menatapnya. Apa ada hal yang penting ingin Juna katakan? Semoga saja bukan sesuatu yang buruk, pikirnya.


"Sebelumnya aku pernah mengingatkanmu, kali ini aku ingin menegaskan kembali semuanya. Mulai detik ini aku melarang mu terlihat dekat dengan pria manapun, kamu juga tidak boleh tersenyum dengan sembarang orang terutama pria. Jangan terlalu ramah dengan orang agar mereka tidak salah menanggapinya. Hanya aku yang boleh sepenuhnya mendapat senyummu," ucap Juna membuat Vani tertawa mendengarnya.


"Apanya yang lucu? Aku serius," Juna menangkap kedua pipi Vani, menghentikan tawa Vani.

__ADS_1


"Kamu sungguh berlebihan. Orang-orang akan berpikir aku wanita yang sombong," dengus Kiran mencubit pelan tangan Juna yang masih di wajahnya.


"Aku tidak peduli komentar orang. Yang aku pedulikan hany kamu, hanya istriku!" tegas Juna.


"Tapi aku peduli," sanggah Vani tak terima dengan peraturan baru suaminya.


"Sayang. Ini permintaan kecil dariku, aku hanya tidak ingin berbagi. Perhatianmu hanya boleh tertuju padaku. Kamu istriku, semua yang ada padamu adalah milikku, dan aku berhak atas dirimu!" jawab Juna tak berlebihan, tapi juga membuat wajah Vani merona akan sikap suaminya yang begitu berlebihan mencintainya.


"Sayang, jangan tersenyum!" kesal Juna.


"Semua harus atas izinku. Hanya aku yang berhak sepenuhnya atas dirimu. Kamu juga tidak boleh berbicara pada pria manapun lebih dari lima detik tanpa aku di dekatmu. Jangan menatap mata siapapun, karena mata indah ini hanya boleh menatapku," ucap Juna lagi, kembali mencium kedua mata Vani.


Dia benar-benar gila, tapi sayangnya aku justru menyukai pria gila ini! batin Vani.


"Hanya itu?" tanya Vani mengulum senyumnya.


"Masih banyak lagi, tapi intinya kamu tidak boleh berhubungan atau berteman dengan pria manapun. Kamu tidak boleh mengagumi pria manapun siapapun itu. Kamu hanya boleh mengagumi ku dan menyukaiku. Tidak ada yang lebih penting dari aku. Hanya aku yang boleh menjadi prioritas utamamu," ucap Juna membuat Vani tak dapat menahan tawanya.

__ADS_1


"Dasar bucin," cibir Vani tertawa.


"Kamu milikku, dan hanya milikku. Aku tidak mau berbagi sedikitpun meski hanya senyumanmu!" balas Juna mengecup berulang wajah Vani.


"Aku akan seperti tawanan" ucap Vani.


"Jika di perlukan, maka aku akan mengurung!" jawab Juna membuat Vani cemberut mendengarnya.


"Aku melakukan ini semua karna aku mencintaimu, aku percaya padamu tapi tidak dengan mereka di luar sana. Aku tidak ingin siapa pun mendekati istriku, aku tidak akan siap kehilanganmu," ucap Juna kembali meluluhkan hati Vani.


"Baiklah, kamu juga dilarang menyukai wanita manapun. Jangan berbicara dengan mereka, jangan membuka celah untuk mereka masuk ke dalam hubungan kita. Hati, perasaan, jiwa dan ragamu serta semua yang ada pada dirimu hanya milikku dan untukku. Aku akan menuruti apa pun yang kamu katakan, begitu juga kamu harus menuruti apa yang aku katakan!" balas Vani membuat Juna merasa begitu senang saat mendengar pengakuan Vani atas dirinya.


"Tentu saja, aku hanya milikmu dan kamu hanya milikku!" jawab Juna lantang, mendekatkan wajahnya pada Vani ingin mencium Vani, tapi Vani dengan cepat menghindar.


"Sudah, aku lapar!" ucap Vani cepat turun dari tempat tidur melilitkan selimut di tubuhnya lalu berusaha berlari masuk ke dalam kamar mandi menahan perih di bagian bawahnya, tanpa memperdulikan tubuh polos Juna yang terpampang jelas setelah Vani membawa selimut mereka.


"Aku sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku membiarkan dia kembali menciumiku!" gumam Vani di dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2