Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Menjelaskan Pada Amanda


__ADS_3

"Antara aku dan Johan sudah tidak ada apa-apa lagi, aku menganggapnya sebagai keluargaku. Aku sudah menikah dan kalian juga sudah menikah, kita sama-sama sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Untuk keluarga, keluarga kami memang saling mengenal jauh sebelum aku bertemu Johan. Tanteku dan Papa Johan pernah menikah tapi sudah berpisah, itu kisah lama. Yang jelas aku tidak ingin kehadiranku membuat kesalahpahaman antara kalian." Terang Vani dengan sangat lembut pada Amanda.


"Apa ada yang mau Mbak tanyakan, tanya kan saja jika ada?" ucap Vani lagi.


Vani terdiam, ia kembali mengingat dari pertemuan awalnya dengan Johan hingga kejadian beberapa saat yang lalu di dalam kamar Johan, tanpa sadar bibirnya berucap dan bertanya.


"Apa kamu sudah tidak memiliki rasa pada Johan lagi? Apa kamu tidak mencintainya?"


Pertanyaan yang mengejutkan datang dari Manda membuat Vani terdiam sesaat, ia mencoba bertanya pada hatinya akan apa yang dia tanyakan Amanda padanya.


Vani tersenyum lega setelah yakin cintanya sekarang hanya untuk Juna serta perasaan sayang yang ia miliki untuk Johan, hanyalah sebatas sayang kepada teman, sama seperti dia menyayangi Esi dan Karina.


"Aku mencintai suamiku, Mbak. Pria yang saat ini menjadi imamku dan ayah dari anak-anakku. Aku sangat mencintainya," jawab Vani berhasil menerbitkan senyum seorang pria yang berada tak jauh dari mereka.


Juna sama sekali tidak ada maksud untuk menguping pembicaraan keduanya, namun karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan menjadi penyebab ia menyusul Vani. Juna berdiri di balik dinding pembatas ruangan, saat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir wanita yang mempunyai sifat yang lembut sama dengan istrinya, Juna sempat menegang mendengar pertanyaannya, namun setelah mendengar jawaban dari istrinya, Juna merasa amat lega.


Meskipun tak ia pungkiri jika terkadang perasaan cemburu masih ia miliki untuk Johan, pria yang menjadi cinta pertama dalam hidup istrinya.


Juna mengurungkan niatnya untuk menghampiri Vani dan membiarkan keduanya melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Kamu yakin? Bagaimana jika Johan masih mencintaimu!" tanya Amanda lagi pada Vani.


"Aku mencintai suamiku, Mbak." Dengan mantap Vani kembali menjawab.


"Maaf jika pertanyaanku salah, aku benar-benar minta maaf. Apa kalian pernah menikah? Atau, apa Arsen ada hubungannya dengan kalian?" tanya Amanda kembali mengejutkan Vani.


Vani terkadang masih merasa bingung, jika Vani dan Johan saling mencintai bisa jadi itu artinya Arsen adalah putra mereka. Tapi, jika Arsen benar-benar putra mereka, lantas kenapa Arsen mengatakan jika Mamanya telah pergi, dan saat bertemu Vani dia justru sangat akrab dan terlihat menyayangi Vani. Bahkan menyebut Vani dengan sebutan Bunda dan bersikap seakan Vani ibunya. Benar-benar keadaan yang terkadang membuat Vani bingung.


"Apa Mama ataupun Johan belum menceritakan semuanya pada Mbak?" tanya Vani.


"Menceritakan apa? Sebelumnya kami hanya membahas mengenai pernikahan. Kamu pasti tau jika kami terpaksa menikah karena sebuah kesalahpahaman warga, selebihnya tidak ada apa-apa di antara kami. Aku hanya mendengar sedikit jika kamu pernah bersama Johan dan wanita bernama Amelia mirip denganku," ujar Amanda.


"Saat masih berpacaran denganku, Johan datang memperkenalkan Amelia sebagai tunangannya dan memberiku surat undangan. Siapa pun yang berada di posisiku pasti akan kecewa dengan sikapnya, dia akan menikahi wanita lain saat statusnya masih kekasihku, tapi semua sudah berlalu. Aku berusaha mengikhlaskan Johan dan melanjutkan hidupku sampai akhirnya aku bertemu dengan suamiku. Amelia hamil anak Johan dan Amelia meninggal saat melahirkan Arsenio. Sebelum meninggal Amelia sempat meminta maaf pada kami semua dan menjadi lebih baik, dia memintaku untuk membantu menjaga Arsen karena itu aku dan Arsen cukup dekat," ucap Vani menjelaskan inti dari jawaban atas pertanyaan Amanda.


"Lalu kenapa Johan lebih mengingatmu daripada ibunya Arsen?" tanya Amanda lagi.


"Johan menikah karena terpaksa. Hanya itu yang bisa aku jelaskan, Mbak," ucap Vani.


"Jadi benar Mamanya Arsenio sudah meninggal?" tanya Amanda lagi yang di jawab anggukan kepala oleh Vani.

__ADS_1


"Apa Johan tidak mencintai Mamanya Arsen?" tanya Amanda lagi yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Vani.


"Van, bagaimana jika Johan masih mencintaimu?" tanya Amanda lagi menggenggam tangan Vani.


"Rasa cinta itu datangnya dari hati, kita tidak tau rasa itu akan ada untuk siapa, kadang kita sendiri tidak menginginkannya, namun cinta itu datang dengan sendirinya, karena semua memang berjalan dengan sendirinya tanpa kita duga-duga, menurutku.


Cinta itu hanya Johan yang tau mengenai hatinya," ucap Vani


"Kenapa mbak bisa berkata seperti itu?" sambung Vani bertanya.


"Karena dia masih menyimpan foto kalian," jawab Amanda membuat tubuh Vani menegang mendengarnya, namun berulang kali Vani mengucap istighfar dalam hatinya untuk menjernihkan hati serta pikirannya.


"Antara kami hanyalah masa lalu, Mbak. Aku tidak ingin membahasnya karena aku sudah mempunyai suami yang harus aku jaga perasaannya. Mbak istrinya, dan kalian baru memulai kehidupan baru, aku mendoakan semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang sakinah mawadah warahmah," ucap Vani tersenyum lembut pada Amanda.


"Tidak Van, aku tidak yakin dengan semua itu, aku tidak yakin bisa mencintai Johan," ucap Amanda membingungkan Vani yang terdiam menatapnya.


"Aku mencintai almarhum suamiku, dan hanya akan mencintainya, aku tidak menginginkan cinta yang lainnya, karena rasa ini akan selalu ada untuknya dan sudah dimiliki sepenuhnya oleh mas Alan. aku tidak mungkin bisa mencintai Johan, Van," ucap Amanda tersenyum menatap langit, seakan ia melihat wajah suaminya di sana.


'Dan Johan hanya mencintaimu, jadi bagaimana mungkin kami bisa menyatu saat hati kami terisi dengan nama yang berbeda?' sambungnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2