
Setelah semua orang pergi, yang tersisa dikediaman orang tua Johan hanya keluarga inti dan para pelayan. Renata memutuskan untuk menengok keadaan putra dan cucunya.
Tiba didepan kamar Amelia, Renata memegang dadanya yang kembali terasa sesak melihat pemandangan didepan matanya. Melihat bagaimana Johan menimang cucunya dengan air mata yang mengalir membasahi wajah tampannya, membuat hatinya merasa begitu nyeri melihat kesedihan putranya.
"Sayang, Papa akan memastikan jika kamu tidak akan kekurangan kasih sayang atau apapun itu. Papa berjanji akan memberikan semua hal yang terbaik untukmu, papa mencintaimu nak. Sangat mencintaimu, terima kasih sudah hadir di hidup papa. Kita akan hidup bahagia, Nak!" ucap Johan mengecup sayang wajah mungil putranya.
'Ya Tuhan, tolong berikanlah kebahagiaan untuk cucu dan putraku. Sudahi hukumanmu pada putraku, sudah cukup ia menerima semua hukumanmu. Aku mohon ampuni putraku. Ampuni kesalahan kami,' batin Renata sembari menghapus air matanya.
Tok... tok... tok...
Renata mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka tersebut.
"Johan, mama boleh masuk?" tanya Renata yang masih berdiri didepan pintu.
"Masuklah mah," jawab Johan menyeka air matanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Renata menatap putranya.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan aku, Mah. Aku baik-baik saja!" jawab Johan mencoba untuk tersenyum pada Renata.
"Hai cucu Oma, kamu tampan sekali nak. Persis seperti papamu!" ujar Renata sembari mengambil bayi mungil tersebut dari tangan Johan.
Renata membawanya untuk duduk di sofa yang ada disana, diikuti oleh Johan yang juga duduk disampingnya.
"Siapa namanya, Jo? Kamu belum memberitahu Mama." tanya Renata.
"Arsenio. Rajendra Arsenio. Laki-laki tampan yang pemberani," jawab Johan lantang.
"Rajendra Arsenio, nama yang bagus. Selamat datang Arsen. Oma menyayangimu! ucap Renata menatap penuh kasih pada cucunya.
"Tidak, Jo. Arsen harus tinggal di sini bersama mama!" sentak Renata menolak.
"Paling tidak biarkan mama yang menjaganya sampai kamu menemukan ibu yang baik untuknya!" sambung Renata membuat Johan bungkam.
Renata tau jika ucapannya akan kembali menyakiti putranya, namun semua harus ia katakan karena ia tidak ingin berada jauh dari cucunya dan Renata tidak akan mempercayakan siapapun untuk menjaga cucunya terkecuali Vani.
__ADS_1
"Mah, ibunya baru saja pergi. Kenapa Mama bisa-bisanya membicarakan hal seperti ini" cetus Johan tak terima.
"Yang mama katakan benar, Jo. Siapa yang akan menjaganya jika kamu membawanya pulang ke apartemenmu? apa kamu akan menyewa jasa pengasuh? Tidak Jo, Mama tidak akan membiarkan orang asing menjaga cucu mama. Biarkan mama yang menjaganya," tentang Renata.
Johan terdiam mencoba mencerna ucapan mamanya yang ia rasa benar adanya, bagaimana dia akan bekerja? siapa yang akan menjaga anaknya? Semua yang dikatakan mamanya benar, karena Johan sendiri juga tidak ingin orang asing yang menjaga anaknya.
"Ada bi Maryam. Dia akan membantuku," jawab Johan masih bersikeras.
"Maryam sudah tua. Dia mengurus semua keperluanmu di sana, akan sangat melelahkan jika dia harus mengasuh. Biarkan Mama yang menjaga Arsen," ucap Renata lagi tak ingin membiarkan Arsen keluar dari rumahnya.
"Jo. Jangan egois. Semua demi kebaikan kalian. Kasihan Arsen jika tinggal di sana. Saat kamu bekerja dia akan jauh dari orang terdekatnya. Amelia tidak akan setuju akan hal itu," ucap Renata lagi membuat Johan tak bisa lagi membantahnya.
"Baiklah, aku setuju!" putus Johan akhirnya.
***
**Sekali lagi maaf jika alurku tidak sesuai dengan yang kalian inginkan, Kak. Sebelum nulis hampir semua penulis sudah punya alur sendiri, sudah memikirkan ending gimana. Jika melenceng dari alur, penulis harus mengatur ulang, dan itu nggak semudah ynag dipikirkan. Di kisah ini emang tokoh utamanya Vani Juna dan Johan, jadi kalau Amelia nya aku hilangin, emang udah dari awal aku pikirkan. Nah, untuk kelanjutan kisah Johan, anaknya, dan anak Vani nanti, jika kalian setuju, bakal aku lanjutkan di sini aja, nggak perlu judul baru.
__ADS_1
Sekali lagi maaf dan terima kasih untuk semua dukungannya.🙏🙏**