Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Berjanji


__ADS_3

"Katakan, katakan apa yang aku bisa lakukan untuk kalian?" tanya Vani, menatap sedih pada Amelia.


"Aku tahu permintaanku ini mungkin tidak pantas, aku tahu aku tidak sadar diri. Namun di dunia ini hanya kamu orang yang bukan kerabatku, tetapi sangat tulus padaku, Van. Bahkan lebih tulis dari orang tuaku. Aku sepenuhnya percaya padamu dan bersyukur mengenalmu," ucap Amelia yang masih saja berbelit.


"Katakan padaku, Mel. Apa yang bisa aku lakukan? Aku pasti akan membantu temanku."


Ya, sejak hari pertama Amelia meminta maaf padanya. Hubungan Vani dan Amelia menjadi cukup baik, bahkan keduanya sekarang bisa dianggap berteman. Amelia belajar banyak hal pada Vani, berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi terlebih setelah hamil. Amelia sering berkomunikasi dengan Vani meski lebih banyak di telepon sebab Juna selalu mengawasi mereka.


"Aku mohon tolong jangan abaikan putraku. Meski tidak bersama, aku tau hubungan antara keluargamu dan Johan sudah membaik. Kalian pasti akan sering bertemu, untuk itu tolong bantu aku awasi putraku. Aku mohon sayangi juga anakku, Van. Bantulah aku agar dia tidak terlalu merasa kehilangan sosok ibunya. Berikanlah sedikit kasih sayangmu pada putraku, jadikan dia teman putramu. Aku mohon, Van. Aku hanya ingin memastikan putraku hidup dengan bahagia!" pinta Amelia kembali berderai air mata.


Hal yang tidak terduga selanjutnya yang dilakukan Amelia membuat Vani cukup terkejut, adalah dimana Amelia bangkit dari duduknya lalu perlahan mulai berlutut dihadapannya.


"Aku mohon, Van. Aku titip anakku, aku mohon padamu. Hanya kamu orang yang paling aku percaya di dunia ini!" ucap Amelia terisak menangis, memancing rasa penasaran Juna yang sedari tadi berusaha untuk tidak menghampiri mereka.

__ADS_1


"Sayang, ada apa ini?" tanya Juna menghampiri Vani, namun langkahnya terhenti saat Vani mengisyratkan dengan tangannya agar Juna berhenti mendekat.


Juna terdiam ditempatnya seperti yang diminta Vani. Tatapannya terus menatap bingung pada kedua wanita yang tengah mengandung tersebut.


"Amelia, bangunlah. Jangan sepeti ini!" pinta Vani berusaha memapah Amelia untuk kembali duduk di kursinya.


"Aku mohon berjanjilah padaku, Van. Hidupku tidak akan tenang tanpa janji darimu," pinta Amelia terus mendesak Vani.


"Kenapa aku? Aku tidak sebaik itu, Mel."


"Baiklah, aku berjanji. Sekarang ayo duduk di kursimu!" pinta Vani yang akhirnya dituruti oleh Amelia setelah mendengar janji Vani.


"Kamu janji akan memberikan perhatianmu pada putraku juga, kan, Van?" ulang Amelia kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku berjanji," jawab Vani menghentikan tangisnya dan juga mengusap air mata Amelia yang terus mengalir.


"Terima kasih, Van, aku sangat bahagia mendengarnya. Sekarang tidak ada lagi yang membuatku ragu dengan keputusanku untuk pergi." ucap Amelia terlihat bahagia mengatakannya.


"Kamu akan pergi kemana? Kamu juga harus berjanji untuk selalu mengabariku ya, aku juga akan selalu mengabari perkembangan anakmu!"


Amelia tersenyum mendengar ucapan Vani. Ucapan wanita yang pernah disakitinya, namun saat ini malah menjadi teman terbaiknya, orang yang begitu peduli padanya.


"Aku tidak bisa memberitahumu, tapi kamu tenang saja, aku akan selalu memantau kalian dari jauh!" jawab Amelia tersenyum menatap Vani.


"Kamu juga harus berjanji padaku jika kamu akan baik-baik saja, Mel!" pinta Vani lagi.


"Aku berjanji, aku akan selalu baik-baik saja?" jawab Amelia.

__ADS_1


'Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka aku tidak akan memaksamu untuk bertahan, Mel. Aku tau ini semua sangatlah berat untukmu, Mel. Aku berharap ini hanyalah waktu dimana kamu ingin menata kembali hidupmu dan aku berharap setelahnya nanti kamu akan kembali dan berkumpul dengan anakmu lagi! Aku sangat menantikan bisa bertemu denganmu lagi suatu hari nanti, dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang,' ucap Vani dalam hati.


__ADS_2