
Manda menghampiri Neisha dan Arsen setelah selesai solat. Melihat keduanya yang masih tidur, Manda keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan, tapi sebelumnya menyiapkan keperluan sekolah Arsenio.
Hampir satu jam berkutat di dapur, Johan menghampiri Manda bersama kedua anak mereka yang sudah rapi. "Selamat pagi, Mama," ucap ketiganya serentak, dengan Neisha yang berada dal gendongan Johan.
Johan dengan sengaja memanfaatkan keadaan meminta kedua anaknya untuk memberi ciuman selamat pagi untuk Manda diakhiri dengan dia yang juga akan melakukannya, bukan di pipi seperti kedua anaknya tetapi di bibir sang istri.
Manda yang tahu hal itu hanya bisa tersipu malu.
"Mas, kamu tidak bekerja?" tanya Manda setelah mereka semua duduk dan memulai sarapan mereka.
Johan menggelengkan kepalanya. "Aku bekerja dari rumah hari ini," jawabnya.
Lebih tepatnya aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Sambungnya dalam hati.
Selesai dengan sarapan mereka, Arsenio begitu juga Neisha yang akhir-akhir ini selalu ingin ikut mengantarkan Arsenio ke sekolah bersiap pergi dengan Maryam serta supir yang akan mengantar mereka.
"Nyonya, saya izin akan mengajak Neisha membeli keperluan Neisha setelah dari sekolah Arsen, mungkin juga mengajaknya bermain di taman," ucap Maryam.
"Bi, tidak perlu repot. Nanti aku saja yang membeli keperluan Neisha." Manda merasa tak enak hati pada Maryam yang sudah sangat sering dia repotkan. Meski Maryam memang pelayan di sana, tetapi bukan bearti pekerjaan Maryam akan terus bertambah setelah kehadiran mereka.
__ADS_1
"Sama sekali tidak repot. Kami pergi dulu, Nyonya. Sebelum Arsen terlambat," ucap Maryam lagi setelah itu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.
Manda dan Johan kembali masuk ke dalam rumah, saat Manda akan membereskan bekas makan mereka, Johan menghentikannya dan mengajak Manda ke ruang kerjanya karena ada yang ingin Johan bicarakan.
"Apa ini, Mas?" tanya Manda setelah menerima map pemberian suaminya saat mereka sudah berada di ruang kerja Johan.
"Itu hadiah dariku untukmu," jawab Johan.
Manda yang mendengar itu langsung membuka map tersebut dan melihat apa yang ada di dalamnya. Manda menatap Johan dengan mata berkaca-kaca setelah melihatnya.
"Aku tau rumah itu pasti menyimpan banyak kenangan untukmu, karena itu aku membelinya untukmu," ucap Johan membuat air mata Manda menerobos keluar membasahi wajah cantiknya.
Tak hanya rumah, Johan juga sebenarnya telah mencari tahu tentang hubungan antara Manda dan almarhum istrinya–Amelia. Awalnya Johan sempat berpikir jika mungkin saja mereka kembar, tapi setelah serangkaian proses yang sudah Johan usahakan untuk mencari tahu kebenaran tersebut, faktanya Amanda dan Amelia bukanlah saudara kembar, hanya kemiripan wajah saja antara mereka, selebihnya tidak ada hubungan apa pun.
Amanda tak dapat menahan tangisnya dan langsung menghambur memeluk Johan.
Angannya kembali melayang pada sosok Alan, dimana semua yang ia dapatkan dari Johan sama sekali tidak ia dapatkan dari Alan. Bahkan saat itu Manda pernah meminta Alan untuk membeli rumah yang pernah ditempatinya bersama kedua orang tuanya, tetapi Alan menolak. Sekarang, bersama Johan hidup Manda seakan terasa lengkap dalam semua hal. Pria itu selalu melengkapi setiap kekurangan yang ada dalam hidup Manda.
"Kenapa menangis?" tanya Johan melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Manda.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Aku sangat bahagia dengan semua ini, tapi apa semua ini tidak berlebihan? Rumah itu cukup besar, luas tanah juga lebih besar, pasti mahal," ucapnya.
"Berulang kali aku katakan, tidak ada yang berlebihan untuk istriku. Bahkan jika aku bisa memberikan seisi dunia ini padamu pasti akan aku berikan," jawab Johan mengusap lembut wajah Istrinya.
"Apa ada upahnya untukku, setelah apa yang aku berikan untukmu?" tanya Johan menatap tersenyum pada Manda yang merasa heran mendengar pertanyaan suaminya. Johan sengaja mengatakan hal itu untuk mencairkan suasana dan menghentikan tangis istrinya, tapi siapa sangka ucapan asalnya itu justru memberi ide untuk Johan yang semakin tersenyum memikirkannya.
"Upah?"
"Iya, tentu saja upah. Aku melakukan semua ini tidak gratis, Sayang! Aku ingin meminta upah dari semua ini." ujar Johan semakin membuat Manda heran
"Apa yang bisa aku berikan, Mas? Jadi kamu tidak rela memberikan semua ini padaku? kamu–" ucap Manda terputus, saat Johan dengan cepat menyambar bibirnya dan menikmati bibir manis yang sudah sangat lama ingin kembali dia rasakan.
"Ini aku sudah mengambil upahku, terima kasih Sayang," ucap Johan tersenyum senang, sembari mengusap lembut bibir Manda yang masih basah akibat ulahnya.
"Sayang, apa kamu sangat menikmatinya sampai terdiam seperti ini? Apa kamu mau mengulangi lagi? Aku juga sangat siap melakukan lebih dari itu!" sambung Johan, bertanya pada Manda yang langsung tersadar dan lekas menjauh dari Johan.
"Aku ingin berenang," jawab Manda menghindar, tanpa sadar jika ucapannya tersebut juga memberikan ide baru untuk Johan.
***
__ADS_1
Sabar ya guys... Nanti mulai anuan si Johan Manda dari kolam dulu, nulis bab anuan kadang susah2 gampang karena takut ditolak pas review.