
Johan terbangun sangat terkejut melihat Amel di ranjangnya. Dengan perasaan yang diselimuti kekesalan, Johan turun dari ranjang memperhatikan keadaan sekitar sembari berusaha mengingat apa yang telah terjadi.
"Sial. Jangan katakan hal yang sama terulang lagi, aku sudah berusaha menghindar agar kesalahan ini tak terulang, tapi kenapa masih saja terjadi?" gumamnya pelan.
Amelia yang sebenarnya sudah bangun lebih dulu dari Johan, tertawa senang dalam hatinya mendengar umpatan Johan.
Amel senang saat dia berhasil membuat Johan menyentuhnya disaat masa suburnya seperti sekarang, besar harapan Amel jika benih Johan akan berkembang di rahimnya.
Sekalipun tidak berhasil, aku akan mengusahakan semuanya berjalan seperti apa yang aku harapkan. Kau milikku dan hanya akan menjadi milikku. Batin Amelia.
Wanita yang tengah senang karena rencana awalnya berhasil itu perlahan membuka matanya, bertingkah seakan-akan baru terbangun dari tidur. "Selamat pagi, sayang," ucapnya dengan nada manja menatap Johan yang balas menatap jijik padanya.
Johan mendekat kearah ranjang, menarik paksa tangan Amelia dengan kasar. "Keluar dari kamarku!" bentaknya dengan kencang.
Amelia yang dipaksa turun dari ranjang berdiri dengan santainya menatap Johan yang terlihat semakin jijik melihat tubuh Amelia yang terbuka tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Senyum Amelia semakin mengembang melihat tatapan Johan yang menyusuri lekuk tubuh Amelia yang penuh akan jejak kecupan di kulitnya.
__ADS_1
"Apa semua ini? Aku tidak mungkin melakukannya," bantahnya menyangkal saat melihat bukti di tubuh Amelia.
"Kenapa harus terkejut? Semua ini ulahmu, tidak perlu malu. Akui saja jika kau juga menyukai tubuhku," ucap Amelia dengan percaya diri.
"Jangan pernah bermimpi. Hanya Vani wanita yang akan ku sukai." Johan mundur berapa langkah, menjaga karak dari Amelia.
"Tapi hanya aku yang bisa memuaskanmu. Di bahkan tidak pernah menyentuhmu. Jadi, jelas aku yang terbaik," sindir Amelia.
Juna tertawa pelan dengan tatapan semakin sinis pada Amelia. "Kau tidak pantas membandingkan diri kalian. Dia tidak sebanding denganmu sebab kau jauh dibawahnya. Vani ku bukan wanita murahan sepertimu."
"Apa begini caramu? Kau menyakitiku setelah mengambil kenikmatan dariku? Kau menghinaku setelah meniduriku?" tanya Amelia sinis pada Johan.
***
Senyum yang terlihat begitu cerah terlihat dari wajah tampan Juna yang sudah beberapa menit hanya tersenyum menatap wajah cantik wanita yang saat ini berada di atas ranjang yang sama dengannya. "Aku sangat menyayangimu, sayang. Entah apa yang akan terjadi padaku jika hidup tanpamu, aku pun takut dan tak ingin membayangkan semua itu terjadi. Aku sangat mencintaimu, aku sangat-sangat berharap jika selamanya kita bersama. Aku tau tidak ada yang sempurna, tidak semua dalam hidup ini akan berjalan mulus, tapi aku berharap dan akan berusaha untuk membuat kebersamaan kita akan selalu bahagia," ucap Juna dengan begitu lembut mengusap pipi Vani yang menanggapi dengan tersenyum.
"Aku juga mencintaimu, terima kasih sudah menerimaku apa adanya. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku juga berharap untuk selalu bersama saat susah dan senang. Aku berjanji akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi, sebesar apapun masalah yang terjadi pada kita, untuk itu aku ingin kamu juga berjanji akan selalu bersamaku apapun itu kita hadapi bersama," balas Vani membuka matanya masih dengan tersenyum menatap Juna.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" Juna mengecup sayang dahi Vani yang mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Berjanjilah padaku, suamiku," ulang Vani saat Juna belum menanggapi ucapannya sebelumnya.
"Aku berjanji, istriku. Apa pun yang terjadi kita hadapi bersama," balas Juna membawa Vani masuk ke dalam dekapannya.
Kebahagiaan yang dirasakan keduanya saat ini terasa lengkap meski masih diawal tahap pernikahan. Keduanya sadar jika tidak akan selalu semuanya berjalan lancar, untuk itu keduanya juga sepakat berjanji akan tetap bersama apapun yang terjadi nanti. Terlebih mengingat kehidupan masa lalu Vani yang masih saja mengikutinya membuat rasa takut itu tak jarang hadir.
"Sayang, apa ada tempat yang ingin kamu datangi?" tanya Juna melonggarkan pelukannya.
Pertanyaan Juna jelas Vani pahami arahnya. Vani masih terdiam bingung menanggapinya karena untuk saat ini Vani belum terpikir untuk kemanapun. Bulan madu tentu menjadi keinginan hampir semua pengantin baru, tapi tidak dengan Vani, mengingat tujuan pengantin baru melakukan itu hampir sebagian berakhir hanya di ranjang, untuk itu Vani pikir tak perlu jauh-jauh jika harus berada di ranjang.
"Aku ingin bulan madu seperti pasangan lain. Ini semua masuk dalam agenda masa depanku, jadi jangan berpikir untuk menghindar," ucap Juna lagi yang juga mengerti arti kebungkaman istrinya.
"Aku serahkan semua padamu," jawab Vani sadar tak bisa menghindar.
***
__ADS_1
Hai semuanya, maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Mohon dukungannya selalu ya kak, kritik dan saran juga, tapi tolong dengan ucapan yang menyemangati, tidak dengan menyakiti author. Terima kasih banyak untuk semuanya yang masih mengikuti cerita ini.