Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Menghilangkan Jejak Vani


__ADS_3

Rasa bahagia, haru, dan excited sangat dirasakan oleh Johan saat menyambut kehadiran buah hatinya. Meskipun terlihat cuek pada Amelia, namun sesungguhnya Johan sangat menanti kehadiran putra mereka.


Putranya lah yang menjadi semangat baru untuk Johan menjalani hidupnya yang nyaris hancur musnah, oleh kesedihan serta penyesalannya.


Setelah pertemuannya dengan Vani kemarin, hatinya merasa lebih tenang dan damai meskipun tak dapat ia pungkiri juga jika ia masih selalu merindukan Vani. Kehadiran putranya menjadi penawar disaat Johan merasa sedih dan merindukan, Vani. Hanya dengan mengingat jika dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah mampu membuatnya kembali bahagia


"Kamu mau kemana, Jo?" tanya Renata pada Johan yang terlihat rapi keluar dari kamarnya.


"Ada urusan diluar!" jawab Johan yang sudah mulai mau berbicara meskipun sikapnya sekarang menjadi sedikit dingin dari sebelumnya


"Kamu tidak mengajak Amelia?" tanya Rizal yang diacuhkan oleh Johan, yang sudah berlalu melewati mereka keluar dari rumah dan sudah masuk kedalam mobilnya.


Seperti yang ia inginkan sebelumnya. Johan yang sudah bisa berjalan dengan sendiri meskipun belum sepenuhnya pulih itu, berniat akan melakukan apa yang ia inginkan lakukan belakangan ini. Pergi membeli semua kebutuhan putranya, memberikan semua yang terbaik untuk putranya di mulai dari mendekor sebuah kamar yang berada disamping kamarnya sendiri di apartemennya.


Tiga puluh menit kemudian. Johan tiba dipusat perbelanjaan terbesar yang ada di sana, ia menyusuri kedalam pusat perbelanjaan tersebut mencari toko perlengkapan bayi yang paling lengkap dan terbaik disana.


Sosok Johan yang tampan dengan penampilan kasualnya, tapi tetap terlihat rapi membuat setiap wanita yang melihat tentu saja akan terpesona dibuatnya. Tak hanya satu dua orang wanita yang mencoba mencari perhatiannya, bahkan banyak orang yang berpapasan dengannya mencoba memberikan senyuman dan memperbaiki penampilan mereka berharap jika Johan tertarik, namun sama sekali hal tersebut tidak akan terlihat dimata Johan yang hatinya sudah terisi dengan satu nama yaitu Vani.


Melihat Johan masuk kedalam toko perlengkapan bayi, bukannya mereka menyerah karena menyadari jika Johan mungkin saja sudah terikat dengan wanita lain, tapi justru mereka malah semakin kagum dengan sosok Johan yang terlihat sangat bersemangat memilih setiap barang yang diinginkannya.


"Benar-benar pria yang sempurna," begitulah pendapat para wanita yang melihatnya.


Setelah puas dengan barang yang dipilihnya. Johan membayar semuanya, barang yang tidak bisa dikatakan sedikit karena semua yang dibeli Johan sangatlah banyak untuk persiapan menyambut kelahiran putranya. Bahkan bisa dibilang barang yang dibeli Johan lebih banyak daripada barang yang sudah disiapkan oleh Amelia dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Tolong diantarkan ke alamat ini, ya Mba!" ucap Johan memberikan alamatnya pada pelayan kasir toko tersebut, yang mengangguk kagum menatap Johan yang sama sekali tidak menanggapinya.


Dari arah belakang Johan, terlihat seorang wanita menghampirinya. Lalu menanyakan pertanyaan yang sedari tadi sangat ingin ditanyakan nya, selain karena penasaran, ia menghampiri Johan juga karena ingin mencari perhatian Johan.


"Apa semua ini persiapan untuk kelahiran anak Anda, Tuan?" tanyanya.


"Iya, ini semua utuk putraku!" jawab Johan dengan sangat lantang menekan kata 'Putraku.'


Dari cara Johan menjawab pertanyaan wanita tersebut, membuat semua orang dapat melihat jika Johan sangat bahagia dan sangat menantikan kehadiran putranya dan pastinya mereka jadi berpikiran jika Johan juga sangat mencintai istrinya. Terbukti dari cara dia menyiapkan semuanya sendiri dengan sangat antusias.


"Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya!" gumam pelayan toko menatap Johan yang sudah melangkah keluar dari sana.


"Benar, aku sangat iri dan penasaran dengan wanita yang menjadi istrinya!" sahut wanita lainnya.


Satu jam kemudian. Johan tiba dikediamannya yang sudah cukup lama tidak dikunjungi olehnya setelah musibah yang baru saja ia alami. Apartemen yang menyimpan begitu banyak kenangan indah antara dirinya dengan Vani, wanita yang masih sangat ia cintai hingga sampai detik ini.


Pelayan yang bertugas di sana menatap bahagia sekaligus iba pada majikannya yang baru saja memasuki apartemen itu.


"Selamat datang, Tuan Johan," ucap semua pelayan menyambut kedatangan Johan.


"Terima kasih." jawab Johan datar, melewati semua orang yang ada disana.


Johan mulai menyusuri setiap sudut apartemennya menuju kamarnya. Sepanjang langkah kakinya yang terus melangkah, hatinya juga kembali terasa nyeri saat menatap foto-foto kebersamaannya dengan Vani yang masih terpajang dengan indah di setiap dinding rumah yang dilewatinya.

__ADS_1


"Andai aku bisa kembali menikmati saat dimana kita selalu berdua seperti dulu, namun semua sudah tidak mungkin terjadi!" ucap Johan dalam hati berusaha membuang ingatannya tentang Vani.


Masuk kedalam kamarnya, dada Johan semakin terasa nyeri saat lagi-lagi melihat foto yang ukurannya jauh lebih besar dari foto yang sebelumnya ia lihat terpasang di tembok tepat diatas kepala tempat tidur.


Johan terdiam menatap sekeliling kamarnya mencoba mencari keberadaan Vani ataupun jejak keberadaan Vani, namun tetap saja ia tidak menemukannya, membuat Johan kembali tersadar jika semua benar-benar sudah berakhir. Vani sudah tidak bisa digapainya lagi, dan Vani hanya bisa dicintainya dalam diam, dalam hatinya.


"Aku selalu berharap kamu bahagia, Van. Meski tidak bersamamu, aku akan memastikan kebahagiaanmu. Aku akan menjadi pelindungmu dan selalu menjadi pemujamu," ucap Johan berbicara pada foto mereka.


Meski hatinya merasa sangat berat untuk melakukannya. Johan pada akhirnya tetap memutuskan untuk menurunkan perlahan setiap foto dan kenangan Vani yang ada di kamarnya. Bukan bermaksud untuk melupakan Vani, hanya saja ia ingin menyayangi hatinya sendiri, agar tidak selalu merasa sedih saat melihatnya. Mencoba untuk hidup lebih baik membawa cinta nya untuk Vani yang cukup ia simpan rapat dalam hatinya.


"Semoga kamu selalu bahagia, sayang!" ucap Johan mengusap wajah Vani yang ada didalam foto tersebut, lalu mengecupnya cukup lama, sebelum akhirnya membawa keluar bingkai-bingkai foto itu dari kamarnya.


Johan berteriak memanggil pelayan yang cukup dekat dengannya dan sering membantunya di sana.


"Bi, tolong simpan foto-foto ini. Tolong turunkan juga semua foto Vani yang ada di rumah ini," pinta Johan setelah art sudah ada dihadapannya.


"Semuanya, Tuan?" tanya art yang dijawab anggukan oleh Johan.


"Setelah itu, tolong bersihkan kamarku Bi. Tolong hilangkan semua jejak Vani di sini!" ucap Johan lagi terlihat sedikit bergetar saat mengatakannya.


Menghilangkan jejak Vani dalam hidupnya merupakan salah satu hal tersulit bagi Johan. Bagaimana bisa ia hidup tanpa kehadiran Johan, namun mengingat semua adalah yang terbaik untuk semuanya Johan menyakinkan dirinya sendiri untuk kuat melakukannya.


"Baiklah, tuan!" jawab art patuh.

__ADS_1


__ADS_2