
Kebencian serta amarah yang belum terlampiaskan membuat Amel, Yunita serta Rizal, tiba di kota kelahiran Vani. Ketiga orang itu bermaksud untuk melabrak kedua orang tua Vani agar dapat menegur Vani untuk tidak merusak rumah tangga Johan.
Meski dengan sangat jelas Johan berkata jika dialah yang begitu sangat mencintai Vani dan tidak akan pernah melupakan Vani apalagi menerima Amelia sebagai istrinya, tetapi tetap saja Vani yang menjadi pihak yang disalahkan atas semua yang terjadi. Untuk itulah saat ini mereka datang ke sana.
"Ma, bagaimana jika mereka menyangkalnya?" tanya Amelia saat mereka nyaris tiba di kediaman Anggara.
"Mama sangat yakin mereka sengaja membiarkan putri mereka melakukan itu untuk membalas dendam tak beralasan mereka," ujar Yunita yang teramat membenci keluarga Vani.
Entah kesalahan apa yang telah diperbuat keluarga Vani padanya, dia yang seharusnya menjadi tokoh antagonis dalam cerita masa lalu kelam keluarga Anggara, tapi yang terlihat justru dia lah yang bersikap seakan-akan korban dalam kisah itu.
Tiba di depan pekarangan rumah Vani. Mereka bertiga dapat melihat jika di sana mungkin tengah terjadi sesuatu, beberapa mobil mesah berjejer di depan sana yang jelas diketahui sebagai kendaraan milik tamu yang datang berkunjung. Amelia dan Yunita tersenyum senang saat mereka pikir akan sangat menyenangkan mempermalukan keluarga Vani di depan tamu mereka.
"Berhenti!" Rizal yang sedari tadi diam, menghentikan istri dan menantunya yang akan turun dari mobil.
Ucapan Rizal sama sekali tidak didengarkan oleh kedua wanita itu, keduanya hanya menoleh sekilas, setelah itu tetap keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Rizal yang melihat itu bergegas menyusul keduanya dan menahan tangan mereka. "Tu-Tuan Ri-zal," seorang pria yang bertugas menjadi keamanan di sana tergagap saat melihat kehadiran pria yang dikenalnya.
Ya. Pria tua itu sudah bekerja puluhan tahun di sana dan menjadi saksi nyata atas semua yang sudah terjadi dalam keluarga Anggara. Dia jelas mengenal siapa itu Rizal, mantan suami almarhuma adik dari majikannya.
"Pak, Tono. Apa kabar?" sapa Rizal yang juga terdengar canggung.
"Baik, Tuan."
"Pak, ada acara apa?" tanya Rizal lagi.
"Lamaran?" Beo Amel terdengar penasaran. "Siapa yang melamarnya?" sambungnya bertanya.
"Pria itu bernama Tuan Arjuna Lakeswara, pengusaha tampan dan mapan dari ibu kota. Non Vani terlihat sangat serasi bersama tuan Arjuna," jawab Tono yang sedikit mengetahui tentang lamaran tersebut.
Tono sama sekali tidak mengetahui tentang Johan yang merupakan putra dari Rizal, dia terus saja bercerita membanggakan sosok Arjuna dan itu membuat Amelia dan Yunita kesal mendengarnya.
__ADS_1
"Benar-benar lamaran? Atau hanya sekedar peralihan?" sahut Yunita bertanya.
"Hah? Peralihan? Apa maksudnya peralihan?" tanya Tono yang justru bingung dengan maksud ucapan Yunita.
"Peralihan agar terhindar dari kesan buruk atas semua sikapnya yang diam-diam menjadi pelakor!" cetus Amelia yang menjawab.
Tono yanh mendengar itu tertawa, apa yang Amelia dan Yunita katakan terdengar sangat tidak masuk akal menurutnya. "Nona Vani gadis baik. Dia cantik, berpendidikan, mandiri dan dari keluarga terhormat. Mana mungkin menjadi pelakor! Semua pria wajar jika menyukainya. Dan mungkin saja kalian salah menilai, karena itu sangat tidak masuk akal!" bantah Tono berbicara dengan nada sinis dan menatap hina pada Yunita, sebab di sana dia tahu jelas jika Yunita lah yang pantas disebut pelakor.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas infonya, saya permisi. Tolong jangan beritahu mereka perihal kedatangan saya!" Rizal yang merasa sesuatu yang buruk akan terjadi jika semakin lama berada di sana, bergegas menarik tangan istri dan menantunya menjauh dari sana.
"Kamu apa-apaan? Aku belum selesai!" bentak Yunita saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil.
"Bukan Vani atau pun keluarganya. Kita lah yang justru akan malu jika terus berada di sini," jawab Rizal meminta supir yang sedari tadi setiap berada di dalam mobil untuk bergegas pergi dari sana, tanpa menghiraukan amukan dari Yunita serta tatapan kesal menantunya–Amelia.
***
__ADS_1