Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Jalan


__ADS_3

Mungkin untuk sebagian orang akan merasa bosan jika seharian di rumah atau melakukan aktivitas yang setiap hari hanya seperti itu-itu saja setiap harinya. Semua pasti akan mengeluh karena bosan, namun tidak dengan Vani. Vani yang sudah berhenti bekerja setelah menikah dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sama sekali tidak mengeluh dengan rutinitasnya.


Jika tidak mengikuti Juna ke kantor, Vani akan berada di rumah seharian menunggu suaminya pulang.


Vani yang kesehariannya memang jarang keluar rumah, jika bukan karena hal yang penting, tentu saja tida akan merasa jenuh. Vani akan melakukan segala hal yang dapat menghilangkan resa jenuhnya, seperti saat ini dimana seorang majikan tengah bergabung dengan para pekerjanya. Ya, setelah kejadian tempo hari yang kurang mengenakan. Juna meminta Dika mencari art baru yang tentunya harus dengan seleksi yang ketat, Juna tidak ingin hal yang sama terulang lagi.


Semua pelayan yang ada dikediaman Vani menyukai sosok majikannya itu. Vani benar-benar menjadi majikan idaman bagi mereka sebab Vani jelas berbeda dari majikan-majikan mereka sebelumnya yang sangat membatasi diri.


Ditengah obrolan Vani bersama para pelayannya, suara dering ponselnya mengalihkannya saat melihat nama Karina yang tertera.


"Aku kembali ke atas ya Bi!" pamit Vani pada semua yang menganggukkan kepala.


Vani menjawab panggilan dari Karina sahabatnya sembari melangkah naik menuju kamarnya.


"Halo Rin."


"Kamu di mana?" tanya Karin diseberang telepon.


"Aku di rumah, kenapa?" tanya Vani balik.


"Jalan yuk, kita sudah lama nggak jalan bareng!" ajak Karina.


"Boleh, tapi aku izin mas Juna dulu ya?" jawab Vani.


"Mas?" ledek Karin tertawa pelan. "Jadi sekarang panggilanmu sudah berubah mas-mas ya?" sambungnya.


"Apaan, sih." Wajah Vani bersemu merah.

__ADS_1


"Baiklah, aku tunggu kabar darimu ya. Jangan lama-lama, aku benar-benar bosan," ucap Karin lalu memutuskan panggilan telepon.


Setelah panggilan telepon dengan Karin berakhir. Vani segera menghubungi Juna– suaminya.


"Halo istri cantikku. Kamu kangen ya?" ucap Juna langsung, saat panggilan terhubung, membuat senyum Vani mengembang mendengarnya.


"Halo, Mas. Mas, aku boleh keluar?" tanya Vani.


"Kapan? Kemana? Sama siapa?" ucap Juna dengan berbagai pertanyaan.


"Aku akan pergi bersama Karin. Mungkin ke Mall," jawab Vani.


"Baiklah, tapi belanjanya di pusat perbelanjaan yang ada didekat kantor saja ya? Jadi pulangnya bisa aku jemput!" ucap Juna memberi syarat.


"Baiklah. Terima kasih, mas!"


*****


Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Saat ini Vani dan Karin sudah berada di pusat perbelanjaan yang letaknya tak jauh dari kantor Juna.


Keduanya sudah banyak mengelilingi dan memasuki setiap butik yang ada disana. Sudah hal biasa untuk perempuan saat berbelanja, matanya akan melihat kesana-kemari mencari sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka, sama halnya dengan Vani dan Karin yang sudah menenteng masing-masing beberapa paper bag ditangan mereka.


"Van. Sedari tadi kita belanja, aku tidak melihat kamu membeli sesuatu yang sesuai dengan seleramu! Kamu membelikannya untuk siapa?" tanya Karin sedikit heran, menatap belanjaan Vani.


"Aku membelinya untuk semua yang sudah membantu pekerjaan di rumah!" jawab Vani santai.


Karin mengangguk paham. "Itulah salah satu kelebihanmu dari wanita lainnya, Van. Kamu sangat perduli dengan sekitarmu. Pantas saja hampir setiap orang yang ada di sekitarmu menyukaimu," puji Karin yang selalu merasa bangga dengan sahabatnya dan menjadikan Vani panutannya.

__ADS_1


"Mereka bekerja untuk kita, Rin. Berkat mereka juga pekerjaan kita terselesaikan, mereka benar-benar membantu!" jawab Vani.


"Iya, tapi itukan karena kita membayar mereka!"


"Bukan hanya sekedar gaji yang besar yang akan membuat seseorang betah bekerja, kenyamanan adalah kuncinya. Salah satu membuat mereka nyaman adalah dengan kita sebagai majikan memperlakukan mereka dengan baik. Bukan sombong, tapi art di rumah mama bekerja sejak aku masih kecil, bahkan setelah mereka harus pensiun, mereka kan meminta anak mereka bekerja di rumah. Semua itu aku yakin karena Mama selalu memperlakukan art dengan baik," terang Vani yang juga mencontoh itu dari orang tuanya.


"Ya, kamu benar. Aku juga akan seperti itu, nanti. Tidak seperti atasanku itu, dia sangat semena-mena padaku," geram Karin membuat Vani menatap bingung padanya.


"Atasan? Kamu sudah bekerja?" tanya Vani.


"Maaf aku lupa bercerita padamu, saat kamu pergi bulan madu, aku dapat tawaran menjadi asisten manager di Hotel Vizta.


"Benarkah? Wah... Selamat ya Rin. Aku ikut senang mendengarnya." Vani memeluk Karina.


"Tapi rasanya aku ingin berhenti, Van. Aku sangat membenci atasanku, dia sangat-sangat menyebalkan," ucap Karin mengeluh.


"Hei, tidak biasanya Karin yang aku kenal mudah menyerah seperti ini. Lagian jangan terlalu membenci seseorang, Rin." Vani tersenyum meledek mengatakannya.


"Sudahlah, tidak perlu membahas lagi. Hanya akan membuatku semakin kesal," ucap Karin.


"Baiklah. Kita mau kemana lagi?" tanya Vani saat mereka belum juga menemukan tempat yang kembali akan mereka masuki.


"Itu, aku mau melihat-lihat heels di sana!" jawab Karin menunjuk tempat yang dimaksudnya.


"Baiklah, aku juga mau melihat-lihat flat shoes," jawab Vani setuju.


Dari kejauhan, seseorang yang sedari tadi memperhatikan Vani menyeringai setelah mendapat ide untuk mengusik Vani.

__ADS_1


"Kita bertemu lagi," gumam Amelia menyeringai melangkahkan kakinya menghampiri Vani.


__ADS_2