
Amanda menggelengkan kepalanya sendiri, saat ia menganggap Johan sebagai Alan suaminya yang sudah meninggal, namun sangat sulit untuk ia terima jika suaminya itu sudah meninggal.
Matanya menatap sendu pada apa yang ia lihat. Andai saja Alan masih ada, maka ia akan merasa amat bahagia saat melihat Neisha berada dalam pelukan Alan. Tapi sayangnya semua tidak seperti yang ia harapkan, karena ia tidak akan bisa melihat wajah tampan suaminya lagi.
"Ma-ma." Neisha memanggilnya sembari tubuhnya bergerak minta di sambut oleh Amanda yang dengan sigap mendekat dan mengambil Neisha dari pelukan Johan.
"Neisha sudah bangun, maaf ya Mama tinggal di kamar?" ucapnya lembut mengecup pipi Neisha meski sedikit canggung membiasakan dirinya dengan sebutan mama.
"Di rumah ini tidak kekurangan pelayan, mereka sudah punya tugas masing-masing, kamu fokus saja pada Neisha. Meninggalkannya sendiri di atas tempat tidur, itu sangat bahaya. Bagaimana jika dia terjatuh dari tempat tidur?" kata Johan terdengar seperri memberikan ceramah pada Amanda di pagi hari yang hanya bisa terdiam mendengar ucapan Johan.
"Aku minta maaf, aku hanya tidak enak jika menumpang gratis di sini," ucapnya pelan.
"Meskipun tidak ada apa-apa di antara kita, tapi statusmu adalah nyonya di rumah ini, bersikaplah seperti pemilik rumah, jangan seperti pengungsi yang numpang disini," tegur Johan lagi terdengar pedas, namun Amanda tak dapat menyangkal saat apa yang ia katakan juga benar adanya.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Amanda patuh.
__ADS_1
"Aku ada urusan pekerjaan di luar. Tolong berikan pengertian pada Vani dan Juna saat ia datang kemari menjemput Dilan, nanti." Amanda yang mendengar memberikan ekspresi yang sama seperti Arsen dan Dilan tadi padanya saat melihat penampilannya.
"Kamu sengaja menghindarinya?" tebak Amanda blak-blakkan.
"Kamu tau jawabannya, aku pergi!" ucap Joha. datar, melangkah pergi dari sana meninggalkan Amanda dan Neisha yang menatap kepergiannya.
Saat hampir menghilang dari pandangan mereka, Johan kembali menoleh sebentar sambil berkata. "Nda, tolong berhentilah bekerja seperti yang pernah aku katakan! Jaga anak kita saja di rumah."
Johan bergegas menghilang setelah mengatakan itu sebab dia sendiri merasa perasaan yang aneh tak kala menyadari apa yang sudah dia ucapkan. 'Anak kita'
Lima belas menit berlalu. Amanda dan kedua pria kecil nan tampan itu terlihat sudah berada di ruang makan, tengah menikmati sarapan pagi mereka. Manda dapat melihat jika Arsen sangat dekat dengan Dilan, begitupun sebaliknya. Mereka seperti saudara kembar jika bertemu, cocok satu sama lain. Sama-sama tampan, pintar dan berkelas, tentunya juga dari bibit terbaik.
"Bunda, adik Neisha sangat cantik, ya. Matanya indah sekali," puji Dilan tulus pada Neisha yang berada di pangkuan Amanda.
Hampir setiap orang yang melihat Neisha pasti akan mengatakan jika matanya cantik, dan itu benar, bukan sekedar pujian karena mata Neisha benar-benar cantik. Bayi kecil itu mempunyai mata berwarna hijau, yang mana kebanyakan orang luar lah yang mempunyai mata berwarna hijau, namun juga sudah jarang di temui, apalagi di Indonesia, tapi Neisha mempunyai mata yang sangat indah dan cemerlang membuat siapapun akan tau jika Neisha adalah blasteran.
__ADS_1
"Iya, adikku, sangat cantik, dan aku tampan," sahut Arsenio dengan bangga menimpali ucapan Dilan yang memuji Neisha.
"Kamu tampan, tapi sayangnya matamu tidak seindah mata Neisha, kamu coklat dia hijau," ujar Dilan tertawa.
"Berapa umur Neisha? Sepertinya cukup jauh berbeda dengan adikku," ucap Dilan kembali bertanya pada Amanda.
"Neisha lima belas bulan, sekarang. Kalau adik Dilan berapa usianya? Namanya siapa? Mama belum tau," tanya Manda balik sembari terus menyuapi Neisha yang ada di pangkuannya.
"Jauh lebih muda Dara, ternyata, tubuhnya saja yang gembul jadi terlihat besar." Dilan tertawa. "Namanya Dara, usianya tiga bulan," sambung Dilan tersenyum kala mengingat adiknya yang juga tak kalah cantik.
"Mereka pasti akan menjadi teman jika sudah besar nanti, sama seperti aku dan Arsen," sambung Dilan lagi.
"Benar, kalau bertemu pasti menjadi teman, tapi sayangnya kita berada di kota yang berbeda," kata Amanda.
"Bunda tenang saja, aku dan Arsen pasti akan sering bertemu, kalau sudah besar nanti, aku akan membawanya, agar bisa berteman dengan Neisha," jawab Dilan membuat Amanda tersenyum mendengarnya.
__ADS_1