
Kesedihan, penyesalan dan kekecewaan menyelimuti Alan.
Dia berdiri di tepi jurang menatap langit malam sembari memegang sebuah foto di tangannya, sebuah foto pernikahan yang dialah sebagai pengantin pria di dalamnya.
"Kenapa aku bisa begitu bodoh? Jika semua itu tidak benar, kenapa semua bukti itu sangat jelas tentangmu, Nda? Kenapa aku tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan, kenapa aku tidak berusaha mencaritahu kebenarannya? Harusnya aku sadar jika keluargaku tidak pernah menyukaimu. Maafkan aku," ucapnya menatap foto yang berada di tangannya.
Terlihat jelas dari tatapan matanya jika ia di selimuti oleh kesedihan juga kerinduan pada pasangannya yang berada di dalam foto yang ada di tangannya tersebut.
Jari jemarinya bergerak mengusap lembut wajah seorang wanita yang tersenyum menggunakan gaun pengantin yang begitu cantik membalut tubuhnya. senyuman yang indah yang tidak akan mungkin bisa ia lupakan dari wanita yang pernah ada dan mungkin saja masih selalu ada di hatinya.
Angannya melayang pada kenangan saat di mana foto tersebut di ambil. Hari bahagia itu nyata dan pernah terjadi, hari yang begitu indah di mana ia berhasil menghalalkan pasangannya, wanita yang amat ia cintai meski tanpa restu kedua orang tuanya.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu." Kalimat yang dulu selalu Alan ucapkan untuk Manda juga menjadi cambukan untuk dirinya sendiri sebab Alan tidak membuktikan ucapannya, karena yang terjadi justru Alan menjadi orang yang paling menyakiti Manda.
"Maafkan aku, Nda. Maafkan aku yang sudah meragukan cintamu," ucapnya jatuh terduduk lemas di tepi jurang tersebut.
Seorang pengendara yang baru saja melintasi jalan tersebut, kembali mundur saat dia berpikir seseorang akan melakukan hal buruk.
Ya, orang itu berpikir Alan akan bunuh diri karena itu dia segera menghampiri Alan.
"Masalah tidak akan pernah selesai jika tidak diselesaikan," ucap orang itu mengalihkan perhatian Alan.
"Apa maksudmu?" tanya Alan kesal.
"Semua orang pasti punya masalah, tetapi tidak semua orang bisa menyelesaikannya. Namun, mencoba menyelesaikan masalah yang ada adalah sesuatu yang harus coba dilakukan. Jika kau punya masalah, cobalah untuk menyelesaikannya, bukan kabur darinya," ucap orang itu lagi.
__ADS_1
"Aku menyakiti istriku, aku menuduhnya melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia lakukan, aku menipunya, aku mengkhianatinya dan aku menghancurkan hidupnya," ucap Alan mengakui kesalahannya membuat orang yang mendengar itu perlahan mengerti masalah yang Alan hadapi.
"Pergi temui dia, minta maaf dan akui semua kesalahanmu," ucapnya.
"Dia tidak akan memaafkan ku, aku sudah sangat menyakitinya," jawab Alan.
"Kamu belum melakukannya, bagaimana kamu bisa tahu hasilnya. Cobalah untuk memperjuangkan dia jika kamu masih mencintainya," ucap orang itu lagi.
Sepuluh menit bercerita dengan orang yang tidak di kenal, Alan mendapatkan semangat untuk mengejar Amanda. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tahu alamat keluarga Johan, sebab Alan tahu Manda pasti berada di sana.
Tujuan Alan adalah kediaman Pramana. Setelah mencari tau keberadaan rumah keluarga Johan, akhirnya Alan menemukanya. Saat ini ia sudah berada di depan gerbang rumah besar tersebut, menunggu izin dari pemilik rumah untuk masuk ke sana.
"Siapa?" tanya Johan saat mereka yang berada di ruang keluarga baru saja akan membubarkan diri.
"Tidak, tahu, Tuan. Keadaan pria itu terlihat buruk," ucap pelayan.
"Biarkan dia masuk!" titah Johan.
"Jo, kamu yakin?" tanya Renata.
"Bagaimana jika Manda–"
"Ma, aku percaya pada istriku. Dia sudah berjanji padaku dan aku percaya dia tidak akan mengingkari janjinya," ucap Johan percaya pada hatinya.
Alan masuk ke dalam gerbang yang tinggi tersebut, memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia di sana sebagai lahan parkir, lalu keluar dari mobilnya, melangkah menuju pintu rumah mewah milik keluarga Johan.
__ADS_1
"Silahkan masuk, Tuan. Tuan Johan sudah menunggu Anda di dalam!" ucap pelayan mempersilahkan Alan masuk ke dalam rumah, menggiringnya menuju Johan yang duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Sepenjang kakinya melangkah, tatapan Alan mengarah ke sana kemari berharap dapat menemukan apa yang ia cari, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Amanda di sana, dan itu semakin membuat Alan menjadi gelisah.
Lewat tatapannya, Johan memerintahkan pelayan untuk ke atas, memastikan istri dan kedua anaknya tidak terusik akan kehadiran Alan yang mungkin saja akan membuat kehebohan di sana.
Renata yang mengerti maksud putranya, turut pergi dari sana dan Rizal pikir itu jauh lebih naik daripada istrinya yang justru meledak di sana.
Tatapan Johan kembali pada pria yang mempunyai kesan buruk di mata keluarganya itu, pria bodoh yang sudah menyia-nyiakan Manda.
"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Johan.
"Sebelumnya perkenalkan, Aku Alan, suami Amanda," ucap Alan memperkenalkan dirinya sebagai suami dari Amanda dan itu membuat Johan tertawa mendengarnya.
"Suami?" ucapnya bertanya pada Alan yang terlihat tak senang dengan cara Johan menatapnya.
"Ya, Aku suaminya," jawab Alan lantang yang ditanggapi dengan senyum mengejek dari Johan.
'Bukan suami, tapi mantan suami karena Amanda adalah istriku,' batin Johan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Aku benar suaminya," ucap Alan lagi merasa tersinggung dengan tatapan Johan.
"Suami seperti apa? Suami yang pura-pura meninggal dan mengikuti rencana keluargamu menipu Amanda? Suami yang meninggalkan istrinya lalu dengan mudahnya bertunangan dengan wanita lain? Suami yang tidak bisa melindungi sang istri dan tidak dapat percaya pada istri sendiri? Apa suami seperti itu yang kamu maksud?" tanya Johan pada Alan yang tak dapat menjawabnya karena semua yang Johan katakan benar adanya. Dia suami yang sangat buruk, suami yang begitu banyak melakukan kesalahan.
"Harusnya kamu bersyukur di berikan pendamping sebaik Amanda. Wanita yang mempunyai hati yang begitu lembut, wanita yang menjaga cintanya dengan sangat baik pada seorang pria sekalipun pria tersebut sudah di nyatakan meninggal dunia. Tapi kamu adalah pria yang bodoh, kamu lebih mempercayai keluargamu yang jelas-jelas kamu tau jika keluargamu tidak menyukai Amanda. Kamu tau bagaimana buruknya perlakuan keluargamu pada Manda, namun Amanda tidak pernah sekali pun membalasnya karena menghargai mu, namun kamu ternyata belum terlalu mengenal keluarga dan dia, kamu tidak dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang nikmati buah dari kebodohanmu," ucap Johan langsung memaki Alan.
"Aku akui aku bersalah, aku pria yang begitu bodoh, aku suami yang sangat buruk karena sudah menyakitinya. untuk itu aku datang kemari. Aku ingin meminta maaf pada Amanda, tolong beritahu aku di mana dia! Jika dia ada di sini, tolong izinkan aku bertemu dengannya," pinta Alan memperlihatkan wajah frustasinya.
__ADS_1
"Aku mohon!"